Status

Bersikap!

Tags

, , ,

Syahrul Mubarak 1435 H: Alhamdulillah, Allah sampaikan kita hingga detik-detik ini menikmati setiap limpahan berkah Ramadhan. Dan di bulan tarbiyah ini pula, Allah lengkapi dengan berbagai peristiwa, atas suatu kehendak bahwa Allah ingin menyaksikan sebaik-baik penghambaan kita.

Setidaknya bagi bangsa Indonesia, baru saja kemarin kita menunaikan salah satu kewajiban bernegara yakni memilih presiden untuk memimpin bangsa ini lima tahun ke depan. Belum lagi, godaan bola berputar yang sangat memikat, Piala Dunia 2014. Dan, ternyata Allah belum habis memberikan kita akan peringatan bahwa pentingnya negeri Palestina bagi umat muslim di seluruh dunia. Bukan dengan sia-sia Allah Swt. mengadakan berbagai peristiwa ini, melainkan ada maksud yang ingin Allah sampaikan.

Kini, sudahkah kita dapat menangkap sinyal-sinyal yang tak pernah bosan Allah  berikan untuk lagi-lagi mengetuk pintu hati hamba-hamba-Nya?

Ketika ada sebagian orang yang berkomentar, “Siapapun presidennya tidak akan pengaruh buat kita. Tunjangan PNS tetap tidak akan naik.” MIRIS. Benar-benar miris kata saya. Apa iya sih kalau ada presiden baru tapi yang kita perhatikan tetap kepentingan diri sendiri. Memang, hidup itu perlu makan dan kesejahteraan. Tapi hidup itu bukan hanya soal nafsu perut dan bawah perut, keleeees. -_-

SBY tunjuk dada

SBY tunjuk kepalaHati dan pikiran, bukankah keduanya juga perlu diasupi makanan? Karena ianya adalah pijar ruhiyah seorang manusia. Ketika hati dan pikiran manusia itu mati, maka tidaklah ada bedanya manusia hidup itu bagai seonggok bangkai saja yang masih lalu-lalang. Na’udzubillah min dzalik!

Pilpres 9 juli 2014 kemarin sebetulnya bukan hanya sekedar pertarungan ambisi dari dua orang anak bangsa. Pertarungan kemarin, jika kita mau tahu, sebetulnya adalah pertarungan antara kita yang cinta syariat Islam dan yang benci dengan syariat Islam. Pertarungan antara yang haq dan bathil seperti ini kok bisa-bisanya kita kecilkan demi nafsu perut semata. MIRIS!

Pun ketika hasilnya ternyata masih membelah rakyat Indonesia dalam dua kutub di belakang masing-masing calon yang tiap-tiap kubu memenangkan calon pilihannya, sehingga membuat kita pun yang mendukung salah satu pasangan calon ikut gemetar dan khawatir. Bukan sekedar khawatir kalau calon kita kalah, bukan! Calon yang kami pilih insya Allah adalah karena atas dasar kecintaan kita pada agama dan dakwah. Bagaimana bisa kita akan tenang-tenang saja saat ancaman terhadap kelangsungan dakwah di masa mendatang akan semakin besar bila calon yang kita tolak ternyata menang.

Lalu di beberapa forum diskusi yang sama-sama saling memanas dan menyulut kekhawatiran, ada sebagian yang berpikir khusnudzon saja. Toh kalau Allah menghendaki berbagai aliran sesat yang berada di belakang calon seberang musnah dari Indonesia itu mudah bagi Allah.

Ah iya betul! Nasihat itu seakan menjadi air dingin yang disiram pada tubuh kita yang kepanasan. Adem dan segar. Tidak ada yang membantah kalau kita kudu khuznudzon sama takdir Allah. Tapi sungguh hati ini lagi-lagi miris. Pada suasana yang mencekam seperti saat ini, khuznudzon itu adalah suatu barang yang wajib. Tapi bukan itu saja yang Allah mau. Bukan lantas kita pasrah dan ikut saja kemana takdir Allah berpihak.

Benar mudah sekali bagi Allah menjadikan semua makhluk-Nya beriman, tapi sejak dulu, sejak awal bumi ini diciptakan tidak pernah berlaku sunnatullah-Nya bahwa kita semua akan beriman. Padahal, sekali lagi, mudah bagi Allah menjadikan kita semua umat yang satu. Justru Allah menjadikan ada yang haq dan yang bathil karena sesungguhnya Allah Swt ingin melihat siapa yang golongan beramar ma’ruf wa nahiy munkar dan siapa orang-orang yang justru termakan fitnah.

