Namanya Dewi. Usianya sudah tidak lagi muda, kira kira sebaya dengan tante saya, 40 tahunan. Anak pertamanya, seorang bujang, yang usianya lebih tua dari adik saya, sekitar 22 tahun. Namanya menjadi tidak asing lagi bagi kami setelah suatu malam Ibu memancing pertanyaan terkait dengannya. Mumpung ada saudara-saudara lain yang sedang berkumpul lebaran kali ini.

Mulanya, Ibu bertanya tentang solusi bagaimana menagih uang kos yang sudah menunggak enam bulan tidak dibayar si Mbak Dewi ini. Kalau masih hitungan satu dua bulan, Ibu memang tidak terlalu memaksakannya. Tapi ini sudah hampir setengah tahun mbak Dewi dan anaknya, Yudi, menyewa dua buah kamar dengan menggunakan semua fasilitas di rumah Mbah kami tapi tanpa biaya sepeser pun.

Om dan tante, tentu saja mengusulkan agar Ibu dapat lebih tegas dan galak. Kalau sudah enam bulan begini jika makin dibiarkan lama-lama pasti akan memberatkan kedua belah pihak. Ibu bilang, juga sudah sangat mendesak mbak Dewi. Hampir setiap bulan Ibu rajin mengingatkan kewajiban mbak Dewi dan anaknya. Malahan yang terakhir, Ibu hanya mendapat jawaban yang sama sekali tidak bersolusi. “Ibu yang sabar ya, ini juga lagi dicarikan tapi memang belum dapat. Ibu ambil saja barang-barang saya.”

Pikir-pikir, apa juga yang mau diambil, batin Ibu.

Bapak dan Ibu, bagaimanapun adalah termasuk orang-orang yang sangat baik hati. Mungkin, Bapak dan Ibu, tidaklah sama dengan ibu atau bapak kos Mbak Dewi yang sebelum-sebelumnya. Sudah enam bulan begini, pakai air, listrik, kasur, tempat dengan akad sewa bulanan tapi belum dibayar juga. Kalau yang lain mungkin saja sudah tidak ampun lagi.

Saya yang bukan termasuk tetua di sini gatel ikut nyeletuk, “Mau enggak mau mungkin harus lebih dikerasi”. Ibu sama sekali tidak menggubris saran saya atau saran Om yang memang bernada memaksa. Ibu dan Bapak biasanya akan mengambil jalan “pemanggilan” kepada yang bersangkutan. Bukan diusir semena-mena.

Ibu lama-lama gerah juga mendengarkan kami yang sarannya seperti memojokkan, sampai akhirnya ibu pun cerita dan terungkaplah yang mana membuat ibu berkali-kali bilang tidak tega pasal Mbak Dewi ini. Baru saja dua bulan yang lalu, sekitar awal bulan Juni sebelum puasa ini, Mbak Dewi baru operasi.

Siang itu, sesaat sebelum pingsan, Mbak Dewi masih sempat menelepon Ibu yang masih di sekolah. “Ibu, saya sudah tidak kuat,” katanya. Pas ibu sudah pulang dan membuka kamar mbak Dewi mendapati mbak Dewi memang sudah pingsan. Ibu panik dan memanggil anak kos lain yang profesinya perawat. Kata mba perawat itu, kondisi mbak Dewi sudah dehidrasi dan harus dirujuk ke RS.

Jadilah mbak Dewi dengan diantar anak bujangnya, Yudi, menggunakan taksi ke RS terdekat. Tidak lupa Ibu menitipkan selembar uang seratus ribu karena Ibu yakin si Yudi ini pasti tidak ada uang. Tak lama, Yudi malah pulang ke rumah dengan jalan kaki. Dia merengek dengan melasnya, “Ibu, tolongin ibu saya lagi kritis.”

Bapak dan Ibu pun menyusul ke RS Wijayakusuma dan langsung bertemu dengan pihak RS. Mereka sampaikan bahwa janin yang dikandung Mbak Dewi sudah tidak hidup. Janin usia 7 bulanan itu harus dikeluarkan karena bisa membahayakan ibunya. Tapi RS ini tidak bisa menangani tindakan dan harus dirujuk ke RS yang lebih besar atau RS Kabupaten. Maka mbak Dewi pun segera dilarikan ke RS Kabupaten Banyumas dengan menyewa ambulans yang dibayar oleh Ibu, tiga ratus ribu rupiah.

