Masih bersambung dengan cerita sebelumnya

Berarti sudah satu tahun juga saya jadi rider di kota ini. Mungkin karena keadaan lah yang memaksa saya harus tampil lebih mandiri, pulang pergi ke kantor naik motor sendiri. Dan belakangan ini saya banyak mengamati kenapa saingan rider saya selama ini kok bapak-bapak, mas-mas, om-om, opa-opa, dan jarang sekali saya menemukan yang memegang kemudi adalah mbak-mbak, ibu-ibu, tante-tante, apalagi oma-oma.

Atasan di kantor pun sangat kaget ketika pertama kali tahu saya naik motor. Padahal beliau asli dari Jawa. Bukankah kalau di Jawa itu sudah sangat jamak rider wanita ikut menyemut di jalan raya? Terus kenapa ya beliau mesti kaget pas tahu saya naik motor ke kantor?

Menurut hasil bacarlota di kantor dengan teman-teman yang tentunya bukan berasal dari Manado asli kami membicarakan kebiasaan para perempuan Manado. Memang saya amati ternyata kebanyakan perempuan asli Manado lebih banyak menggunakan moda transportasi angkutan umum daripada naik motor atau mobil sendiri. Beneran lho! Mereka yang berpenampilan sangat modis, pergi ke kantor dengan kemeja body fit dan rok pendek di atas lutut plus memakai sepatu highheel (tapi ini ga semua wanita Manado begini ya) pergi dan pulang menggunakan oto (angkot-bahasa Manado).

Hihihi, memang lain ladang lain belalang, lain di sini lain di sana. Yang saya rasakan sebelumnya di Jawa adalah ketika perempuan itu bisa naik motor, paling tidak itu terlihat lebih baik. Tapi kalau di sini justru berkebalikannya, yang pakai motor justru jarang banget. Mau bagaimana penampilan, jangan bayangkan ribetnya mereka pakai rok pendek dan ketat dengan highheel tapi kemana-mana naik oto yah.😛

Dan, alasan paling logis yang saya baru ngeh setelah setahun ini adalah kontur wilayah Manado ini turun naik. Banyaaaak sekali bukitnya. Daerah perkantoran, bisnis, atau perumahan adalah hasil memotong gunung atau reklamasi laut. Seingat saya di Purwokerto saja hanya ada satu tanjakan yang lumayan curam yaitu jalan yang menuju Baturaden, kawasan wisata lereng gunung Slamet. Tapi kalau di sini, hampir setiap jalannya adalah perpaduan dari naik turun dan belokan tikungan. Nah, mungkin inilah yang menyebabkan perempuan Manado tidak terbiasa sejak kecilnya dengan fenomena perempuan naik motor sendiri. Tentu saja karena medannya yang cukup sulit.

Trus, saya bagaimana? *ga gimana gimana sih*, berkendaraan motor sampai saat ini merupakan opsi paling nyaman bagi saya. Pernah coba naik oto ke kantor juga tapi lama-lama mlipir sendiri. Kayaknya bagi saya sementara ini memang paling enak ya naik motor itu. Bismillah!

Oto di manado itu sebenarnya nyaman dari sisi tempat duduk karena dia tidak berposisi memanjang seperti angkot di Jawa. Di sini posisi jok nya persis seperti mobil jadi kan ga empet-empetan banget yah. Plus kelebihannya adalah full music (bagi yang suka!). Sayangnya tidak bagi saya, dentuman musik yang sangat keras baik musik disco, dangdut, lagu melayu, lagu minahasa, lagu pujian sangat memekakkan telinga dan mendebarkan jantung. Speakernya sendiri dipasang di hampir semua sisi dalam angkot tersebut. Belum lampu kelip kelip persis banget kayak lagi dugem begitu. Kita yang di luar angkot saja dari jarak kejauhan sudah sangat bising sekali bunyi angkot itu. -_-” Masalah fasilitas mah oto di sini ngalahin fasilitasnya mobil pribadi mungkin yah, bahkan ada yang dipasangi TV LCD juga. Mending cuma satu TV di dashboard kemudi, lah ini ada yang dua tiga dipasang di belakang juga. Fiyuuuuh…Ternyata modal jadi sopir angkot di sini lumayan yah, hihihi .