Apapun hasilnya nanti, siapapun presiden kita nanti, memang itulah takdir Allah yang terbaik, dan kita wajib mengimani sekaligus berkhuznudzon terhadapnya. Namun jika memang benar takdir Allah justru memenangkan calon presiden yang di belakangnya adalah orang-orang yang bermulut menjijikan macam orang JIL, yang disokong penuh oleh orang-orang biadab yang selalu melecehkan Rasulullah, ummul mukminin, keluarganya, dan para sahabatnya macam orang SYIAH, yang dibiayai sempurna oleh orang-orang yang dalam dadanya sangat benci akan Islam macam orang-orang sekuler, sejatinya saat ini Allah Swt. ingin menampakkan wajah umat muslim Indonesia yang sebenarnya. Dimana kesunnian kita yang makin kronis dan makin kritis. Justru inilah yang ingin Allah bukakan untuk kita sebelum akhirnya terlambat dalam menyadari.

Seperti kaum muslimin Palestina yang tidak pernah meninggalkan khusnudzonnya pada Allah. Menghadapi kenyataan bahwa mereka lah orang-orang yang Allah muliakan semenjak lahir telah diberikan kesempatan untuk berada di garda terdepan mewakili seluruh umat muslim sedunia, menjaga warisan umat Masjidil Aqsa, kiblat pertama, dan bumi Syams yang kita semua yakini adalah tanah wakaf Khalifah Umar Al Faruq ini tak boleh sejengkal pun ditinggalkan. Namun kita tak pernah dengar mereka yang Allah besarkan di bumi syahid bersimbah darah itu pernah menyerah. Bahkan selangkah pun mereka tetap bergeming menjaga amanah ini.

Padahal mungkin mereka tahu, bahwa kebiadaban Israel tidak akan pernah berakhir sampai dunia yang fana ini juga berakhir. Karena Allah dan Rasul-Nya telah berulang kali memperingatkan akan datangnya tanda-tanda akhir zaman salah satunya adalah peperangan di bumi suci ini. Orang-orang Palestina ini yang membuat kita cemburu siang-malam tidak akan pernah kehabisan khuznudzon tapi mereka nyata-nyata tetap berani melawan dan memerangi Israel Laknatullah. Sesungguhnya karena di balik khuznudzonnya terhadap takdir Allah karena mereka ingin berlomba-lomba meraih kesempatan emas, syahadah. Mereka mencintai kematian sama seperti orang-orang Israel Laknatullah mencintai kehidupan. Sungguh mereka tidak pernah berhenti bergerak dan sangat menyadari peran pentingnya menjaga warisan umat.

 

Advertisements

Status

#FREEPALESTINE #SAVEGAZA #ISRAELBIADAB

Tags

, , ,

#FREEPALESTINE #SAVEGAZA #ISRAELBIADAB

Mau tahu Negara yang tidak punya malu, mencaplok dan mengklaim tanah air suatu bangsa? #FreePalestine

Mengaku-ngaku Negara modern, tapi sampai detik ini tingkahnya sangat biadab. #FreePalestine

Mereka bunuh semua: bapak, ibu, anak-anak. Mereka takut karena Gaza adalah gudangnya para huffadz (penghafal Al Quran) #FreePalestine

Mereka takut jika ISLAM bangkit karena sejatinya mereka tahu tidak akan pernah bisa mengalahkan kekuatan iman dan islam. #FreePalestine

Orang-orang bodoh bilang untuk apa bertahan di negerinya kalau setiap hari dibantai? Hei, Tahukah kamu? Kita, umat muslim, seluruh dunia seharusnya berterima kasih kepada bangsa Palestina? #FreePalestine

Mereka bertahan di sana karena membela kita semua, menjadi garda terdepan umat muslim. Apa yang mau kita jawab di hari akhirat nanti padahal Allah menitipkan masjid suci Al Aqsa dan kiblat pertama umat muslim di Palestina? Apa yang bisa kita jawab atas AMANAH harta seluruh kaum muslimin bahwa Negeri Palestina adalah TANAH WAKAF KHALIFAH UMAR AL FARUQ #FreePalestine

Tapi selama ini kita abai, pura-pura sibuk, tidak acuh sama sekali, masih menarik bola menggelinding direbutin, masih menarik gosip para artis, masih menarik film dan lagu baru. Astaghfirullah #FreePalestine

Buruan, cek internet kamu. Internet bukan cuma buat main games, ngetwit keluhan, nyetatus pamer. BANGUN!!! Masih untung kita ramadhan dengan nyaman walaupun kita masih sering menyia-nyiakan. ANAK-ANAK PALESTINA setiap hari sahur dan buka ditemani bom-bom Molotov Israel Laknatullah #FreePalestine

Udah GA ZAMAN: bilang MIKIRIN DALAM NEGERI AJA NGAPAIN JAUH-JAUH MIKIRIN PALESTINA!

SEKARANG, apa yang kita bisa? BANTU MEREKA SEMAMPU KITA, dengan DOA DAN SANTUNAN. MALU karena saat kita tsunami dan terhempas berbagai bencana, PALESTINA tidak pernah luput membantu kita meski kondisi mereka GAWAT DARURAT.

