Kalau tidak salah ingat, pertama kali saya buat blog dan beneran nulis itu sekitar tahun 2007. Saat itu, mengekor saja pada kakak-kakak tingkat yang sudah duluan eksis di laman Multiply. Hingga sampai sekitar tahun 2012, ketika Multiply merencanakan untuk menutup jurnal blognya selamanya, ternyata jumlah postingan saya lumayan juga,😀. Tapi, mungkin tidak semua isinya sarat makna dan penuh hikmah. Kebanyakan sekadar coretan curahan hati.

Sampai akhirnya akun saya juga ikutan nangkring di laman wordpress ini karena resmi digusur oleh Multiply. Mentas dari dunia kampus sampai sekarang, ternyata perkembangan dunia blog makin mengganas. Hehehe. Tapi, sayangnya tidak diimbangi dengan langkah keeksisan saya yang justru makin memudar. *halah

Di media sosial seperti Facebook pun, banyak sekali bertaburan grup-grup penulisan, grup-grup blogger, sampai ada komunitas yang menamakan emak-emak blogger, dll. Saya tercatat masuk sebagai anggotanya. Namun lagi-lagi bakat eksis saya belum bisa tercurahkan juga.

Keberadaan komunitas semacam emak blogger, blogger married, blogger profesional, traveller blogger memang suatu keniscayaan. Zaman seperti dewasa ini memang sangat memungkinkan kita untuk mempunyai suatu ruang jelajah pribadi sebagai bentuk ekspresi diri. Bahkan orang membuat blog dan menuliskan apapun disana juga macam-macam niat dan tujuannya. Tiap-tiap blogger mempunyai maksud dan gayanya masing-masing dalam menulis jurnalnya.

Bagi saya pribadi, blog ini adalah sebagai suatu sarana juga untuk menuliskan apa-apa yang memang mau ditulis (alasan apah inih). Pengennya sih, apa yang saya tulis juga bisa bermanfaat bagi yang kebetulan mampir membacanya. Lalu tipe blogger macam apakah saya ini?

Hehe, sebetulnya saya sendiri juga ragu, pantaskah saya juga disebut blogger? Ya alasannya karena pasti saya bukan orang yang punya komitmen tinggi untuk selalu rutin menulis minimal sepekan sekali. Ketahuan kan yah? bulan Oktober lalu saja tidak ada sama sekali entry jurnal nya kan? Nah Lhoo! ^^

Oya, setiap orang juga punya style masing-masing dalam menulis, apa yang ditulis, dan kecenderungan tema-tema yang ditulis. Dan, dengan makin maraknya dunia blogging ini jadi makin variatif blog-blog orang. Sepertinya saya harus mengaku, bahwa saya adalah tipe blogger yang memang suka blogwalking tapi bener-bener silent reader. Sekalipun saya tidak pernah menampakkan jati diri saya dan ikutan berkomentar dalam beberapa blog yang sering saya kunjungi. Alasannya yang paling logis ya itu tadi, saya enggak kuat buat eksis,😀. Mungkin hanya benar-benar blog teman dan saudari yang saya ikutan komentar untuk tetap menjaga silaturahmi.

Blogwalking bagi sebagian blogger adalah keharusan (katanya), apalagi yang sudah masuk ke komunitas. Istilahnya buat saling berkunjung dan apresiasi begitu. Ada juga yang biasa-biasa saja, ada juga yang malas, dan ada juga yang anti blogwalking. Sekali lagi, suka-suka orang lah yah mau ngapain di dunia maya, asalkan tetap bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.

Semakin hari saya juga semakin suka blogwalking, apalagi ke blog-blog orang yang secara natural bahasanya enak sekali untuk dibaca. Ringan, sederhana, apalagi bisa lucu gitu. Saya benar-benar amazing! Karena saya sendiri sedari dulu mempunyai kelemahan dalam menulis: yaitu banyak bunga-bunga, terkesan serius, dan tidak efektif. Itulah, akhir-akhir ini saya juga latihan nulis yang gurih, crunchy, dan renyah begitu. Bagaimanapun, sebagai blogger amatiran begini saya masih punya cita-cita dan tekad kuat untuk bikin buku. Bukan sama sekali ingin mengubah style dan gaya menulis saya yang sudah dari sononya begitu, tapi kalau memang menjadikan karya-karya saya nantinya lebih mudah ditangkap, dicerna, dan dimaknai oleh pembaca, meskipun menyampaikan tema yang serius dan itu baik ya enggak apa-apa lah saya latihan. Apalagi kalau mas Priyayi Muslim juga sudah sering sekali mengingatkan saya kalau tulisan saya tidak enak dibaca. Hufh! Jleb! OKE!

