Tags

, , , ,

Sepungkasnya hingar bingar pesta pernikahan, inilah pada awalnya kehidupan nyata kembali bergulir. Masing-masing anggota keluarga melanjutkan perannya atau membereskan yang menjadi bagiannya. Lalu bagaimana dengan sang pengantin? Biasanya sang pengantin adalah raja dan ratu sehari. Tidak banyak tugas beres-beres yang dibebankan. Anggota keluarga yang lain sudah maklum.

Keluarga seolah tahu apa yang lebih dibutuhkan pengantin. Saling berkenalan. Sebenarnya, berkenalan disini pun sudah pernah dilakukan atau pasti akan dilakukan lagi pada hari hari mendatang. Tetapi, momen pengantin baru dan harus melewati malam pertama setelah siangnya telah terikrar akad nikah dan walimatul ursy, adalah suatu hal yang istimewa bagi para pengantin.

Bagaimanapun, akan hinggap perasaan kikuk dan canggung. Lelaki yang menjadi anggota keluarga baru adalah suami yang kini amanah diri kita berpindah di pundaknya. Istri yang kemarin adalah seorang perempuan yang tak boleh disentuh, kini menjadi halal dan ibadah bila didekati. Dan mungkin saja, belum ada sebersit pun rasa mencintai antara laki-laki dan perempuan.

Pada sebelumnya pastilah memang telah tertanam rasa saling tertarik dan menyukai. Hal inilah yang menjadi awal mula terwujudnya jenjang pernikahan. Betapa bahagianya dua insan yang beradu dalam pelaminan yang sama karena didasari rasa saling suka. Rasa bahagia itu yang kemudian dilanjutkan dengan rasa saling mencintai yang membuat rumah tangga semakin tentram.

Tapi bagaimana bisa mencintai pasangan yang kini sudah tersurat takdirnya menjadi suami atau istri kita? Apalagi pada detik detik pertama awal pernikahan. Apakah bisa serta merta perasaan itu semerbak dalam hati? Tentu saja bisa!

Ketika kita sudah mantap untuk menikah maka bersamaan ada sebuah keikhlasan untuk menjalani masa depan dengan pasangan kita. Kita yakin, bahwa suami atau istri kita adalah pemberian yang terbaik dari Allah Swt. Pada pasangan kitalah, Allah akan menggerakkan hari-hari yang sarat makna pada kemudian hari. Kita mungkin bisa menyaksikan betapa indahnya kehidupan keluarga baru, bisa merasakan karunia-Nya yang tak terhingga dan rezeki yang tak disangka-sangka, bahkan harus melalui kitalah akan lahir generasi umat masa mendatang.

Ikhlas inilah yang akan mengantarkan kita untuk berani membuka diri. Mengakui bahwa seperti inilah diri kita yang apa adanya. Berat bagi seorang perempuan untuk menanggalkan jilbabnya di hadapan laki-laki yang baru saja dikenalnya. Tetapi, kita yakin bahwa laki-laki tersebut adalah suami kita yang berhak untuk melihat rambut, leher, dan bagian kepala lain yang kita sembunyikan saat berjilbab. Harapan untuk menjadi ibadah lah penguat laku kita saat detik-detik yang amat canggung tersebut.

Kikuk bagi seorang laki-laki yang selama ini hanya bergaul dengan rekan sejawatnya yang sama-sama jantan, tetapi kini ada sosok yang sama sekali dulu tak pernah disentuhnya. Bahkan untuk menatapnya langsung pun sangat sungkan untuk dilakukan. Ada kelembutan seorang wanita yang kini boleh didekati.

Sekali lagi, ikhlas dan berani untuk membuka diri adalah awal bagaimana kita mengenal cinta. Sebuah rasa yang menyejarah dan pondasi dari peradaban manusia, bermula dari sepasang suami dan istri.