10 Hari Hafal Al Qur’an (Kisah Ukhti Ummu Zayid)

Masya Allah T.T

Fathma Alia

Sebuah kisah yang sangat menyentuh dan bisa memacu motivasi saya, kisah yang ditulis oleh  Ir. Amjad Qasim dalam bukunya Kaifa Tachfazh al Qur’an al Karim fii Syahr. Di sini saya tulis ulang dengan harapan dapat menambah motivasi dan kepasrahan diri kita kepada ALLOH dalam menghafal Al Qur’an… amiin… 🙂 Ini kisahnya…

AlhamduliLLAH, sesuai dengan kemuliaan dan keagungan kuasa-NYA, aku telah khatam menghafal Al Qur’an. Berikut ini pengalamanku, dan aku menghadiahkannya untuk kalian.

Ini adalah masa-masa indah yang berlalu dengan segala kisah yang ada di dalamnya. Dan, inilah mimpi yang m,enjadi kenyataan. Serta, memori yang selalu menghampiriku.

View original post 2,015 more words

Status

Ketika Kehidupanmu Tak Seindah Dakwah

Pernah ada beberapa orang bilang bahwa kehidupan di sekolah atau kampus adalah kehidupan yang semu. Realita kehidupan yang sesungguhnya adalah justru saat telah mentas dari dunia sekolah atau kampus tersebut. Yaitu saat kita menempuh karir, bekerja, atau berumah tangga. Mungkin mulai waktu itulah kita dituntut untuk bertanggung jawab kepada diri sendiri secara penuh. Bahkan mungkin bertanggung jawab pula untuk kehidupan orang lain.

Di sekolah atau kampus tersebut, kita yang mula-mula mengenal ngaji, tarbiyah, atau dakwah yang seolah-olah sangat memikat dan membuat jatuh hati. Kita mulai mengetahui lebih banyak akan pesona Islam, yang mungkin sebelumnya belum pernah kita gubris. Kemudian kita menjadi banyak larut pada candunya yang nikmat. Sangat nikmat. Bersama-sama kawan sebaya, kakak, dan adik kelas, kita seperti sedang mempunyai nafas perjuangan. Gerak yang senantiasa semangat seakan tak mengenal lelah. Meski ada pedih tapi kita bisa sangat menikmatinya.

Tetapi sang waktu memang tak bisa dibohongi. Ada kalanya kita mula-mula mengenal dan pasti ada kalanya akan diakhiri. Pertama kita akan menyaksikan para kakak kelas kita yang telah lulus, lalu tahun berikutnya adalah giliran kita yang akan menjemput takdirnya masing-masing. Kemudian satu tahun ke depan menyusul adik kelas dan begitu seterusnya.

Menjemput takdir masing-masing. Kita semua memang hidup dan menjalani kehidupan sesuai dengan garis tangan yang Allah tetapkan. Tiap-tiap kita lahir dari sebuah keluarga, melalui berbagai fase kehidupan yang pasti tak persis sama. Hingga pada suatu titik mungkin kita akan merasa sama-sama dengan yang lain, bisa saat sekolah atau kuliah di universitas yang sama. Lalu setelah lulus kita semua pun pasti akan kembali menempuh jalannya masing-masing lagi.

Ada yang langsung melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, ada yang memilih bekerja lebih dulu, ada yang mengisinya dengan menikah dan berumah tangga, atau mungkin ada yang sakit, meninggal, dsb. Tapi ada satu hal lagi yang tak boleh berbeda dan berubah pada satu sama lain bahwa kita sama-sama alumnus dakwah sekolah atau kampus.

Seperti gelar kesarjanaan, master, atau doktor yang kita raih setelah lulus dari kampus, maka sebutannya selalu kita sandang sepanjang hayat. Kecuali bila diri kita sendiri yang tidak mengakuinya. Pengaruhnya akan selalu kita bawa sampai melalui banyak tahap kehidupan di depan nanti. Begitu pula dengan alumnus dakwah. Jejak-jejak nikmat itu akan selalu ada dalam dada. Yang berbeda adalah seberapa kadarnya saat kita sudah lulus dan menempuh perjalanan hidup yang lebih rimba lagi. Masihkan jejak itu berkobar seperti saat-saat kita baru saja jatuh cinta padanya? Ataukah semakin lama semakin besar ghiroh dan semangat kita untuk ikut dalam perjuangannya? Ataukah justru semakin dilupakan seiring dengan berlalunya masa-masa semu yang ideal dulu?

Namun namanya juga kehidupan. Pasti tidak akan ada kesenangan abadi di dunia yang penuh ujian ini. Ibarat roda kata pepatah, selalu berputar ke atas dan ke bawah. Memasuki kehidupan masyarakat dengan apapun peranan kita, menjadi pekerja, usahawan, ibu rumah tangga, relawan, dll, masa inilah mulai tampak sedikit demi sedikit ujian hidup yang harus kita jalani. Kadang kehidupan memang mesti berjalan dengan tidak sesuai seperti keinginan atau impian.

