Bismillah,

-bagi sebagian orang, menulis adalah terapi pada jiwanya-

Konon, di Samudera Hindia lah akhir perjalanan dari pesawat Malaysia MH 370, penerbangan Malaysia – Beijing. Hilangnya pesawat milik maskapai Malaysia Airlines ini sejak lepas landasnya pada tanggal 8 Maret 2014 telah menyedot perhatian besar dunia. Mulai dari berbagai tim pencarian dari beberapa negara yang melibatkan SAR, angkatan udara dan laut, radar, dan satelit. Sampai orang-orang kecil seperti kami yang tertarik mengikuti perkembangannya. Banyak para pakar dilibatkan, baik itu menangani langsung maupun ikut memberi kajian dan komentar di media. Di antara komentar-komentar para ahli itu, sedikit banyak menyinggung peristiwa-peristiwa naas seputar pesawat terbang yang terjadi masa sebelumnya. Sebutlah jatuhnya pesawat Adam Air yang membawa 102 penumpang dari bandara Juanda tujuan Manado. Pesawat ini menurut salah satu sumber bilang kalau transit dulu di bandara Ujung Pandang, Makassar.

Saya baru tahu kalau ternyata investigasi pencarian jejak pesawat Adam Air telah rampung. Ini salah satu blog yang saya temukan waktu searching lebih lanjut. Tapi kata Mas Priyayi Muslim waktu saya tanya pendapatnya, isi artikel tentang pesawat Adam Air tersebut kurang berbobot dan tidak logis. Baiklah, mari kita cukup tahu saja ulasan dalam blog tersebut. Yang menarik, katanya sebelum akhirnya pesawat Adam Air tersebut jatuh ke perairan Majene, Sulawesi, pilot dan copilotnya meneriakkan Allahu Akbar!

Allahu Akbar! Allahu Akbar!

Memang bisa apa sih kita sebagai manusia. Kita ini benar sangatlah kecil di hadapan yang Maha Besar, Allah Azza wa Jalla. Kita bergerak sehari-hari, merencanakan ini dan itu, tapi akhirnya Allah jualah yang mengatur segalanya. Allah lah yang mempunyai kuasa atas seluruh makhluk-Nya. Bukan! bukan sama sekali kita tidak mempunyai peran insani. Tidak! Allah pun telah membekali dengan bekal yang sempurna, jasadi maupun ruhani. Disinilah kita bicara tawakal atas segala usaha yang telah kita tempuh dalam kapasitas kemanusiaan.

Pesawat Adam Air dan Malaysia Airlines, adalah salah satu bukti bahwa kuasa Allah yang menggariskan. Keberadaan pesawat sebagai alat transportasi yang menghubungkan berbagai daratan yang terpisah beribu-ribu kilometer dalam tempo yang singkat adalah suatu ikhtiar kita. Pesawat, termasuk saksi perjalanan para LDR-ers yang harus menempuh moda transportasi tersebut demi bertemu dengan keluarga tercinta. Saya, Mas Priyayi Muslim, dan ribuan pelaju nusantara lainnya pernah bergantung pada pesawat ini demi mengumpulkan kembali cinta yang terserak paling tidak sebulan sekali.

Kembali merenungi, Alhamdulillah ‘alaa kulli haal, Allah Swt. telah mudahkan perjalanan bolak-balik kami dahulu. Semoga Allah juga terus akan mudahkan perjalanan kami untuk pulang ke Jawa bertemu kedua orang tua kami. Aamiin. Begitu pun dengan rekan-rekan tangguh lainnya. Semoga Allah mudahkan berkumpul dengan keluarganya dan Allah berkahi setiap perjalanan kita. Memang terasa sulit, di satu sisi kita sangat membutuhkan pesawat terbang, tapi seringnya terlintas kejadian-kejadian buruk seperti di atas.

Allahu Akbar! Maka sekali lagi, bertawakallah wahai diri!😥

Kemudian yang perlu digarisbawahi lagi oleh saya tentang tawakal ini tentunya adalah soal rezeki. Oya, sekitar banyak bulan yang lalu ternyata saya pernah menuliskannya. 

Lalu praktik faktanya seperti apa? Ternyata, tidak semudah apa yang ditulis sendiri😀. Hihihi, masih sering bersedih, kesal, sebal di samping harus tetap menjaga khusnudzon, semangat, tawakal, berserah, enjoy, senang, dan bahagia. Nah loh! Rawan sedih tapi harus tetap bahagia, dinamika perasaan inilah yang sangat sulit diatur iramanya agar selalu stabil. Itulah mengapa saya menuliskannya lagi sebagai salah satu terapi bagi jiwa saya sendiri. Plus ada tema tentang tawakal juga yang pas untuk disambung-sambungkan, hehe.

“Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”  (QS Ali Imran 6).

Jadi, ntms, kembali merenungi salah satu ayat firman Allah Swt. di atas, hanya dan harus Allah yang menjadikan sesuatu yang sempurna di dalam rahim dan kemudiannnya. Harus tenang dan tetap bersemangat karena hidup yang sekarang dijalani sudah pasti telah ditentukan pada mulanya dan yang terbaik.

Sekali lagi, mohon doanya saja yaaa, biar makin banyak orang shalih dan shalihah yang turut mendoakan. ^^