Tags

, , ,

Bismillah,

Ternyata, terakhir kali posting tertera pada tanggal 10/02/2014 (selain reblogged dan ganti background). Berarti sudah satu bulan lebih tidak menyapa blog ini. Tentunya ada semacam perasaan gatal ‘kok belum posting lagi yah’. Sebetulnya, tidak ada cerita-cerita seru juga, mungkin hanya niat beberapa tema yang ingin ditulis. Tapi terlalu lama tidak ngeblog berdampak menjadikan rasa malas dan bimbang untuk memulai nulisnya lagi. Oke! Biasanya juga gitu si, menguap begitu saja. Hihihi..

Jadi, biarkan ini sedikit corat-coret campur-campur demi ada entry blog di bulan Maret ini, hihihi…^^ (bukan niat yang tulus yah, fiyuh -_-)

Sepertinya, saya sudah pernah cerita kalau kantornya Mas Priyayi Muslim memang jauh jaraknya. At least, perjalanan memakan waktu kurang lebih satu jam. Tapi, entah mengapa beliau hampir sering berlarut-larut di kantor dan melebihi jam kerjanya. Apakah saya istri yang kurang baik sehingga beliau juga tidak betah di rumah? Apakah saya tidak memasak malam itu sehingga tidak ada makan malam yang disantap? Atau apakah saya sudah tidak cantik lagi di matanya sehingga terkesan mengabaikan suami tercinta? Baik, saya mulai berlebihan.😀

Sering kali, saya heran pada Mas Priyayi Muslim yang terlewat sensitif. Bahkan, mungkin dalam beberapa hal, jauh lebih sensitif dari saya yang seorang wanita. Tak jarang juga saya yang menjadi penyebab sensitivitasnya memuncak. Apalagi beberapa pekan ini menjelang hari pemilihan umum semakin dekat. Loh, apa hubungannya coba? Apakah suami saya calon anggota dewan? Atau ternyata suami saya adalah calon presiden yang digadang-gadang partai tertentu? Benarkah suami saya adalah seorang politikus? hehe, kembali lebay…

Mas Priyayi Muslim ini, sejak sekitar tiga tahun yang lalu memang fokus juga di dunia jurnalistik. Beliau masuk dalam keredaksian beberapa media online. Makin hari makin dekat tanggal 9 April, makin banyak saja intrik yang dilakukan berbagai calon anggota dewan maupun tim dibalik layarnya agar bisa menang dan sukses masuk ke kursi parlemen. Menyerang lawan politiknya sudah menjadi strategi yang lazim. Astaghfirullah…

Nah, dimana letak sensitivitas suami saya dalam masalah ini? Oya, suami saya ini lebih pada posisinya sebagai salah satu kru media islam. Yang jelas, saat suatu prinsip terkait akidah, akhlak, muamalah yang telah jelas-jelas diatur oleh agama kita diusik atau disimpangkan, Mas Priyayi Muslim menjadi tersengat. Alhamdulillah, jujur saya bersyukur, beliau dalam keadaan sibuk bekerja dan lelah perjalanan masih peduli dengan hal ini. Kalau saya yah, sepertinya sudah makin jauh peduli dengan yang demikian. Apalagi soal domestik rumah tangga yang belum bisa terangkum semua.

Tak jarang, beliau pulang malam karena masih tercenung akan ini dan itu. Bahkan, dua malam yang lalu, beliau minta izin ke saya pulang telat karena galau. What? Galau kenapa lagi? Kan sudah ada saya toh sebagai istrinya *sigh-sibak jilbab…Ternyata, pagi-paginya beliau menerima pesan singkat dari kakak ipar saya yang domisili di Berbah, Sleman. Kakak Mas ini sedang gondok lantaran sikap oknum dari partai tertentu. Pasalnya, sampai malam itu, Mas Priyayi Muslim jadi ikutan gondok dan merenung dalam. Sampai beliau menulis broadcast yang beliau share untuk kontak-kontaknya termasuk saya. Begini, broadcast yang terkirim di bbm saya malam itu..