Ada jalan yang sulit soal jodoh, ada sedikit sakit pada badan, ada payah karena pekerjaan, ada penantian buah hati yang belum berujung, ada rumah tangga yang terpisah-pisah dapurnya, ada bisnis yang gagal dirintis, ada lingkungan atau bi’ah yang tak kondusif, ada lelah dan bosan hatinya, ada kecewa akan fakta, atau ada perih dalam rumah tangga.

Ketika kehidupan yang sedang kita jalani sedang tidak seindah dan semanis dakwah, maka akankah kita masih bertahan dalam barisannya?

Kita pasti boleh beralasan pada Allah Swt. bahwa kita masih harus berikhtiar mendapatkan jodoh, bahwa kita masih konsentrasi atas bisnis yang lagi-lagi gagal, bahwa kita masih harus memperbaiki diri supaya Allah berikan amanah-Nya, bahwa kita masih harus membagi waktu dengan keluarga yang terpisah jarak, bahwa kita masih harus bertahan di lingkungan yang kering, bahwa kita masih sibuk bolak-balik berobat untuk sembuh, bahwa kita ingin sebentar atau sesaat berhenti dan beristirahat dari dakwah. Bahwa kita sudah bosan, penat, dan lelah memikirkan berbagai masalah yang harus dihadapi sekarang.

Kita masih boleh berkilah pada Allah Swt. sampai semua harapan, impian, cita-cita, dan segala kesulitan yang nyata menjadi terkabul, terwujud, dan tuntas. Mungkin Allah bisa memahami segala kesulitan kita tersebut. Tapi, masih siapkah kita sendiri untuk bertahan dalam dakwah? Sebuah perjuangan yang pernah kita kecap nikmat dan sedapnya.

Ketika kehidupan kita sendiri justru tak senikmat dakwah, akankah kita masih bisa menikmati manisnya dakwah?

 

Status

Situ Cewek?

Di Jawa, biasanya kita memanggil mbak bukan hanya untuk sebutan kakak perempuan saja. Penggunaannya sudah sangat meluas. Kita memanggil perempuan lain yang belum terlalu akrab dan baru kenal juga mbak, kita panggil pramusaji di toko atau restoran juga mbak, dan ART juga kita panggil mbak. Saya rasa panggilan mbak ini justru makin positif atau punya makna rasa yang baik. Kita panggil mbak dengan tujuan untuk menghormati. Kalau di Jakarta atau Bandung, mungkin sapaan lainnya adalah kakak dan teteh.

Bagaimana dengan Manado?

Mula-mula ada di sini saya sampai risih sekali karena di toko, jalan, restoran, orang-orang kok panggilnya ‘cewek’ untuk pramusaji dan SPG-nya. Ish di sini kok kurang ajar sekali karena para perempuan dipanggil cewek. Cewek di Jawa justru saya rasa mempunyai cita rasa negatif atau terkesan merendahkan. Misalkan si A itu ceweknya si B. Nah, negatif kan? ^^, karena mendingan mah disebut si C istrinya si D. :-p

Cewek di sini juga ternyata adalah sebutan bagi gadis, nona muda, dan belum menikah. Kalau sudah ibu-ibu biasanya tidak dipanggil cewek lagi. Saya dan mas Priyayi sangat sebal dan anti ikut-ikutan panggil cewek, kami memilih untuk tetap panggil mbak karena lebih enak dikeluarkan dari mulut dan hati. Nah pas suatu hari, di toko, saya lagi minta tolong mbak SPG nya tapi kok ga nyaut-nyaut. Saya fikir, apakah ini orang Manado juga keberatan kalau dipanggil mbak, justru mereka lebih suka dipanggil cewek seperti biasanya? Entah ya, memang lain kolam lain ikannya. Lalu saya ditegur *dimarahi  Mas Priyayi karena beliau sangat tidak suka saya ikutan panggil cewek. Huhuhu, padahal saya kan ga ada maksud buat panggil cewek ya, cuman lagi ga sabar aja mungkin, T.T

Kemudian di suatu hari malah saya lho yang dipanggil cewek dan ini terjadi di KANTOR!

