Tags

, , ,

Syahrul Mubarak 1435 H: Alhamdulillah, Allah sampaikan kita hingga detik-detik ini menikmati setiap limpahan berkah Ramadhan. Dan di bulan tarbiyah ini pula, Allah lengkapi dengan berbagai peristiwa, atas suatu kehendak bahwa Allah ingin menyaksikan sebaik-baik penghambaan kita.

Setidaknya bagi bangsa Indonesia, baru saja kemarin kita menunaikan salah satu kewajiban bernegara yakni memilih presiden untuk memimpin bangsa ini lima tahun ke depan. Belum lagi, godaan bola berputar yang sangat memikat, Piala Dunia 2014. Dan, ternyata Allah belum habis memberikan kita akan peringatan bahwa pentingnya negeri Palestina bagi umat muslim di seluruh dunia. Bukan dengan sia-sia Allah Swt. mengadakan berbagai peristiwa ini, melainkan ada maksud yang ingin Allah sampaikan.

Kini, sudahkah kita dapat menangkap sinyal-sinyal yang tak pernah bosan Allah  berikan untuk lagi-lagi mengetuk pintu hati hamba-hamba-Nya?

Ketika ada sebagian orang yang berkomentar, “Siapapun presidennya tidak akan pengaruh buat kita. Tunjangan PNS tetap tidak akan naik.” MIRIS. Benar-benar miris kata saya. Apa iya sih kalau ada presiden baru tapi yang kita perhatikan tetap kepentingan diri sendiri. Memang, hidup itu perlu makan dan kesejahteraan. Tapi hidup itu bukan hanya soal nafsu perut dan bawah perut, keleeees. -_-

SBY tunjuk dada

SBY tunjuk kepalaHati dan pikiran, bukankah keduanya juga perlu diasupi makanan? Karena ianya adalah pijar ruhiyah seorang manusia. Ketika hati dan pikiran manusia itu mati, maka tidaklah ada bedanya manusia hidup itu bagai seonggok bangkai saja yang masih lalu-lalang. Na’udzubillah min dzalik!

Pilpres 9 juli 2014 kemarin sebetulnya bukan hanya sekedar pertarungan ambisi dari dua orang anak bangsa. Pertarungan kemarin, jika kita mau tahu, sebetulnya adalah pertarungan antara kita yang cinta syariat Islam dan yang benci dengan syariat Islam. Pertarungan antara yang haq dan bathil seperti ini kok bisa-bisanya kita kecilkan demi nafsu perut semata. MIRIS!

Pun ketika hasilnya ternyata masih membelah rakyat Indonesia dalam dua kutub di belakang masing-masing calon yang tiap-tiap kubu memenangkan calon pilihannya, sehingga membuat kita pun yang mendukung salah satu pasangan calon ikut gemetar dan khawatir. Bukan sekedar khawatir kalau calon kita kalah, bukan! Calon yang kami pilih insya Allah adalah karena atas dasar kecintaan kita pada agama dan dakwah. Bagaimana bisa kita akan tenang-tenang saja saat ancaman terhadap kelangsungan dakwah di masa mendatang akan semakin besar bila calon yang kita tolak ternyata menang.

Lalu di beberapa forum diskusi yang sama-sama saling memanas dan menyulut kekhawatiran, ada sebagian yang berpikir khusnudzon saja. Toh kalau Allah menghendaki berbagai aliran sesat yang berada di belakang calon seberang musnah dari Indonesia itu mudah bagi Allah.

Ah iya betul! Nasihat itu seakan menjadi air dingin yang disiram pada tubuh kita yang kepanasan. Adem dan segar. Tidak ada yang membantah kalau kita kudu khuznudzon sama takdir Allah. Tapi sungguh hati ini lagi-lagi miris. Pada suasana yang mencekam seperti saat ini, khuznudzon itu adalah suatu barang yang wajib. Tapi bukan itu saja yang Allah mau. Bukan lantas kita pasrah dan ikut saja kemana takdir Allah berpihak.

Benar mudah sekali bagi Allah menjadikan semua makhluk-Nya beriman, tapi sejak dulu, sejak awal bumi ini diciptakan tidak pernah berlaku sunnatullah-Nya bahwa kita semua akan beriman. Padahal, sekali lagi, mudah bagi Allah menjadikan kita semua umat yang satu. Justru Allah menjadikan ada yang haq dan yang bathil karena sesungguhnya Allah Swt ingin melihat siapa yang golongan beramar ma’ruf wa nahiy munkar dan siapa orang-orang yang justru termakan fitnah.

Apapun hasilnya nanti, siapapun presiden kita nanti, memang itulah takdir Allah yang terbaik, dan kita wajib mengimani sekaligus berkhuznudzon terhadapnya. Namun jika memang benar takdir Allah justru memenangkan calon presiden yang di belakangnya adalah orang-orang yang bermulut menjijikan macam orang JIL, yang disokong penuh oleh orang-orang biadab yang selalu melecehkan Rasulullah, ummul mukminin, keluarganya, dan para sahabatnya macam orang SYIAH, yang dibiayai sempurna oleh orang-orang yang dalam dadanya sangat benci akan Islam macam orang-orang sekuler, sejatinya saat ini Allah Swt. ingin menampakkan wajah umat muslim Indonesia yang sebenarnya. Dimana kesunnian kita yang makin kronis dan makin kritis. Justru inilah yang ingin Allah bukakan untuk kita sebelum akhirnya terlambat dalam menyadari.

Seperti kaum muslimin Palestina yang tidak pernah meninggalkan khusnudzonnya pada Allah. Menghadapi kenyataan bahwa mereka lah orang-orang yang Allah muliakan semenjak lahir telah diberikan kesempatan untuk berada di garda terdepan mewakili seluruh umat muslim sedunia, menjaga warisan umat Masjidil Aqsa, kiblat pertama, dan bumi Syams yang kita semua yakini adalah tanah wakaf Khalifah Umar Al Faruq ini tak boleh sejengkal pun ditinggalkan. Namun kita tak pernah dengar mereka yang Allah besarkan di bumi syahid bersimbah darah itu pernah menyerah. Bahkan selangkah pun mereka tetap bergeming menjaga amanah ini.

Padahal mungkin mereka tahu, bahwa kebiadaban Israel tidak akan pernah berakhir sampai dunia yang fana ini juga berakhir. Karena Allah dan Rasul-Nya telah berulang kali memperingatkan akan datangnya tanda-tanda akhir zaman salah satunya adalah peperangan di bumi suci ini. Orang-orang Palestina ini yang membuat kita cemburu siang-malam tidak akan pernah kehabisan khuznudzon tapi mereka nyata-nyata tetap berani melawan dan memerangi Israel Laknatullah. Sesungguhnya karena di balik khuznudzonnya terhadap takdir Allah karena mereka ingin berlomba-lomba meraih kesempatan emas, syahadah. Mereka mencintai kematian sama seperti orang-orang Israel Laknatullah mencintai kehidupan. Sungguh mereka tidak pernah berhenti bergerak dan sangat menyadari peran pentingnya menjaga warisan umat.