Tak terasa, telah setahun menikmati hawa pesisir dari kota Nyiur Melambai ini. Tak terasa? *boong*😀. Berasa sebenarnya, sangat memorable, suka-duka, tangis dan tawa, panas dan hujan, dilewati bersama Mas Priyayi Muslim. Padahal tidak pernah menyangka sebelumnya jika saya ternyata akan melalui hari hari di luar Pulau Jawa. Bahkan akan melewati tahun-tahun pertama pernikahan di kota ini yang sangat jauh dari tempat asal muasal kami. Tapi insya Allah, inilah takdir terbaik-Nya.

Dulu, paling jauh membayangkan akan kuliah di Jogja, Purwokerto, atau Bandung. Tapi, Ibu tidak ingin anak putrinya jauh-jauh dari rumah. Pun ke Bandung tidak ada kereta api langsung dari Purwokerto. Jadi opsi berkuliah di Bandung resmi dicoret *semacam alasan yang cemen*. Akhirnya sempat satu bulan mampir kuliah di Jogja sebelum jadi mahasiswa sekolah kedinasan di Bintaro. Nah ini, Manado! Kota yang paling pucuk di Pulau Sulawesi. Naik pesawat direct dari Jakarta makan waktu tiga jam. Lebih jauh daripada kita melancong ke Malaysia atau Singapura.

Setahun lebih melewati siang dan malamnya di sini, boleh lah ya cerita-cerita sedikit. Sepanjang yang saya tahu saja dan mungkin akan sangat subjektif sesuai versi saya. Insya Allah sama sekali tidak ada maksud mendiskreditkan, menyinggung unsur SARA, atau merendahkan orang-orang Manado pada umumnya. Mungkin semata-mata dipandang dari kacamata saya yang aslinya beragama Islam dan bersuku Jawa yang harus ikut hidup di sini.

Manado adalah kota dengan penduduk mayoritas beragama Nasrani, lalu Katolik. Penduduk Muslim mungkin sekitar 30 % yang merupakan pendatang. Karena suku aslinya adalah suku Minahasa. Kalau di Jawa atau Indonesia pada umumnya kita mengenal ada berbagai macam tipe umat muslim, di Manado pun kita akan menyaksikan bahwa betapa banyaknya sekte atau aliran kristiani. Bahkan setiap aliran punya gereja masing-masing dan katanya haram kalau beribadah di gereja milik aliran lain. Alhamdulillah, kita umat muslim ga sampai begitu ya, kalau ada yang mengharamkan maka jelas-jelas itu yang sesat. Jadi tidak heran kalau sepanjang jalan berjejer-jejer gereja dengan tipenya masing-masing.

Punya tipe bahasa yang sepintas lebih mudah diikuti bila kita sudah satu bulanan lah di sini. Karena sebagian besar mirip bahasa Indonesia atau melayu. Tapi, kalau orang asli sudah ngomong, duh, kayak marah-marah. Nadanya keras dengan tempo yang cepat. Sebagiannya suka sekali bicara alias bacarlota. Hihihi. Tahu artinya bacarlota? ternyata ga banget deh awalnya, Hahaha! Konon, dulu ada telenovela judul Maria Marcedes atau Rosalinda atau Esmeralda *semacam apal (penggemar)* yang salah satu pemainnya bernama Carlotta. Katanya sih berperan sebagai ART dan sangat suka bergosip. Jadi dipakailah nama carlotta itu sebagai kata bergosip dan ditambah ba- yang artinya ber-. Ba-Carlotta. -_- Dan berhati-hatilah kalau sudah nyaman diajak bicara. Mungkin kita akan sangat sulit memutuskan rentetan cerita mereka. Hihihi.

Sisi positifnya, orang Manado itu hangat. Yang saya tahu mereka semua ramah. Walaupun kita lihat mereka bertato, berambut pirang, dan nggaya banget, tapi mereka baik. Di mata mereka sesuai dengan slogan yang diusung kota Manado, Torang Samua Basudara, artinya kita semua bersaudara, maka kita  akan diperlakukan baik oleh mereka. Jadi tidak heran kalau gaya hidup mereka itu berkumpul dan berpesta, bahkan untuk kematian anggota keluarga pun mereka mengadakan pesta kematian. Hufh, astaghfirullah *elus dada*.

Maka banyak-banyak toleransi lah kalau hampir setiap hari jalan menuju rumah kita ditutup. Karena eh karena ada rumah yang sedang berpesta ulang tahun. Besok lagi bisa saja rumah itu lagi yang berpesta. Ya iyalah ya, misalkan pekan ini adik pertama yang ulang tahun, pekan depannya ibunya, bulan depan bapaknya, dua bulan lagi neneknya. Dan bayangkan kalau dalam satu kompleks itu terdiri dari berpuluh-puluh kepala keluarga. Maka dalam sepekan bisa lebih dari tiga kali jalan ditutup. Ini juga belum dihitung dengan jadwal ibadah mereka dari rumah ke rumah. Maka akan pesta lagi pesta lagi. Sebenarnya mereka ini horang kayah banget yah? apa-apa pesta, sebentar-sebentar pesta. Kalau saya lihat sih sejatinya mereka berasal dari keluarga menengah saja seperti keluarga Indonesia kebanyakan, bukan semacam Pak Chairul Tanjung yang punya banyak perusahaan. Mungkin, lagi-lagi gaya hidup mereka yang memang semacam hedonisme atau bagaimana. Yang jelas, materi bagai yang pertama dan paling penting di sini.

Inilah mengapa orang Manado itu dikenal cantik-cantik. Entah masih muda atau sudah tua, entah dari status sosial apapun, para wanitanya mau bersolek dan berpenampilan sangat modis. Bahkan cenderung terbuka di samping kulit asli suku Minahasa memang putih. Mungkin karena asal-usulnya adalah orang Melayu Cina zaman Deutero Melayu bercampur dengan ras Portugis atau Spanyol. Mungkin lho ya *sotoy*.

Terus, yang tidak kalah menarik perhatian kita orang muslim adalah keberadaan ba- bi-. Hihihi, iya hewan haram yang tidak boleh kita makan di sini mah buanyak sekali. Awal-awal di sini mungkin kita akan terperangah karena di jalan jalan ini kok banyak gambar babi dengan sajian babi guling, babi putar, babi toreh, mie babi, dsb. Di swalayan baik menengah atau besar pun terpampang nyata berbagai macam irisan daging babi mulai dari kepalanya, buntutnya, dll, disediakan pada satu stan khusus.

Banyak-banyak bernapas panjang dan mengelus dada. Banyak doa juga semoga kita dijauhkan dari segala yang syubhat apalagi haram di sini. Bagaimanapun, kami ada di sini sekarang. Hanya doa semoga keberkahan ini senantiasa tercurah bagi kami dan seluruh keluarga muslim di tengah-tengah hiruk pikuk fitnah dunia di sini.

Dan, andai saja Manado ini berpenduduk mayoritas muslim, maka benarlah akan menjadi sebenar-benar kota yang cantik nan indah permai. Bukan mustahil insya Allah karena Allah menjanjikan kemenangan sekali lagi bagi kita. Mungkin, salah satunya adalah di sini yang akan termasuk disinari cahaya-Nya yang terang benderang. Allahumma aamiin.

Hehehe, tapi secantik-cantiknya Manado, insya Allah kami masih selalu berharap mempunyai mukim di Pulau Jawa gemah ripah loh jinawi.😀. Yah, namanya juga tanah air yah ^^. Wallahu a’lam.