Hei, emang tampang saya culun banget yah sampai dipanggil cewek? atau dikira anak PKL kali ya? atau orang kira saya ini masih imut-imut? atau saya dikira anak kecil numpang lewat aja di kantor ini? atau memang saya ini yang cantik dan awet muda? 😀 hahaha (abaikan saja asumsi yang terakhir ya)

Kalau sekali saya dipanggil begitu biasanya saya tegur saja dan jelaskan kalau saya pegawai di kantor trus saya jelaskan kalau saya dari Jawa dan tidak suka dipanggil cewek. Tapi kalau sudah berkali-kali? Namanya emosi juga yah 😛 terus dengan nyolotnya saya bilang “Apah? Ibu panggil saya cewek tadi? Ibu panggil saya ibu juga karena saya AR di sini,” (duh, nyolot banget) T.T

Wahai orang-orang Manado yang baik hati, saya ga suka dipanggil cewek yah, bukan gila hormat sih, tapi mosok di kantor dipanggil cewek, panggil aja saya ibu. Hihihi ^^,

PS: Mohon maaf yang sebesar-besarnya jika dari postingan ini justru ada yang sakit hati atau jadi berpikir negatif, perlu saya klarifikasi, hihihi, saya hanya ingin berbagi. Kalau ada hal yang negatif yang saya rasakan itu pasti tidak dapat digeneralisasikan ke semua orang yang ada di Manado juga yah. Banyak kok positifnya di sini. Sip! I Love Indonesia ❤

 

 

Status

Naik Oto atau Naik Motor?

Masih bersambung dengan cerita sebelumnya

Berarti sudah satu tahun juga saya jadi rider di kota ini. Mungkin karena keadaan lah yang memaksa saya harus tampil lebih mandiri, pulang pergi ke kantor naik motor sendiri. Dan belakangan ini saya banyak mengamati kenapa saingan rider saya selama ini kok bapak-bapak, mas-mas, om-om, opa-opa, dan jarang sekali saya menemukan yang memegang kemudi adalah mbak-mbak, ibu-ibu, tante-tante, apalagi oma-oma.

Atasan di kantor pun sangat kaget ketika pertama kali tahu saya naik motor. Padahal beliau asli dari Jawa. Bukankah kalau di Jawa itu sudah sangat jamak rider wanita ikut menyemut di jalan raya? Terus kenapa ya beliau mesti kaget pas tahu saya naik motor ke kantor?

Menurut hasil bacarlota di kantor dengan teman-teman yang tentunya bukan berasal dari Manado asli kami membicarakan kebiasaan para perempuan Manado. Memang saya amati ternyata kebanyakan perempuan asli Manado lebih banyak menggunakan moda transportasi angkutan umum daripada naik motor atau mobil sendiri. Beneran lho! Mereka yang berpenampilan sangat modis, pergi ke kantor dengan kemeja body fit dan rok pendek di atas lutut plus memakai sepatu highheel (tapi ini ga semua wanita Manado begini ya) pergi dan pulang menggunakan oto (angkot-bahasa Manado).

Hihihi, memang lain ladang lain belalang, lain di sini lain di sana. Yang saya rasakan sebelumnya di Jawa adalah ketika perempuan itu bisa naik motor, paling tidak itu terlihat lebih baik. Tapi kalau di sini justru berkebalikannya, yang pakai motor justru jarang banget. Mau bagaimana penampilan, jangan bayangkan ribetnya mereka pakai rok pendek dan ketat dengan highheel tapi kemana-mana naik oto yah. 😛

Dan, alasan paling logis yang saya baru ngeh setelah setahun ini adalah kontur wilayah Manado ini turun naik. Banyaaaak sekali bukitnya. Daerah perkantoran, bisnis, atau perumahan adalah hasil memotong gunung atau reklamasi laut. Seingat saya di Purwokerto saja hanya ada satu tanjakan yang lumayan curam yaitu jalan yang menuju Baturaden, kawasan wisata lereng gunung Slamet. Tapi kalau di sini, hampir setiap jalannya adalah perpaduan dari naik turun dan belokan tikungan. Nah, mungkin inilah yang menyebabkan perempuan Manado tidak terbiasa sejak kecilnya dengan fenomena perempuan naik motor sendiri. Tentu saja karena medannya yang cukup sulit.

Trus, saya bagaimana? *ga gimana gimana sih*, berkendaraan motor sampai saat ini merupakan opsi paling nyaman bagi saya. Pernah coba naik oto ke kantor juga tapi lama-lama mlipir sendiri. Kayaknya bagi saya sementara ini memang paling enak ya naik motor itu. Bismillah!

Oto di manado itu sebenarnya nyaman dari sisi tempat duduk karena dia tidak berposisi memanjang seperti angkot di Jawa. Di sini posisi jok nya persis seperti mobil jadi kan ga empet-empetan banget yah. Plus kelebihannya adalah full music (bagi yang suka!). Sayangnya tidak bagi saya, dentuman musik yang sangat keras baik musik disco, dangdut, lagu melayu, lagu minahasa, lagu pujian sangat memekakkan telinga dan mendebarkan jantung. Speakernya sendiri dipasang di hampir semua sisi dalam angkot tersebut. Belum lampu kelip kelip persis banget kayak lagi dugem begitu. Kita yang di luar angkot saja dari jarak kejauhan sudah sangat bising sekali bunyi angkot itu. -_-” Masalah fasilitas mah oto di sini ngalahin fasilitasnya mobil pribadi mungkin yah, bahkan ada yang dipasangi TV LCD juga. Mending cuma satu TV di dashboard kemudi, lah ini ada yang dua tiga dipasang di belakang juga. Fiyuuuuh…Ternyata modal jadi sopir angkot di sini lumayan yah, hihihi .

