Tags

, , ,

“Baara-kallaahu laka, wa baarakallahu ‘alaika, wa jama’a bainakuma fii khaiir.”

Semoga Allah karuniakan barakah kepadamu dan semoga Ia limpahkan barakah atasmu, dan semoga Ia himpun kalian berdua dalam kebaikan.”-

(HR. Abu Daud, Tirmdzi dan Ibn Majjah).

Sebaris doa yang amat sederhana justru diajarkan oleh Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk disampaikan kepada para pengantin baru. Doa sederhana namun insya Allah paling shahih kita amalkan dalam mendoakan saudara dan saudari kita yang baru saja menikah. Barakah tudalam pernikahan oleh ulama didefinisikan sebagai nikmat ALLAH yang dikurniakan dalam dua bentuk. Pertama as-Sa’adah yaitu nilai kebahagiaan hakiki yang mampu memberikan ketenteraman jiwa, keharmonian  rumah tangga dan sikap bekerjasama hingga tersemai rasa kasih sayang (mawaddah) dan belas kasihan (rahmah) antara suami isteri. Kedua ialah az-Ziadah yaitu penambahan nikmat berterusan oleh Allah, hingga tidak pernah timbul perasaan tidak cukup atas segala rezeki pemberian Allah kepadanya. Barakah adalah suatu nilai yang dapat mendisiplinkan perilaku seseorang. Hanya yang halal dan berteraskan norma agama akan membawa barakah, sedang yang haram atau berlaku curang pada prinsip Islam hanya menempah padah (menelan pahit-red). -sumber-

Sejatinya, memang tidak ada yang lebih pantas diminta oleh kita setelah menikah selain keberkahan yang hakiki dan ridho Allah semata. Masa depan dari biduk rumah tangga kita yang baru masih sangat bertabir. Akan dibawa kemanakah keluarga kita ini dalam berlayar mengarungi lautan kehidupan? Apatah pernikahan kita ini menjadi kebaikan bagi diri sendiri, keluarga, bahkan umat?

Tentunya, setiap pasangan memimpikan yang terbaik dalam pernikahan mereka. Secara mudah, jika sebelumnya terdapat satu kebaikan pada diri seorang maka setelah menikah dan terkumpul dua manusia, yang diinginkan maka terkumpul pula tiap-tiap kebaikan. Menjadi ada dua kebaikan dan bahkan bisa berlipat ganda kebaikan setelah menikah. Itulah impian dan idaman setiap rumah tangga. Menjadi rumah tangga yang penuh kebaikan dan kebermanfaatan bagi masyarakat. Bukan hanya sekedar pertemuan dua individu dalam peristiwa biologis semata. Semua keluarga pasti menginginkan eksistensi keluarga barunya di masyarakat dan bukan justru menjadi sampah masyarakat.

Sayangnya, dalam praktik kenyataan tidak melulu sejalan dengan impian. Ketika dua orang dari latar belakang masing-masing kemudian berkumpul dan bersatu dalam sebuah ritme kehidupan, tentunya banyak sekali perlu penyesuaian. Akhirnya, kembali perlu menyusun teknis dan manajemen yang baru dalam keluarga.

Tampak sekali perbedaannya, saat masih lajang yang mana kita bisa mengatur waktu semena-mena sendiri. Mau makan semau-mau sendiri, mau cuci pakaian sepekan sekali, mau tilawah Al Quran setiap saat pun boleh. Sekarang, perlu adanya penyesuaian apalagi sudah ada yang terkait dengan segala kegiatan dan rutinitas kita sehari-hari. Misalnya, kita yang terbiasa bertilawah setiap ba’da shalat wajib, ketika sudah menikah mungkin perlu penyesuaian kembali jadwal tilawahnya agar tetap istiqomah namun tidak mengganggu kewajiban kita sebagai istri/suami.

Pada awal-awal pernikahan inilah, titik mula perkenalan segala karakter dan kebiasaan masing-masing. Perbedaan yang ada di antara kedua pasangan tidak boleh sama sekali menghambat kekompakan kita dalam memanaje kehidupan yang baru. Selain itu, perlunya menambah luas kelapangan hati bilamana terdapat hal-hal yang tidak terduga kita dapatkan dari pasangan. Selalu berprasangka baik atas setiap takdir yang Allah berikan dan senantiasa gantungkan segala kejadian yang silih berganti. Pernikahan adalah suatu majelis yang sangat indah dan menyenangkan. Karena Allah sendiri yang memberikan tuntunan-Nya dalam pernikahan.

Selamat merayakan cinta yang barokah dan nikmat. Selamat berbahagia atas berkesempatan menikah yang Allah limpahkan.🙂