Tags

, , , ,

Ketika pasangan suami istri sudah resmi menikah melalui sebuah majelis akad nikah yang mulia, maka sesuai dengan petunjuk Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam sunnahnya adalah mensyiarkan pernikahan mereka dengan walimatul ‘ursy. Walimah ini diadakan sebagai wujud ungkapan syukur atas bersatunya dua insan dalam koridor pernikahan yang suci dan sarat ibadah. Sebagian ulama lain mewajibkan adanya walimah ini berdasarkan hadits Rasulullah yang menyuruh Abdurrahman bin ‘Auf untuk menyelenggarakan walimah, “Adakanlah walimah walaupun hanya dengan menyembelih seekor kambing.” (HR Bukhari-Muslim).

Insya Allah sudah banyak sekali buku-buku pernikahan yang di dalamnya juga mengupas perihal walimatul ‘ursy ini beserta tuntunannya. Dalam blog ini bisa disimak juga pada Merayakan Cinta, ada sedikit ulasannya.

Walimah, mungkin identik dengan pesta. Tapi walimah bukan bermakna pelaminan. Hal inilah yang sering disalahkaprahkan dalam praktiknya di masyarakat. Ketika anjuran untuk menghelat walimah ini dikawinkan dengan tradisi serta adat budaya sekitarnya, namun pelaksanaannya justru beberapa hal melebar dari syariat. Dewasa ini, memang penyelenggaraan pesta pernikahan sudah banyak yang menyesuaikan dengan perubahan zaman. Seperti, pemakaian jilbab yang semakin semarak pada kalangan muslimah turut membuat gencarnya busana pengantin yang tidak lagi menampakkan aurat serta mengganti sanggul rambutnya dengan kerudung.

Tetapi sayang beribu sayang, beberapa penampakan pengantin wanitanya meskipun sudah mengenakan kerudung tetapi masih menampakkan lekuk tubuh ataupun bagian dadanya. Bahkan terkadang riasan yang memulas wajah sang pengantin tidak banyak berbeda dengan dandanan Ratu Roro Kidul yang menor. Ups! Bukan apa-apa, tetapi hal ini juga terkadang karena diri kita sendiri sebagai pengantin yang luput menjaga keaslian wajah kita. Hal yang haram dilakukan misalnya mencukur alis bahkan sampai ada yang menghilangkannya. Seperti yang pernah dibahas dalam beberapa rujukan berikut, konsultasi syariah dan rumaysho.com. Atau bisa kita simak yang lebih lengkap pada kitab-kitab Fikih.

Selain mencukur alis, hal yang biasanya dilalaikan adalah dandanan penganti itu sendiri. Tukang rias yang kita percayakan biasanya bersikap profesional. Mereka tentu mau dan berupaya agar hasil riasannya terutama pada wajah pengantin itu bagus karena akan disaksikan oleh banyak orang sehingga bisa menjadi sarana promosi tukang rias tersebut untuk kesempatan lainnya. Tukang foto yang mengabadikan momen indah nan berhargaita bisa jadi ikut andil karena mereka menginginkan hasil jepretannya adalah yang terbaik. Untuk mendapatkan hasil foto yang bagus memang tidak bisa dipungkiri pengantin sebagai fokus utamanya mestinya paling mentereng. Riasan yang polos membuat hasil foto menjadi terkesan pucat dan tidak bagus.

Model kerudung sebagaimana zaman sekarang ini yang sudah berlebihan dalam improvisasinya juga menambah kurang baiknya dandanan. Kain yang dililit kesana dan kemari, serta ditambah banyak accesories demi menambah kesan cantik dan modis. Banyak yang akhirnya pada bagian dada sang pengantin tersisa sedikit sekali kain sebagai penutupnya. Hal-hal ini yang harus kita perhatikan baik-baik.

Begitulah dilemanya kita sebagai pengantin perempuan. Terlebih banyak pihak yang turut menginginkan momen yang meriah ini terlaksana dengan baik. Tetapi, yang seharusnya kita ingat adalah, baik di mata manusia seluruhnya belum tentu baik di mata Allah Swt. Mungkin, setan akan mudahnya memplesetkan niatan kita dengan pikiran ‘sekali kali ini’. Justru momen yang kita gadang-gadang ini, yang mungkin hanya sekali dalam perjalanan hidup kita, yang menjadi tonggak bergulirnya sejarah baru hidup kita, yang menjadi pijakan rumah tangga baru kita, yang menjadi awal dari semua peradaban, ikhlaskah bila kita menodainya dengan kecantikan semu yang sesaat?

Jawabannya ada pada hati kita sendiri. Apakah riasan yang telah menyulap wajah kita adalah yang berlebihan menurut hati kita? Karena, berlebihannya suatu hal akan tampak berbeda bila diukur dengan hati dan iman yang berbeda. Mari kita jadikan pernikahan kita adalah sebaik-baik pernikahan. Selalu ada ruang kesempatan untuk merangkul semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraannya untuk turut mensukseskan sebaik-baik pernikahan kita. Serta selalu berdoa supaya Allah Azza wa Jalla memudahkan segala urusan kita untuk merapat dengan syariat-Nya.

Happy Wedding, Dear! ^^

 

cover npsps