Tags

, , ,

Pernah saya baca-baca tentang ekonomi syariah. Sedikit banyak jadi sudah pernah dengar istilah-istilahnya meliputi prinsip dan jenis-jenis transaksi. Alhamdulillah pernah mengikuti juga semacam diklat mengenai akuntansi syariah sekitar April 2013 lalu karena fasilitas dari kantor. Ditambah dengan banyak dengar dari orang terdekat saya saat ini (insya Allah selamanya)πŸ™‚, suami sendiri, hehe. Tapi, sebagai alumnus mahasiswa diploma jurusan akuntansi konvensional dan sekarang bekerja di lingkungan ekonomi yang konvensional, jadilah mengendap hanya sebatas teorinya saja. Mungkin banyak terbantu kalau mas Priyayi Muslim sudah mulai menjelenterehkan tetek bengeknya yang walaupun belum sepenuhnya saya pahami.

Suatu siang sehabis jam istirahat, mas Priyayi Muslim menggetarkan hape yang saya geletakan di meja kerja lewat pesan yang dikirimkannya,

Β “Ada temen pengen bangun rumah secara bertahap. Dia butuh sejumlah kusen pintu dan jendela. Dianya mau kalau murabahah dengan margin 10% jangka 10 bulan dari harga dasar 5,6 juta.”

Entah saya yang lagi ngantuk atau masih setengah sadar habis acara silaturahmi kantor (alesan) sambil melompong dengan polosnya saya jawab, “Akadnya bagaimana mas? Ga paham,”

Jadi, selama ini saya mengingat-ingat transaksi murabahah adalah semacam transaksi yang kita tahu ada di bank atau perusahaan finance. Misalkan transaksi yang sudah jamak di masyarakat adalah jual beli motor melalui dealer dan lembaga finance. Tapi yang konvensional itu haram yah. Kalau murabahah yang ditawarkan ekonomi Islam ini insya Allah dijamin kehalalannya. Yang halal itu kurang lebih semacam ini, pihak A membutuhkan sebuah mobil seharga 100 juta. Tapi dia tidak punya dana sebesar itu. Kemudian ada pihak B yang mempunyai kelapangan dana saat itu membeli mobil tersebut di sebuah showroom dengan transaksi jual beli biasa. Lalu, pihak B menjual kepada pihak A. Karena pihak A tidak mempunyai dana segar sejumlah 100 juta, maka akad yang terjadi adalah kredit. Dan dibolehkan pihak B, menjual mobil tersebut kepada pihak A dengan harga lebih tinggi dari 100 juta karena akad yang terjadi adalah kredit. Misalkan, disepakati harga mobil itu menjadi 125 juta yang akan dilunasi pihak A selama 12 bulan.

Kurang lebih begitulah, transaksi murabahahnya. Insya Allah halalan wa thayyiban. (Kalau ada yang kurang dari penggambaran transaksi murabahah di atas, mohon koreksi yah? ^^). Nah! dimanakah letak kepolosan saya siang ini? Selama ini saya menganggap transaksi murabahah, mudharabah, salam, istisna’, dll, itu biasanya bank-bank atau lembaga keuangan syariah yang mengurusi. Lalu sekoyong-konyong, hari ini ada suatu tawaran yang mampir dan mungkin terkesan amat sederhana karena menyangkut kehidupan kita sehari-hari, yaitu bangun rumah. Yak, bangun rumah kan memang perlu dana yang lumayan yah.πŸ˜€

Ternyata, dengan kondisi kita yang mungkin tidaklah mempunyai dana cukup besar namun mempunyai itikad baik membangun rumah secara syari, berkah, dan halal bisa diikuti transaksi semacam teman mas Priyayi Muslim tersebut. Hehehe, memanglah sangat dibutuhkan kesabaran lebih besar karena rumah dibangun pun berdasarkan azas seadanya. Misalkan, adanya dana baru bisa untuk beli batu dan semen berarti buat pondasinya saja. Kapan lagi kalau sudah kumpul uang, beli batanya dulu, entah mau dibangun kapan. kapan lagi nyicil beli keramiknya.πŸ˜€

Jadi ingat beberapa malam lalu, mas Priyayi Muslim bilang begini, “Pingin punya rumah gak suatu saat nanti? Atau sampai tua bakalan ngontrak kayak gini terus?”. Sebagai istri yang mempunyai pandangan hidup visioner *jiyaaah, tentu saya menjawab dengan pasti pingin punya rumah sendiri. Urusan mau bagaimana cara dan metode beli dan bangunnya ya kan sebagai istri yang baik kita serahkan saja pada ahlinya toh, hihihi.

Alhamdulillah, paling tidak siang ini ada pencerahan baru, khususnya bagi saya. Transaksi yang mungkin pelafalannya saja kita cukup sulit, murabahah, mudharabah, dll, tapi kalau kitanya memang itikad mau menerapkan ternyata bisa kita aplikasikan ke berbagai sendi kehidupan bahkan tanpa perlu melibatkan bank dan lembaga keuangan.

Allahumma yassir, Duhai Rabb, mudahkan kami umat muslim untuk selalu berada di dalam jalan yang diberkahi dalam memenuhi banyak kebutuhan dunia yang kami impikan: rumah, mobil, perhiasan, dll.πŸ˜€