Pernah ada beberapa orang bilang bahwa kehidupan di sekolah atau kampus adalah kehidupan yang semu. Realita kehidupan yang sesungguhnya adalah justru saat telah mentas dari dunia sekolah atau kampus tersebut. Yaitu saat kita menempuh karir, bekerja, atau berumah tangga. Mungkin mulai waktu itulah kita dituntut untuk bertanggung jawab kepada diri sendiri secara penuh. Bahkan mungkin bertanggung jawab pula untuk kehidupan orang lain.

Di sekolah atau kampus tersebut, kita yang mula-mula mengenal ngaji, tarbiyah, atau dakwah yang seolah-olah sangat memikat dan membuat jatuh hati. Kita mulai mengetahui lebih banyak akan pesona Islam, yang mungkin sebelumnya belum pernah kita gubris. Kemudian kita menjadi banyak larut pada candunya yang nikmat. Sangat nikmat. Bersama-sama kawan sebaya, kakak, dan adik kelas, kita seperti sedang mempunyai nafas perjuangan. Gerak yang senantiasa semangat seakan tak mengenal lelah. Meski ada pedih tapi kita bisa sangat menikmatinya.

Tetapi sang waktu memang tak bisa dibohongi. Ada kalanya kita mula-mula mengenal dan pasti ada kalanya akan diakhiri. Pertama kita akan menyaksikan para kakak kelas kita yang telah lulus, lalu tahun berikutnya adalah giliran kita yang akan menjemput takdirnya masing-masing. Kemudian satu tahun ke depan menyusul adik kelas dan begitu seterusnya.

Menjemput takdir masing-masing. Kita semua memang hidup dan menjalani kehidupan sesuai dengan garis tangan yang Allah tetapkan. Tiap-tiap kita lahir dari sebuah keluarga, melalui berbagai fase kehidupan yang pasti tak persis sama. Hingga pada suatu titik mungkin kita akan merasa sama-sama dengan yang lain, bisa saat sekolah atau kuliah di universitas yang sama. Lalu setelah lulus kita semua pun pasti akan kembali menempuh jalannya masing-masing lagi.

Ada yang langsung melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, ada yang memilih bekerja lebih dulu, ada yang mengisinya dengan menikah dan berumah tangga, atau mungkin ada yang sakit, meninggal, dsb. Tapi ada satu hal lagi yang tak boleh berbeda dan berubah pada satu sama lain bahwa kita sama-sama alumnus dakwah sekolah atau kampus.

Seperti gelar kesarjanaan, master, atau doktor yang kita raih setelah lulus dari kampus, maka sebutannya selalu kita sandang sepanjang hayat. Kecuali bila diri kita sendiri yang tidak mengakuinya. Pengaruhnya akan selalu kita bawa sampai melalui banyak tahap kehidupan di depan nanti. Begitu pula dengan alumnus dakwah. Jejak-jejak nikmat itu akan selalu ada dalam dada. Yang berbeda adalah seberapa kadarnya saat kita sudah lulus dan menempuh perjalanan hidup yang lebih rimba lagi. Masihkan jejak itu berkobar seperti saat-saat kita baru saja jatuh cinta padanya? Ataukah semakin lama semakin besar ghiroh dan semangat kita untuk ikut dalam perjuangannya? Ataukah justru semakin dilupakan seiring dengan berlalunya masa-masa semu yang ideal dulu?

Namun namanya juga kehidupan. Pasti tidak akan ada kesenangan abadi di dunia yang penuh ujian ini. Ibarat roda kata pepatah, selalu berputar ke atas dan ke bawah. Memasuki kehidupan masyarakat dengan apapun peranan kita, menjadi pekerja, usahawan, ibu rumah tangga, relawan, dll, masa inilah mulai tampak sedikit demi sedikit ujian hidup yang harus kita jalani. Kadang kehidupan memang mesti berjalan dengan tidak sesuai seperti keinginan atau impian.

Ada jalan yang sulit soal jodoh, ada sedikit sakit pada badan, ada payah karena pekerjaan, ada penantian buah hati yang belum berujung, ada rumah tangga yang terpisah-pisah dapurnya, ada bisnis yang gagal dirintis, ada lingkungan atau bi’ah yang tak kondusif, ada lelah dan bosan hatinya, ada kecewa akan fakta, atau ada perih dalam rumah tangga.

Ketika kehidupan yang sedang kita jalani sedang tidak seindah dan semanis dakwah, maka akankah kita masih bertahan dalam barisannya?

Kita pasti boleh beralasan pada Allah Swt. bahwa kita masih harus berikhtiar mendapatkan jodoh, bahwa kita masih konsentrasi atas bisnis yang lagi-lagi gagal, bahwa kita masih harus memperbaiki diri supaya Allah berikan amanah-Nya, bahwa kita masih harus membagi waktu dengan keluarga yang terpisah jarak, bahwa kita masih harus bertahan di lingkungan yang kering, bahwa kita masih sibuk bolak-balik berobat untuk sembuh, bahwa kita ingin sebentar atau sesaat berhenti dan beristirahat dari dakwah. Bahwa kita sudah bosan, penat, dan lelah memikirkan berbagai masalah yang harus dihadapi sekarang.

Kita masih boleh berkilah pada Allah Swt. sampai semua harapan, impian, cita-cita, dan segala kesulitan yang nyata menjadi terkabul, terwujud, dan tuntas. Mungkin Allah bisa memahami segala kesulitan kita tersebut. Tapi, masih siapkah kita sendiri untuk bertahan dalam dakwah? Sebuah perjuangan yang pernah kita kecap nikmat dan sedapnya.

Ketika kehidupan kita sendiri justru tak senikmat dakwah, akankah kita masih bisa menikmati manisnya dakwah?