Status

Sekilas Manado

Tak terasa, telah setahun menikmati hawa pesisir dari kota Nyiur Melambai ini. Tak terasa? *boong* :-D. Berasa sebenarnya, sangat memorable, suka-duka, tangis dan tawa, panas dan hujan, dilewati bersama Mas Priyayi Muslim. Padahal tidak pernah menyangka sebelumnya jika saya ternyata akan melalui hari hari di luar Pulau Jawa. Bahkan akan melewati tahun-tahun pertama pernikahan di kota ini yang sangat jauh dari tempat asal muasal kami. Tapi insya Allah, inilah takdir terbaik-Nya.

Dulu, paling jauh membayangkan akan kuliah di Jogja, Purwokerto, atau Bandung. Tapi, Ibu tidak ingin anak putrinya jauh-jauh dari rumah. Pun ke Bandung tidak ada kereta api langsung dari Purwokerto. Jadi opsi berkuliah di Bandung resmi dicoret *semacam alasan yang cemen*. Akhirnya sempat satu bulan mampir kuliah di Jogja sebelum jadi mahasiswa sekolah kedinasan di Bintaro. Nah ini, Manado! Kota yang paling pucuk di Pulau Sulawesi. Naik pesawat direct dari Jakarta makan waktu tiga jam. Lebih jauh daripada kita melancong ke Malaysia atau Singapura.

Setahun lebih melewati siang dan malamnya di sini, boleh lah ya cerita-cerita sedikit. Sepanjang yang saya tahu saja dan mungkin akan sangat subjektif sesuai versi saya. Insya Allah sama sekali tidak ada maksud mendiskreditkan, menyinggung unsur SARA, atau merendahkan orang-orang Manado pada umumnya. Mungkin semata-mata dipandang dari kacamata saya yang aslinya beragama Islam dan bersuku Jawa yang harus ikut hidup di sini.

Manado adalah kota dengan penduduk mayoritas beragama Nasrani, lalu Katolik. Penduduk Muslim mungkin sekitar 30 % yang merupakan pendatang. Karena suku aslinya adalah suku Minahasa. Kalau di Jawa atau Indonesia pada umumnya kita mengenal ada berbagai macam tipe umat muslim, di Manado pun kita akan menyaksikan bahwa betapa banyaknya sekte atau aliran kristiani. Bahkan setiap aliran punya gereja masing-masing dan katanya haram kalau beribadah di gereja milik aliran lain. Alhamdulillah, kita umat muslim ga sampai begitu ya, kalau ada yang mengharamkan maka jelas-jelas itu yang sesat. Jadi tidak heran kalau sepanjang jalan berjejer-jejer gereja dengan tipenya masing-masing.

Punya tipe bahasa yang sepintas lebih mudah diikuti bila kita sudah satu bulanan lah di sini. Karena sebagian besar mirip bahasa Indonesia atau melayu. Tapi, kalau orang asli sudah ngomong, duh, kayak marah-marah. Nadanya keras dengan tempo yang cepat. Sebagiannya suka sekali bicara alias bacarlota. Hihihi. Tahu artinya bacarlota? ternyata ga banget deh awalnya, Hahaha! Konon, dulu ada telenovela judul Maria Marcedes atau Rosalinda atau Esmeralda *semacam apal (penggemar)* yang salah satu pemainnya bernama Carlotta. Katanya sih berperan sebagai ART dan sangat suka bergosip. Jadi dipakailah nama carlotta itu sebagai kata bergosip dan ditambah ba- yang artinya ber-. Ba-Carlotta. -_- Dan berhati-hatilah kalau sudah nyaman diajak bicara. Mungkin kita akan sangat sulit memutuskan rentetan cerita mereka. Hihihi.

Sisi positifnya, orang Manado itu hangat. Yang saya tahu mereka semua ramah. Walaupun kita lihat mereka bertato, berambut pirang, dan nggaya banget, tapi mereka baik. Di mata mereka sesuai dengan slogan yang diusung kota Manado, Torang Samua Basudara, artinya kita semua bersaudara, maka kita  akan diperlakukan baik oleh mereka. Jadi tidak heran kalau gaya hidup mereka itu berkumpul dan berpesta, bahkan untuk kematian anggota keluarga pun mereka mengadakan pesta kematian. Hufh, astaghfirullah *elus dada*.

