Menikah lalu punya anak adalah peristiwa alami. Ada pula yang mengatakan bukan hanya peristiwa alamiah biasa melainkan peristiwa peradaban. Menikah dan tidak berselang lama mempunyai anak merupakan kewajaran dalam masyarakat. Justru kalau menikah dan belum mempunyai anak yang mengundang banyak tanya dari keluarga dan kerabat. Tetapi menikah dan punya anak bukanlah hukum kausalitas. Artinya kita punya anak sebab menikah. Atau kita menikah pasti punya anak.

Keluarga muslim yang menikah karena tahu hakikat ibadah dan cinta pada ayat Allah dan sunnah Rasul-Nya pastilah sangat mengidamkan mempunyai keturunan setelah menikah. Keturunan bagi kaum muslimin ibarat generasi-generasi emas peradaban Islam. Anak adalah anak-anak panah baru yang siap dilesatkan dari busur para orang tua. Calon pemimpin masa depan yang mana akan menyongsong kejayaan Islam kembali bila kita tidak bisa menyaksikannya kini. Putera-puteri muslim dan muslimat adalah aset berharga peradaban manusia.

Dan semua urusan pasti kembali kepada Allah Swt. sebagai Maha Menciptakan, Maha Mengatur, dan Maha Memberi Rizki. Kehadiran anak adalah ciptaan Allah yang ketentuannya ternyata jauh melebihi keberadaan manusia sendiri. Kalau soal rezeki, terkadang kita memang tidak tahu dengan pasti kapankah sang waktunya yang tepat. Kita sekolah dengan serius jurusan pertanian tapi ternyata rezeki pekerjaan ada di bidang perbankan. Kita mengusahakan berdagang es hari ini dengan sungguh-sungguh tapi ternyata kehendak Allah turun hujan dengan derasnya.

Rezeki Allah datang dan menjemput si pemilik yang dititipinya melalui cara dan waktunya masing-masing. Soal anak adalah rezeki. Ada pasangan yang mungkin (tanpa) usaha yang sangat gigih pada bulan pertama pernikahan mereka sudah bisa mengecap anugrah yang luar biasa itu. Ada juga yang selisih beberapa bulan dari tanggal pernikahannya baru merasakan kebahagiaan yang membuncah karena sang istri akhirnya positif hamil. Ada juga yang harus melalui bilangan tahun akhirnya Allah karuniakan karunia-Nya tersebut. Namun ada pula pasangan yang harus lebih banyak bersabar diselingi banyak tanya pada diri mereka sendiri plus usaha kesana dan kemari namun Allah belum memberikan hasil positif pada rahim sang istri.

Kuasa Allah. Apakah pasangan yang dengan segera hamil, mereka juga yakin akan mudahnya mendapatkan keturunan atau apakah mereka dengan sangat yakin memastikan mereka akan segera hamil? Lalu yang sudah lama menunggu apakah mereka masih yakin bahwa kehadiran putra putri mereka kelak, Allah jua yang menghendakinya ataukah lantas mereka justru tidak yakin karena banyaknya hambatan dari sisi medis?

Sesungguhnya ini adalah nasihat bagi diri penulis pribadi. Tidak jarang penulis nyaris berputus asa karena tak kunjung berbuah harapannya. Terkadang pula merasa sangat iri dengan teman-teman yang tanpa mereka (mungkin) bersusah payah ternyata dengan mudahnya hamil dan hamil lagi. Padahal pada sebagian wanita dia sendiri belum pernah merasakan kebahagiaan tersebut.

Oleh karena itu, kiranya salah satu poin yang sangat krusial bagi para wanita untuk bisa saling memahami keadaan saudarinya yang lain. Yang sudah merasakan beralihnya kondisi menjadi ibu tidak lantas mudahnya mengumbar keluhannya pasal hamil, menyusui, mendidik anak, dan situasi lainnya. Mungkin saja keluhan yang kita utarakan tersebut justru sedang dicari-cari oleh sebagian saudari kita. Atau, kita justru harus lebih banyak belajar memanaje rasa bersyukur. Bukankah kita tidak mau ekspresi kesyukuran kita malah menjadi lubang terpelesetnya saudari kita karena dia justru akan mengeluh dan terlupa mensyukuri keadaannya saat ini. Bukankah sebaiknya celetukan ‘kangen hamil’ bagi wanita yang baru saja melahirkan dihaturkan pada sang Maha Hidup, Allah Azza wa Jalla? Bukan di status, timeline, atau komentar kita di dunia maya yang bisa dibaca oleh semua orang termasuk dibaca perempuan yang benar benar sedang kangen hamil karena sudah beberapa tahun sedang menanti?

Jadi, mohon doakan dan beri support yang membangun. Karena para perempuan yang sedang menanti itu pasti telah berdoa bahkan mungkin doanya jauh melebihi rapal doa-doa kita yang tanpa kesengajaan saja bisa membuahkan hasil positif. Tetapi, mungkin sampai saat ini bukan doanya, bukan doa suaminya, bukan doa ibu-bapaknya, bukan doa ibu bapak mertuanya, bukan doa kakak adiknya yang hendak Allah kabulkan, melainkan ada doa kita yang dengan tulus mendoakan. Mungkin saja dengan doa kita yang tanpa tendensius ikut mendoakan dan waktunya tepat justru yang Allah wujudkan. Wallahu a’lam.