Tujuan Tidak Menghalalkan Cara

 “Sulit sekali rasanya aku akan membayangkan bagaimana mungkin kita akan mencapai tujuan mulia dengan menggunakan cara hina. Sungguh tujuan yang mulia tidak bisa hidup kecuali dalam hati yang mulia. Lalu bagaimana mungkin hati yang mulia itu akan sanggup menggunakan cara yang hina?

Dan lebih jauh dari itu bagaimana mungkin ia menemukan cara yang hina itu? Ketika kita akan mengarungi telaga berlumpur ketepi sana, pastilah kita akan mencapai pantai dengan berlumuran lumpur pula. Lumpur-lumpur jalanan itu akan meninggalkan bekas pada kaki kita, dan pada jejak keki kita. Begitu pula kalau kita menggunakan cara hina, najis-najis itu akan menempel pada ruh kita, akan membekas pada ruh itu dan pada tujuan yang telah kita capai juga.

Sebenarnya cara dalam ukuran ruh, merupakan bagian dari tujuan. Dalam alam ruh, tidak ditemukan perbedaan dan pemisahan antara keduanya. Hanya perasaaan manusiawi sajalah yang tidak akan sanggup menggunakan cara hina untuk mencapai tujuan yang mulia. Dan dengan sendirinya pula ia akan terhindar dari teori “tujuan menghalalkan cara”. Teori itu merupakan hikmah terbesar bangsa Barat, karena bangsa Barat itu hidup dengan akalnya, dan dalam keadaan demikianlah ditemukan perbedaan dan pembagian antara cara dan tujuan.”

(Sayyid Quthb, dai kontemporer Mesir)

Astaghfirullah, memang ngeri banget kenyataan di lapangan terkait sikut-sikutan partai. Inipun saya tidak banyak tahu, tetapi pernah diceritakan di Manado sini, ada caleg dari suatu partai memberi uang Rp 250.000 per kepala demi pas pemilu nanti nyoblos ini orang. Subhanallah! Ya memang beginilah kondisi bangsa kita. Apakah dengan seperti ini lantas kita justru apatis? Kalau saya BIG NO! Saya sadari, saya hidup di Indonesia yang mempuyai berbagai tatanan dan aturan sedemikian rupa. Memang saya memimpikan punya pemimpin laiknya sahabat Umar, sang Al Faruq. Tapi, punya pemimpin sekelas Umar tidak dicapai dengan cara berdiam diri. Kita mulai perbaiki sistemnya di samping kita juga harus benahi kondisi umat Islam itu sendiri. Oleh karena itu, saya memilih ikut kontribusi memilih yang terbaik menurut kacamata Islam yang tentu saja yang saya pilih juga mau memperjuangkan Islam dan bangsa Indonesia secara keseluruhan. Oya, perlu diketahui kalau Islam itu universal, aturan dan norma-normanya bermanfaat untuk seluruh umat tanpa kecuali.

Aha!, saya baru ngeh. Kayaknya, suami saya merenung sedemikian dalam sedang mencari kata-kata Sayyid Quthb ini deh😀 *piss Mas. ^^x

Semoga Allah menyelamatkan bangsa kita ya, jangan sampai wakil rakyat kita nanti diisi oleh orang-orang yang menginginkan kehancuran. Apalagi ditambah orang-orang yang justru ingin memperkaya golongannya dan menguasai bangsa ini dalam korporasi kapitalis yang juga menghancurkan. Hehe..maap ya banyak omong malahan.

Lalu, bagaimana kabar saya? Hahaha…Alhamdulillah, saya sehat. Kami sehat. Mohon doanya terus ya untuk keluarga kami. Insya Allah saling mendoakan bagi kaum muslimin dan muslimah semuanya ^^,

Salam hangat untuk Indonesia lebih baik! Aamiiin