Maka banyak-banyak toleransi lah kalau hampir setiap hari jalan menuju rumah kita ditutup. Karena eh karena ada rumah yang sedang berpesta ulang tahun. Besok lagi bisa saja rumah itu lagi yang berpesta. Ya iyalah ya, misalkan pekan ini adik pertama yang ulang tahun, pekan depannya ibunya, bulan depan bapaknya, dua bulan lagi neneknya. Dan bayangkan kalau dalam satu kompleks itu terdiri dari berpuluh-puluh kepala keluarga. Maka dalam sepekan bisa lebih dari tiga kali jalan ditutup. Ini juga belum dihitung dengan jadwal ibadah mereka dari rumah ke rumah. Maka akan pesta lagi pesta lagi. Sebenarnya mereka ini horang kayah banget yah? apa-apa pesta, sebentar-sebentar pesta. Kalau saya lihat sih sejatinya mereka berasal dari keluarga menengah saja seperti keluarga Indonesia kebanyakan, bukan semacam Pak Chairul Tanjung yang punya banyak perusahaan. Mungkin, lagi-lagi gaya hidup mereka yang memang semacam hedonisme atau bagaimana. Yang jelas, materi bagai yang pertama dan paling penting di sini.

Inilah mengapa orang Manado itu dikenal cantik-cantik. Entah masih muda atau sudah tua, entah dari status sosial apapun, para wanitanya mau bersolek dan berpenampilan sangat modis. Bahkan cenderung terbuka di samping kulit asli suku Minahasa memang putih. Mungkin karena asal-usulnya adalah orang Melayu Cina zaman Deutero Melayu bercampur dengan ras Portugis atau Spanyol. Mungkin lho ya *sotoy*.

Terus, yang tidak kalah menarik perhatian kita orang muslim adalah keberadaan ba- bi-. Hihihi, iya hewan haram yang tidak boleh kita makan di sini mah buanyak sekali. Awal-awal di sini mungkin kita akan terperangah karena di jalan jalan ini kok banyak gambar babi dengan sajian babi guling, babi putar, babi toreh, mie babi, dsb. Di swalayan baik menengah atau besar pun terpampang nyata berbagai macam irisan daging babi mulai dari kepalanya, buntutnya, dll, disediakan pada satu stan khusus.

Banyak-banyak bernapas panjang dan mengelus dada. Banyak doa juga semoga kita dijauhkan dari segala yang syubhat apalagi haram di sini. Bagaimanapun, kami ada di sini sekarang. Hanya doa semoga keberkahan ini senantiasa tercurah bagi kami dan seluruh keluarga muslim di tengah-tengah hiruk pikuk fitnah dunia di sini.

Dan, andai saja Manado ini berpenduduk mayoritas muslim, maka benarlah akan menjadi sebenar-benar kota yang cantik nan indah permai. Bukan mustahil insya Allah karena Allah menjanjikan kemenangan sekali lagi bagi kita. Mungkin, salah satunya adalah di sini yang akan termasuk disinari cahaya-Nya yang terang benderang. Allahumma aamiin.

Hehehe, tapi secantik-cantiknya Manado, insya Allah kami masih selalu berharap mempunyai mukim di Pulau Jawa gemah ripah loh jinawi. :-D. Yah, namanya juga tanah air yah ^^. Wallahu a’lam.

 

 

 

Empat kali

Hampir setengah tahun berselang dari postingan “Mari Belajar” dan ternyata sore ini saya harus terlunta lunta lagi di pinggir jalan menunggu abang tambal ban memoles ban motor saya yang bocor. Aaaaaaak, jadi ini sudah keempat kalinya lho dan padahal belum ada setahun si Kuning itu saya asuh. T.T

Ada ga sih yang kayak saya? Segitu seringnya tambal ban motor. Jadi ini salah siapa kalo sering banget gini. Jangan-jangan salah cucian yang masih bergumbul di mesin. Atau jangan-jangan salah motornya sendiri yang sudah sebulan lebih belum diservis. Hihihi…

Ah sudahlah, mari nikmati sore di Manado sehabis hujan. Dan saya masih berdiri saja dari tadi seperti terkucil di pinggir jalan. Takut anjingnya keluar, Saudara! Ada dua anjing hitam di tukang tambal ban ini. Pfffffffft….

Status

Meski indah, tak mudah dijalani.

Imo, menikah dan hidup berumah tangga itu indah dan menakjubkan. Meski, tidak selalu mudah dijalani. Kayanya sudah sering yah saya bilang itu. *biarin 😛

Bagi saya sendiri, salah satu yang tidak mudah tersebut adalah menunggu suami tercinta pulang dari kantor. Perjalanan yang jauh dan melewati beberapa titik kemacetan membuat mas Priyayi Muslim seringnya menunda untuk pulang ontime. Katanya memilih agar kemacetan sedikit terurai jadi lebih lancar. Tidak jarang juga hujan turun mengguyur kawasan dekat pantai timur ujung Sulawesi Utara itu. Ini membuat mas Priyayi Muslim akan lebih malam sampai ke rumah kontrakan kami. 🙂

