Sampai sekarang, saya masih bingung mendefinisikan preferensi selera Mas Priyayi Muslim. Mula-mula, saya menganggap dia adalah orang yang gampangan, Mau dimasakin apa saja tidak masalah. Tidak pilih pilih menu yang mau dan bisa dimakan. Tetapi, lama-lama takjub juga karena beliau lebih peka soal rasa dan bumbu daripada saya. Kalau saya masak sendiri, tahu saja hasilnya kurang ini, kelebihan itu. Apalagi kalau lagi iseng kulineran di luar rumah, langsung bisa saja gitu memberi komentar soal rasanya. Hmmm.

Karena sedari kecil telah dididik oleh ibunda yang selalu memberikan saya doktrin positif, “Apa saja, asal sudah masuk wajan, hasilnya tetap enak!”, maka prinsip itu tetap saya pegang sampai sekarang dan mempraktikkannya sehari-hari untuk suami. Apalagi masih di usia-usia newly wed begini (hah? newly? :P), seringnya saya termotivasi untuk mencoba resep-resep baru. Niatnya tentu saja untuk menyenangkan Mas Priyayi. Selain itu, untuk ganti-ganti menu juga supaya lebih variatif.

Sebenarnya tidak banyak juga resep yang sudah saya coba, tapi lumayan lah sudah meliputi berbagai olahan, mulai daging sapi dibuat macam-macam, ikan darat dan laut, pasta dan mie, roti dan kue kukusan, ayam, tumisan, kuah santan, dll, dan insya Allah semua diolah memakai resep ala homemade. Berbekal prinsip tadi, saya pede saja begitu mau masak macam-macam, apalagi saya merasa mempunyai tangan dengan kekuatan ajaib. Maksudnya? Hehe, meskipun saya sebelumnya tidak rutin memasak sendiri tapi saya yakin sekali bahwa kalau saya masak pasti hasilnya enak.๐Ÿ˜€ Mungkin, lagi-lagi efek doktrin dari ibunda, saya jadi mempunyai prinsip satu lagi soal makanan, yaitu makanan itu hanya ada dua: enak dan enak banget.

Hari demi hari berlalu, hingga suatu saat Mas Priyayi Muslim meminta saya dengan jujur, “Besok lagi, masak sop saja, setiap hari sop juga tidak apa-apa!” Hah? Maksudnya bagaimana ini? Saya yang sudah mulai terbiasa memasak berbagai macam masakan kok sekarang diminta masak sop saja? Apa artinya setelah sekian lama, akhirnya Mas Priyayi Muslim mengatakan yang sejujurnya? Tapi dulu beliau bilang masakan saya enak bahkan ada yang enak banget lho.

Jadi, apa arti dari semua ini? Hufh….

Mas Priyayi memang pada dasarnya karena sayang sama saya dan beliau inginnya tidak menyusahkan saya yang pada akhirnya sering kebingungan masak apa. Hehehe. Apalagi menyiapkan bahan-bahannya, apalagi kalau masaknya perlu waktu yang cukup lama, seperti rendang atau ayam betutu. Beliau bilang lebih menikmati masakan-masakan yang biasa saja alias tidak perlu masak makanan yang berbumbu komplit.

Nah! Bingung kan jadinya? Sebenarnya Mas Priyayi ini orangnya gampangan atau malah susahan ya?๐Ÿ˜€ Baiklah, saya akhirnya menyesuaikan saja. Kalau dulu, belanja mingguan paling tidak ada empat macam sayuran yang berbeda, sekarang mah lebih gampang. Saya hanya membeli bahan bahan sop saja, macam wortel, seledri, daun bawang, brokoli, bunga kol, sawi putih, sawi hijau, jagung manis, tetelan ayam atau sapi, bakso, sosis, kentang, makaroni, dan kubis. Jadi, menu hari senin biasanya sop wortel+kentang+brokoli, hari selasa: sop wortel+ayam+bunga kol, rabu: sop wortel: sawi putih+sawi hijau, makaroni, hari kamis: sisanya yang belum diolah, hari jumat dst variasinya dibolak-balik aja. Hahaha.

Jadi gimana? Ternyata gampang juga ya jadi saya, pokoknya mah tinggal sedia bahan sop dan setiap hari masaknya ya sop saja. Ehm, enggak setiap hari juga sih sebenarnya. Hehehe๐Ÿ˜›

Okelah, keep learning to be great wife! ^^