Tags

, , , , , , ,

Telah jamak pada kehidupan bumi ini, bahwa ada tiga godaan terbesar dunia bagi seorang laki-laki. Yakni: harta, tahta, dan wanita. Tapi bagi seorang perempuan godaannya cukup satu, tapi satu ini justru dapat menjadikannya perempuan yang malang di dunia maupun di akhirat. Yakni: mulut.

Dengan mulut, sesama perempuan bisa saling memfitnah. Dengan mulut, sebagian perempuan melupakan bersukur, sebagian lain melebihkan keluh kesahnya.

Dengan mulut, sesama perempuan saling menyulut iri, hasad, dan dengki. Dengan mulut, sesama perempuan dengan mudahnya mengumbar nikmat, tapi bagi sebagian lain justru mengingatkan akan luka hatinya yang semakin menganga.

Dengan mulut, seorang perempuan merasa semakin menikmati penderitaannya. Dengan mulut, semakin besar dia merasa semakin terpojok dan merasa menjadi pihak yang paling terkorban.

Maka, dengan mulutnya sendiri, seorang istri bisa merasakan kesedihan yang paling membuatnya menderita di dalam rumah tangganya. Mungkin bukan karena kepedihan akibat pengkhiantan cinta sang suami. Bukan karena suaminya nyata-nyata berselingkuh dengan perempuan lain. Tapi, saat yang paling menderita bagi seorang istri, yakni pada saat dia dengan sangat sadar atau tidak sadar menyakiti hati suaminya.

Maka, dengan mulutnya yang mempunyai lidah tak bertulang, seorang istri harus bisa melompati dari satu titik ujian ke titik ujian lainnya. Atau malah, mulutnya itulah yang menjadi ujian terbesar bagi seorang istri.

Tak jarang, dalam kehidupan rumah tangga antara suami dan istri pasti ada saja hal-hal yang bersinggungan, yang mana saat hati keduanya dalam kondisi kurang lapang justru dapat menjadi pemicu persitegangan. Apapun itu, meski hal-hal yang sepele. Hal ini, sejatinya dapat dimaklumi. Namanya rumah tangga, isinya minimal dua individu berbeda, yang satu datang dari satu keluarga sedangkan yang lain besar dari keluarga yang lain. Dan seorang istri, seorang perempuan yang diciptakan teramat mudah berkata-kata bahkan cenderung lebih banyak bicara daripada laki-laki, mejaga lisan adalah  ujian tersendiri baginya.

Terkadang kita lupa daratan, segala yang tidak sejalan dengan hati, menjadikan kita lebih banyak bicara terhadap suami, Bahkan semakin banyak bicara, semakin terasa penderitaannya membuat mata dan hati kita tertutup bahwa suami yang entah suka atau tidak suka mendengarnya, ada goresan hati yang terluka. Mungkin, baginya, ia sakit hati bukan hanya karena harga dirinya sebagai seorang kepala keluarga sedang dikuliti istri sendiri, tapi juga minimal ia sakit hati mengapa sampai hati istrinya ini terlalu banyak bicara.

Allahu a’lam, pepatah bijak mengatakan luka di kulit kasat mata, tapi luka di hati, siapa yang mengira.

Maka shahih baginda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, yang bertutur,

“Istri-istri kalian akan menjadi penghuni surga yang sangat mencintai, yang jika dia disakiti dan menyakiti maka dia segera datang kepada suaminya, dia letakkan tangannya di atas telapak tangan suaminya, seraya berucap, “Saya tidak dapat tidur sampai engkau meridhaiku.”

(HR. Thabrani).

Sungguh, benarlah penderitaan besar bagi seorang istri adalah bila ia sampai menyakiti hati suaminya. Dengan mulutnya yang hanya satu tapi dapat menjadi ujian terbesar bagi dirinya bila sering tak dijaga. Dengan mulutnya yang tak pandai berkicau dan sering lebih banyak bicara seharusnya seorang istri lebih memilih tidak tidur hingga sang suami meridhoinya kembali.