Tags

, , ,

Tanpa dipahami secara pasti, tetiba saja kita merasa sudah sangat nyaman bersinggungan dengan pasangan. Padahal baru beberapa jam yang lalu resmi menjadi suami istri. Sangat aneh tetapi sungguh nyata. Kemarin bukanlah siapa-siapa tetapi mulai beberapa jam yang lalu sudah terikat hubungan dunia hingga urusan akhirat. Rasa kikuk yang tadinya mendominasi berangsur mencair menjadi obrolan yang hangat. Gelagat canggung yang tadinya kaku kemudian mengalir menjadi percakapan yang menarik.

Mungkinlah karena rasa ikhlas yang telah mendahului dan keberanian membuka diri pada awalnya itulah akhirnya kedua insan pasangan baru tersebut laiknya telah lama saling mengenal.

“Ruh-ruh itu bagaikan pasukan yang berkumpul (berkelompok). (Oleh karena itu), jika mereka saling mengenal maka mereka akan bersatu, dan jika saling tidak mengenal maka akan berbeda (berpisah).”

-HR al-Bukhâri no. 3336 dan Muslim no. 6708-

Jadi, bila semua ada rumusnya dari Allah Azza wa Jalla, adakah suatu yang mustahil?

Teringat saat masa-masa kita kesulitan memutuskan untuk melangkah ke pernikahan. Rasa bimbang dan ragu akankah dia menjadi pasangan kita selamanya. Bayangan akan susahnya hidup bersama dengan seseorang yang sangat berbeda latar belakang dengan kita. Kegamangan yang masih saja timbul karena semata-mata bukan dia sang makhluk yang sempurna. Lalu Allah menyisipkan pada hati kita suatu itikad yang kokoh bahwa menikah adalah sarana beribadah yang paripurna. Allah jua yang menjadikan kita berhati lembut seakan insyaf kalau diri memang tidak akan pernah menikah dengan malaikat yang mumtaz ketaatannya. Hingga rasa-rasa syukur yang kemudian menyeruak karena Allah baru saja membuka tabir yang penuh misteri sebelumnya tentang jodoh kita.

Segala itu adalah kemudahan yang Allah berikan pada hamba-hamba-Nya yang tulus dan berani mengambil perjanjian yang teguh tersebut. Maka, beranilah kita menatap suami atau istri kita dengan penuh kesyukuran karena bagaimanapun ada kehendak Allah pada kejadiannya. Nyamanlah kita saling mengakrabi dengannya karena pada dialah letak ketentraman yang Allah titipkan. Dan tidak ada sama sekali alasan bagi kita untuk tidak mencintai pasangan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Oleh karena itu, mantapkan untuk berikrar “Uhibbuka fillah!” pada suami atau istri kita. Meski siapapun dia orangnya itu tidak penting. Karena tugas kitalah untuk mencintainya atas izin Allah dan karena Allah Ta’ala. Mari berusaha!