Tags

, , , ,

Ngomong-ngomong soal menyetrika, ada nggak yah yang memang suka atau gemar melakukan pekerjaan ini? Hihihi, *cung *ngga ada yah -_-

Nyetrika jika dikaitkan dengan urusan rumah tangga bisa jadi krusial. Semua sandang yang akan dipakai anggota keluarga baik acara resmi atau santai sepertinya memang lebih elok dipandang jika disterika dulu. Pakaian jadi terasa lebih bagus, licin, dan sedap dipakai juga. Tapi masalahnya kalau kita dihadapkan juga dengan pekerjaan lain yang ternyata sama krusialnya. Misalkan memasak yang berkaitan dengan urusan pangan keluarga. Atau mencuci pakaian yang mana kita tidak bisa nyetrika kalau pakaian kita juga masih kotor dan belum dicuci *ya iyalah* Serta berbagai pekerjaan rumah tangga lainnya. Bisa jadi pekerjaan menyetrika yang notabene biasanya memakan waktu yang cukup panjang sehingga sangat mungkin dilanda kebosanan, kita jadi akan mengenyampingkannya. Hehehe…mungkin itu berlaku buat saya saja sih sebenarnya.

Jadi, bagaimana saya menyusun daftar skala prioritas pekerjaan rumah tangga? Apakah memperhatikan dan menimbang berbagai macam kemaslahatan yang akan didapat? Hehehe…setelah menjalani kehidupan rumah tangga sehari-hari kiranya saya jadi tahu pekerjaan apa yang suka saya lakukan atau saya malas laksanakan.😀

Tiap rumah tangga bisa jadi berbeda karena lagi-lagi kondisi keluarga juga kan berbeda. Dulu, ketika masih kuliah saya pernah mendengar nasihat dari seorang ustadzah. Beliau berpesan kalau nanti kami menikah, meski sesibuk apapun, usahakan makanan yang dimakan keluarga adalah masakan istri.

Seiring waktu beberapa masukan lain seperti ada seorang istri yang sangat berusaha agar baju-baju suaminya dicuci sendiri olehnya. Dia ingin setiap baju yang dicuci itu bisa menjadi pahala bagi sang istri. Masya Allah, sepertinya semua pekerjaan yang dilakukan istri bisa menjadi ladang pahala tentu bersyarat ikhlas.😀

Serta patut berbahagia pula bagi istri yang bisa melakukan semua pekerjaan rumah tangga tersebut untuk mencari ridho Allah sekaligus menyenangkan suami. Insya Allah, semakin berlimpah kebaikan dan pahala yang akan diterima. Tapi, bagaimana kalau kondisi kita kurang menungkinkan untuk itu, misal karena keterbatasan fisik atau keterbatasan sumber daya waktu sehingga tudak bisa menghandle semua?

Jadi, mari pilihlah amalan unggulan kita untuk suami dan keluarga. Jangan sampai kita kehilangan semua kesempatan mendulang pahalanya. Paling tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mereka. Kalau saya sendiri, mungkin pilihannya jatuh kepada memasak. Meski akhirnya tidak setiap hari saya membekalkan makan pagi dan siang untuk Priyayi Muslim karena kecapekan atau ngantuk di pagi hari, hihihi..saya usahakan untuk kembali ke normalnya. Yakni memasak sayur dan lauk walaupun sangat sederhana. Entah itu beningan dan tempe goreng. Tapi memang itu yang paling disukai suami.

Biasanya kalau penyakit malas saya kembali melanda bahkan sampai tiga empat harian, Priyayi Muslim sambil melas begitu merayu saya untuk memasak lagi. Yah akhirnya lagi lagi kembali ke menu praktis telor dadar campur sayuran. Hehehe…

Pada akhirnya, saya harus mengakui kalau hingga hari ini saya belum bisa mendedikasikan amalan saya untuk suami itu dengan menyetrika baju-bajunya.😦 Pinginnya itu kan semua sandang dari berbagai model dan bahan saya setrika sebelum masuk lemari. Tapi apa daya, akhirnya sekarang menyetrika kalau mau dipakai saja. Hehehe…Gapapa, biar dikit yang penting suami ridho😀