Menjelang pukul 17.00 WITA biasanya saya akan menchat beliau, jam berapa akan pulang. Penting sekali bagi saya untuk mempersiapkan mood supaya tidak jadi gelisah berlebihan sampai tidak jadi masak, beres-beres, dan lain-lain. Menunggu suami pulang kalau tanpa hati yang lapang bisa-bisa merusak good mood itu karena perasaan sudah sangat menunggu-nunggu ternyata waktu terasa makin lama saja. Kalau mas Priyayi Muslim sudah mengabarkan dahulu jam berapa pulangnya saya merasa lebih siap melewati petang. 😀

Allahu Rabbiy, sudah hampir tiga tahun kami menikah kok saya masih suka mood-moodan gini yah. -_- Biasanya kalau mood sudah tidak berada dalam jalur yang tenang saya akan sangat gelisah, cemas, dan bawaannya berdoa terus dalam hati. Hihihi, bukannya bagus ya banyak berdoa? Inilah yang tidak mudah, dimana saat sang istri begini bisa jadi macam-macam lintasan pikiran yang timbul. Entah itu kangen mendadak, pingin dipeluk, khawatir atas keadaan, bahkan pikiran-pikiran buruk. Mas Priyayi Muslim sudah sering mengingatkan kalau saya harus belajar selalu dan senantiasa bertutur kata yang baik. Tidak boleh sama sekali ada terlompat ucapan yang buruk karena bisa jadi didengar malaikat dan menjadi doa. Na’udzubulillah! Jujur tidak mudah bagi orang macam dan tipe saya ini untuk selalu wise, calm, and positive thingking. Nah, inilah salah satu poin yang tidak mudah dalam pernikahan khususnya bagi saya.

Dan, ketika suara mesin motornya memecah kesunyian hatiku, sekejap kilat saya langsung menyamber jilbab untuk membukakan pintu gerbang dan tersenyum malu-malu menyambutnya. Ups! 😛 Alhamdulillah wa Allahu Akbar! Biasanya kalau sudah masuk rumah langsung saya peluk orang itu. Hahaha! Sungguh saya kangen banget sama beliau.

Sekali lagi, kehidupan pernikahan itu indah, tapi tidak selalu gampang dilalui. Hihihi. 🙂

Satu lagi kejadian yang tidak mudah seperti semalam, pas mas Priyayi Muslim tanya dimana struk tagihan listrik bulan lalu yang belum kami bayar. Saya merasa sudah memberikan padanya tapi beliau bilang menaruhnya di atas box hijau. Hanya kaget dan bengong karena saya merasa tidak sama sekali tahu kalau mas taruh disana. Mas bilang dengan tegas kalau beliau taruh di atas box itu. Dan, kalau bukan beliau yang memindahkan barang di rumah kami, siapa lagi coba yang mau pindahkan selain saya? Tiba-tiba saja saya terserang perasaan seperti dituduh oleh suami sendiri. Lalu tiba-tiba juga bakat alami saya untuk memhiperbola keadaan muncul di saat yang tepat. Saya merasa harus mencarinya karena bertanggung jawab atas kerapihan rumah. Beberapa tempat sampah dalam rumah saya kais lagi tapi hasilnya nihil.

Hufh,  perasaan sangat bersalah langsung menyergap dan berubah menjadi “Duh, mas ini udah kutunggu lama-lama terus datang malah menuduh sayah” T.T

Betapa lebaynya saya tadi malam tapi sungguh tulus sekali tiba-tiba banyak air mata bercucuran sambil saya cari lagi potongan kertas kecil itu. Mas Priyayi Muslim yang tahu saya menangis malah kaget dan geli karena beliau pastinya tidak sama sekali bermaksud memojokkan istri tercintanya ini. Hahaha…:-D.  Dengan tenang mas Priyayi Muslim akhirnya juga membantu cari struk itu dan ternyata beneran ada lho barang itu tertumbuk di tempat sampah yang saya kais-kais tadi.

Yang jelas, hanya tekad diri ini untuk tidak sama sekali membuatnya kecewa. Tapi seringnya malah memanaje itikad baik itulah yang tidak selalu mudah dilakukan.

Teruntuk Suamiku tercinta

yang semalam bolak-balik menjinjing beberapa ember dari tetangga depan rumah

meski sudah sangat lelah fisik dan psikis menghadapi istri yang cengeng ini

demi adanya ketersediaan air bagi kita karena pompa air rusak

berucap mau masak nasi karena istrinya belum masak nasi sebab air habis

sambil mengusap beberapa bulir air mata, aku meleleh

karena cintamu pada Rabb-Mu yang menjadikanku istri terbaik bagimu.

Alhamdulillah. Terima kasih.

Sambil berbisik saya katakan padanya, “Mas, kalau saja Allah dan Rasul-Nya mengizinkan manusia untuk bersujud pada manusia lainnya, aku pasti akan bersujud padamu, Mas!” 🙂

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya dibolehkan sujud sesama manusia, maka aku akan perintahkan istri bersujud kepada suaminya. (Tirmidzi)