Blogwalking yang saya lakukan benar-benar bertujuan untuk menghibur saya. Membaca kisah sehari-hari orang-orang di dalamnya, mengenal satu persatu kebiasaannya, anggota keluarganya, aktivitasnya, suka dukanya, dan perubahannya membuat jati diri saya juga semakin humanis. Walaupun tidak dipungkiri, terkadang coretan mereka juga ada yang mengganggu saya secara pribadi. Mungkin itu hanya perasaan yang timbul pada hati seorang manusia biasa yang lemah. Seperti menimbulkan iri, cemburu, sebel, dsb. Tapi, sebisa mungkin saya manaje lagi karena tentu saja bukan salah mereka menuliskan kisah-kisahnya. Salah saya juga yang masih mengikuti blognya. Hahaha.😀

Tulisan-tulisan saya pun, tidak mungkin lepas juga sebagai sumber konflik batin dalam diri pembaca. Saya mohon maaf setulusnya yah kalau ada hal-hal yang membuat tidak berkenan. ^^

Oke, pada akhirnya saya harus menejelaskan maksud dari tulisan sepanjang ini (jadi sebelumnya hanya pengantar yah, hehehe). Baiklah, sekali lagi saya benar-benar tidak ingin mengganggu kebebasan semua blogger dalam mengekspresikan diri dalam tulisannya. Saya juga sebenarnya bisa mengabaikan saja. Namun, ada kalanya saya merasa sedih sendiri dan merutuki diri sendiri. Ada beberapa postingan dari beberapa blog saat mereka bercerita tentang kehidupan rumah tangga dan keluarganya, ada semacam kata keterangan seperti di atas atau sejenisnya ->> Istri D*rh*k*

Saya sedih, kalau bisa berkomentar dan mengirim pesan kepada ybs, tapi apa daya, saya akui saya benar-benar sungkan untuk ikut berkomentar. Menulis dua kata itu atau semacamnya, saya yakin dari hati yang paling dalam si penulis hanya sekadar bercanda. Gurauan untuk menguatkan isi tulisan. Atau kata-kata sebagai keterangan menambah jelasnya situasi. Namun, menurut saya, marilah kita jangan menulis seperti itu lagi. Apa kata suami kalau dia membacanya? Mungkin suami juga tahu itu hanya sekadar kelakar yang tak perlu dibesar-besarkan.

Tapi, apa yang kita tulis, di dunia maya seperti ini akan dibaca banyak orang. Lebih lama juga dalam menyimpan memori. Terlebih, apalagi kalau sampai bercandaan semacam ini menjadi semacam kata-kata ajaib yang mungkin suatu kala dapat dikabulkan oleh Yang Maha Mengabulkan. Na’udzubillah min dzalik. Apalagi, sampai menyandang suatu kata-kata yang maksudnya sekadar gurauan tersebut tapi besar sekali sebenarnya maknanya. Istri durhaka! Suatu keadaan yang benar-benar harus kita jauhi dan camkan baik-baik bagi sesiapapun wanita untuk jangan sampai menjadi istri durhaka. Istri yang banyak ngomel saja mungkin sudah sangat menyusahkan suami. Apalagi menjadi istri durhaka baginya.

Masih mendingan kita menulis *istri shalihah, dsb. Karena ini memberi semacam stimulasi dan bisa menjadi doa juga agar kita senantiasa berupaya dalam meningkatkan kualitas status keistrian kita. Karena, sedikit saja ridho suami bagi kita, adalah selangkah pintu surga makin terbuka untuk kita masuki. Marilah kita berlomba-lomba untuk seluas-luasnya membuka pintu surga melalui ridho suami masing-masing yang sebesar-besarnmya.

Okey, Moms! Keep Blogging, yeah! Bagaimanapun saya tetap blogwalking padamu ^^