Singkat cerita, operasinya lancar. Janin pun sudah bisa dikeluarkan dan mbak Dewi sendiri selamat. Bapak  juga terus menerus menghubungi suami mbak Dewi yang menikahinya secara sirri. Tapi si juragan beras asal kabupaten sebelah malah tidak acuh sama sekali. Telepon dan sms Bapak tidak ada balasan. Bahkan Bapak sudah mengancamnya lewat sms karena membiarkan istri sirrinya itu sekarat tanpa tanggung jawab apapun. Sampai saat malam Ibu bercerita ini suami mbak Dewi belum menjawab telepon dan sms Bapak.

Karena mbak Dewi ini anak kos saja di desa kami, maka diputuskan agar tidak merepotkan banyak pihak, jasad janin mbak Dewi dikuburkan di RS. Tapi yang belum selesai adalah biaya operasi sesar plus biaya lain-lain di RS yang bisa habis sekitar minimal 7 juta. Apalagi suami mbak Dewi ini malah kabur dan tidak tanggung jawab. Bapak dan Ibu akhirnya menyerah juga dan kewalahan kalau lagi-lagi harus menutup dulu semua biaya RS tersebut.

Solusi yang paling mungkin adalah sesegera mungkin mbak Dewi dibuatkan kartu BPJS yang bisa mengcover semua biaya. Sampai akhirnya kartu BPJS jadi, dengan diuruskan Bapak, dan mbak Dewi bisa keluar dari RS.

Sampai lebaran ini, Ibu pun masih tidak tega untuk menindak lebih tegas terhadap mbak Dewi. Jadilah beliau membicarakannya dengan saudara-saudara yang lain karena mereka juga berhak atas rumah peninggalan mbah kakung dan putri yang sekarang kamar-kamarnya semua disewakan. Sang suami mbak yang malang ini belum ada kabarnya sama sekali.

Dilema!

Mungkin cerita di atas tidak jauh berbeda dengan cerita-cerita pilu lainnya macam di sinetron #CHSI, tapi bagi saya setidaknya bisa lagi lagi mencubit hati. Mungkin karena kisah ini melibatkan orang-orang yang sangat saya cintai, Ibu  dan Bapak. Terlebih tempatnya adalah di rumah mbah dimana saya pernah setiap hari tidur malam disana hampir tiga tahun. Penuh kenangan yang indah bersama mbah Kakung dan Putri.

Kisahnya memang seperti alur sinetron dramatis, tapi bagi saya menyuratkan bahwa ujian hidup pasti ada bagi tiap tiap orang. Kala kita merasakan ujian yang kita alami saat ini begitu pahit dan rasanya kitalah orang paling menderita di dunia, ternyata ada minimal satu orang saja yang jauh lebih tragis kisah hidupnya.

Setidaknya, meski banyak orang-orang yang justru sangat merindukan kehadiran bayi, tapi Allah memberikannya pada Mbak Dewi yang dinikahi oleh suami keduanya ini secara sirri dan justru membiarkannya. Walau akhirnya Allah juga yang berkehendak mematikan lagi sang janin itu sampai belum sempat dilahirkan ke dunia.

Bersyukur saya mempunyai suami yang sangat baik dan bertanggung jawab. Mbak Dewi malah ditinggal kabur suaminya bahkan pada saat-saat yang paling kritis dalam hidupnya. Dan beruntung pula kami masih ada penghasilan untuk mengontrak rumah di perantauan dan tidak sampai menunggak dan mendzalimi si empunya rumah. Mbak Dewi dan anaknya untuk makan sehari-hari saja mungkin harus berpikir lebih keras karena tidak ada pekerjaan sama sekali. Jangankan untuk membayar kos bulanan 250.000 per bulan, untuk makan keseharian saja mereka tidak ada simpanan.

Maka, lagi-lagi nikmat Tuhan manakah yang kita dustakan? :’)