Imo, menikah dan hidup berumah tangga itu indah dan menakjubkan. Meski, tidak selalu mudah dijalani. Kayanya sudah sering yah saya bilang itu. *biarin๐Ÿ˜›

Bagi saya sendiri, salah satu yang tidak mudah tersebut adalah menunggu suami tercinta pulang dari kantor. Perjalanan yang jauh dan melewati beberapa titik kemacetan membuat mas Priyayi Muslim seringnya menunda untuk pulang ontime. Katanya memilih agar kemacetan sedikit terurai jadi lebih lancar. Tidak jarang juga hujan turun mengguyur kawasan dekat pantai timur ujung Sulawesi Utara itu. Ini membuat mas Priyayi Muslim akan lebih malam sampai ke rumah kontrakan kami.๐Ÿ™‚

Menjelang pukul 17.00 WITA biasanya saya akan menchat beliau, jam berapa akan pulang. Penting sekali bagi saya untuk mempersiapkan mood supaya tidak jadi gelisah berlebihan sampai tidak jadi masak, beres-beres, dan lain-lain. Menunggu suami pulang kalau tanpa hati yang lapang bisa-bisa merusak good mood itu karena perasaan sudah sangat menunggu-nunggu ternyata waktu terasa makin lama saja. Kalau mas Priyayi Muslim sudah mengabarkan dahulu jam berapa pulangnya saya merasa lebih siap melewati petang.๐Ÿ˜€

Allahu Rabbiy, sudah hampir tiga tahun kami menikah kok saya masih suka mood-moodan gini yah. -_- Biasanya kalau mood sudah tidak berada dalam jalur yang tenang saya akan sangat gelisah, cemas, dan bawaannya berdoa terus dalam hati. Hihihi, bukannya bagus ya banyak berdoa? Inilah yang tidak mudah, dimana saat sang istri begini bisa jadi macam-macam lintasan pikiran yang timbul. Entah itu kangen mendadak, pingin dipeluk, khawatir atas keadaan, bahkan pikiran-pikiran buruk. Mas Priyayi Muslim sudah sering mengingatkan kalau saya harus belajar selalu dan senantiasa bertutur kata yang baik. Tidak boleh sama sekali ada terlompat ucapan yang buruk karena bisa jadi didengar malaikat dan menjadi doa. Na’udzubulillah! Jujur tidak mudah bagi orang macam dan tipe saya ini untuk selalu wise, calm, and positive thingking. Nah, inilah salah satu poin yang tidak mudah dalam pernikahan khususnya bagi saya.

Dan, ketika suara mesin motornya memecah kesunyian hatiku, sekejap kilat saya langsung menyamber jilbab untuk membukakan pintu gerbang dan tersenyum malu-malu menyambutnya. Ups!๐Ÿ˜› Alhamdulillah wa Allahu Akbar! Biasanya kalau sudah masuk rumah langsung saya peluk orang itu. Hahaha! Sungguh saya kangen banget sama beliau.

Sekali lagi, kehidupan pernikahan itu indah, tapi tidak selalu gampang dilalui. Hihihi.๐Ÿ™‚

Satu lagi kejadian yang tidak mudah seperti semalam, pas mas Priyayi Muslim tanya dimana struk tagihan listrik bulan lalu yang belum kami bayar. Saya merasa sudah memberikan padanya tapi beliau bilang menaruhnya di atas box hijau. Hanya kaget dan bengong karena saya merasa tidak sama sekali tahu kalau mas taruh disana. Mas bilang dengan tegas kalau beliau taruh di atas box itu. Dan, kalau bukan beliau yang memindahkan barang di rumah kami, siapa lagi coba yang mau pindahkan selain saya? Tiba-tiba saja saya terserang perasaan seperti dituduh oleh suami sendiri. Lalu tiba-tiba juga bakat alami saya untuk memhiperbola keadaan muncul di saat yang tepat. Saya merasa harus mencarinya karena bertanggung jawab atas kerapihan rumah. Beberapa tempat sampah dalam rumah saya kais lagi tapi hasilnya nihil.

Hufh,ย  perasaan sangat bersalah langsung menyergap dan berubah menjadi “Duh, mas ini udah kutunggu lama-lama terus datang malah menuduh sayah” T.T

Betapa lebaynya saya tadi malam tapi sungguh tulus sekali tiba-tiba banyak air mata bercucuran sambil saya cari lagi potongan kertas kecil itu. Mas Priyayi Muslim yang tahu saya menangis malah kaget dan geli karena beliau pastinya tidak sama sekali bermaksud memojokkan istri tercintanya ini. Hahaha…:-D.ย  Dengan tenang mas Priyayi Muslim akhirnya juga membantu cari struk itu dan ternyata beneran ada lho barang itu tertumbuk di tempat sampah yang saya kais-kais tadi.

Yang jelas, hanya tekad diri ini untuk tidak sama sekali membuatnya kecewa. Tapi seringnya malah memanaje itikad baik itulah yang tidak selalu mudah dilakukan.

Teruntuk Suamiku tercinta

yang semalam bolak-balik menjinjing beberapa ember dari tetangga depan rumah

meski sudah sangat lelah fisik dan psikis menghadapi istri yang cengeng ini

demi adanya ketersediaan air bagi kita karena pompa air rusak

berucap mau masak nasi karena istrinya belum masak nasi sebab air habis

sambil mengusap beberapa bulir air mata, aku meleleh

karena cintamu pada Rabb-Mu yang menjadikanku istri terbaik bagimu.

Alhamdulillah. Terima kasih.

Sambil berbisik saya katakan padanya, “Mas, kalau saja Allah dan Rasul-Nya mengizinkan manusia untuk bersujud pada manusia lainnya, aku pasti akan bersujud padamu, Mas!”๐Ÿ™‚

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, โ€œSeandainya dibolehkan sujud sesama manusia, maka aku akan perintahkan istri bersujud kepada suaminya. (Tirmidzi)