“Persis sejak hari itu, aku mulai menyadari bahwa hidupku akan berubah.”

Teringat suatu hari di tengah siang bolong, saat aku masih berkutat dengan prosesi penyambutan mahasiswa baru kampus kami, tetiba ada kabar sangat mendadak bahwa engkau berniat menikahiku.

Tak ada hujan, hanya angin dan terik matahari yang sangat menyengat, kemudian aku dengan polos bertanya mengapa harus diri ini yang ternyata menjadi calon istrimu. Bukankah ada banyak perempuan lain yang lebih baik, lebih cantik, dan lebih serasi denganmu?

Hari ke hari, menjadi semakin nyata dan menyadari hidupku benar-benar mulai berubah.

Hingga sampai hari ini,

kadang perubahan itu membuatku menjadi ‘gila’ karena tak lekas beradaptasi dengan semua prinsip, sikap, tingkah, dan lakumu. Hingga hari ini, selalu merasa belum genap mengenalmu.

kadang perubahan itu membuat saya sangat bersedih. Tak sedikit air mata yang terkuras. Bukan karena engkau sebenarnya, melainkan karena semata diri ini yang mempunyai simpanan air mata yang sangat banyak.

kadang perubahan itu membuat saya linglung, bingung, dan murung. Harus bagaimana lagi saya bersikap agar selalu membuat mu bahagia.

Namun, sejak hari itu juga, setelah menyadari bahwa hidupku akan berubah dan memang benarlah hidupku telah berubah. Menjalani proses pra pernikahan yang pertama, dan satu-satunya (insya Allah) bersamamu, membuat diri ini dituntut lebih banyak belajar. Lebih banyak insyaf, bukan hanya soal cari ilmu, tapi jauh lebih besar, mengamalkan ilmu.

Beginilah akidah telah menuntunku, beginilah tarbiyah selalu memelukku, dan akhirnya  mengantarkan ku untuk utuh menerima pinanganmu setelah proses yang panjang. Allah Yaa Lathif, Rabbku yang berkenan…

Hingga sampai hari ini,

Justru, sangat sering perubahan itu membuatku merasa menjadi orang yang paling bahagia dan terharu di dunia ini. Bukan karena engkau yang selalu berusaha tampil menjadi suami  paripurna, melainkan karena engkau yang karena Allah sangat tulus mencintaiku, menghormatiku, dan bahkan mendoakanku. Sampai suatu malam, kudengar engkau berbisik di telingaku “Semoga Allah meridhoimu, istriku.” Hanya seukir senyum yang mampu kubalas untuk menyembunyikan air mata yang sudah tumpah ruah di dalam hati.

Allah, Yaa Lathif,

Aku memang lebih banyak menangis setelah siang hari yang panas itu hingga sampai hari ini menjalani pernikahan. Bukan hanya karena air mata sedih, marah, kecewa, atau mengeluh, melainkan karena air mata yang kuharapkan setiap tetesannya di pipi menjadi saksi bahwa aku senantiasa ikhtiar untuk bersyukur sekaligus bersabar bersamamu merangkak, berjalan, dan berlari menggapai jannah dan ridho-Nya. aamiin…

Terimakasih buat engkau yang semalam sangat khawatir menunggu kepulanganku ke rumah. Karena tak biasa aku tak ada di rumah saat kau pulang.

Terima kasih buat engkau yang semalam menelepon teman-teman kantorku karena tak kunjung mendapat kabar dariku.

Terima kasih buat engkau yang semalam masih mematung di depan pagar dalam kondisi gelap gulita hanya karena menungguku.

Hamdan wa syukron Lillah!

Aku, istrimu yang sangat berterima kasih.

(Manado, 10 September 2014)