Masih soal bagaimana Allah selalu dengan hangat mengingatkan kita tentang pembagian rezeki. 

Malam itu, saya berencana memasak sayur bening bayam dan telur dadar. Sore sepulang kantor mindset memasak harus sudah ditanam. Kalau tidak, sehabis maghrib malah biasanya saya malas malasan saja meluruskan pinggang dan mendiamkan mulut setelah seharian melayani konsultasi para tamu. 

Dua tungku kompor harus dimanfaatkan betul supaya memasak menjadi efisien dan efektif. Cepat matang dan tidak terlalu larut makan malam. Agaknya, kebiasaan “sruduk sruduk” saya masih betah menjadi salah satu profil diri. Sambil ini sambil itu, singkat cerita, telur dadar yang sudah saya kocok kesenggol lengan sendiri. Dan terjadi dua kali sehingga yang tumpah akhirnya semua isi dari mangkok. Saya hanya melongo melihat mangkok yang berguling karena lutut malah melemas. Hufh, lagi lagi karena saya yang sruduk sruduk. 

Akhirnya saya memasak tempe goreng sebagai menu pendamping sayur bening. Padahal kemarin malamnya sudah tempe goreng. 

Tak berselang lama setelah beres, Mas pulang dari kantor. Saya hidangkan makan malam sambil bercerita kalau sebenarnya malam ini ingin sekali makan telur dadar. 

Rezeki malam itu, Allah telah mengaturnya jauh sebelum kita sendiri lahir ke dunia. Rezeki makan apa kita malam hari itu. Dan rezeki rezeki lainnya. 

Advertisements