Meski belum merasakan sendiri urgensi akan peran ART, saya mengamati teman-teman di lingkungan kerja yang notabene suami dan istri sama-sama bekerja. Pasangan tersebut serta saya dan suami nantinya, insya Allah, sudah harus berangkat pagi hari menuju ke kantor. Pulang ke rumah tentu sore hari setelah pukul 17.00. Bila jarak dari rumah ke kantor juga ternyata lumayan jauh untuk ditempuh pulnag pergi, maka waktu yang dihabiskan di kantor dan perjalanan juga lebih lama. Apalagi kalau istirahat siang juga pastinya tidak bisa menyempatkan pulang ke rumah.

Anak-anak di rumah juga tidak mungkin ditinggal sendirian di rumah kan, hehe😀. Oleh karena itu, biasanya para orang tua ini akan melist beberapa alternatif terkait pengasuhan anak-anak paling tidak selama waktu mereka bekerja. Biasanya beberapa alternatif berikut ini:

1. Menitipkan pada orang tua/ saudara/ tetangga yang amanah dan profesional.

2. Menitipkannya pada asisten rumah tangga, baik part time atau full time.

3. Menitipkan pada daycare atau semacam TPA (Tempat Pengasuhan Anak).

Ketiga-tiganya adalah alternatif. Masing-masing rumah tangga mempunyai tipikal sendiri. Bisa jadi rumah tangga satu memilih alternatif 1 karena berbagai alasan, tetapi alternatif 1 itu ternyata tidak cocok dengan kondisi rumah tangga lainnya.

Bilamana rumah tangga akhirnya memutuskan untuk mengambil pilihan no. 2, dengan menggunakan jasa orang lain untuk ikut serta merawat anak mereka. Disini, kita melihat, yang namanya kerja sama dengan orang lain itu pasti punya banyak macamnya. Misalnya pengalaman saya yang sangat minim ini tentang ART. Berawal dari saya yang pingin mengeluh soal kesulitan waktu untuk menyetrika. Mungkin sebenarnya saya saja sih yang malas. Hehe..:-P

Pekerjaan yang satu itu rasanya bisa menghabiskan separuh dari hidup saya (lebay). Jadi kepikiran lebih baik waktunya buat melakukan yang lebih penting atau hal lain yang memang saya suka. Disampaikanlah hasrat tersebut kepada suami tercinta. Alhamdulillah, gayung pun bersambut, Priyayi Muslim setuju untuk memakai jasa penyetrika. Akhirnya, kami mencoba melihat kemungkinan beberapa tetangga kontrakan yang bisa dimintakan tolong.

Kami pun sudah mulai bersilang pendapat mengenai mekanisme pekerjaan si ibu yang kita bidik nantinya. Belum sampai kata mufakat akhirnya kami sudah meminang si ibu tersebut. Waktu itu beliau belum menyatakan kesediaannya karena ternyata pekerjaannya membantu tetangga yang lain juga sudah full. Beliau bilang akan mengabari besoknya.

Setelah hari itu saya pun mulai sms kepada si ibu. Ternyata sampai hari berikutnya beliau baru bisa menjawab kalau tidak bisa. Beliau juga bilang mau mengabarkan kalau ada tetangga lain yang bersedia. Tapi, sampai hari ini pun masih nihil sms dari si ibu.

Akhirnya, sampai sekarang belum menggunakan jasa penyetrika. Baju-baju keperluan kami disetrika seadanya saja. Hihihi…

Pengalaman saya yang secuil ini pun sudah dapat memberi gambaran kalau menemukan ART yang dapat membantu kita dan bekerja sama untuk merawat anak atau membereskan pekerjaan rumah tangga lainnya ternyata tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, hihihi.

Dan hari ini, saya mendapati sebuah pelajaran lagi dari teman kantor. Kebetulan, teman saya ini bertemu jodohnya setelah beliau penempatan di kota Manado ini. Sama-sama bekerja di instansi yang sama. Setelah cuti melahirkan dihabiskan di kampung halaman di Wates dan Temanggung. Mbak dan mas ini segera kembali ke Manado dengan membawa bayi perempuan mereka. Sayangnya, selama di Jawa hampir tiga bulan itu, mereka tidak mendapatkan tenaga ART yang sangat dibutuhkan.

Pertimbangan untuk memilih ART juga bermacam-macam. Ada yang lebih cocok jika sesuku bangsa atau dari kampung halamannya. Masalahnya, tidak semua orang mau merantau jauh ke Manado ini. Saya pun mencoba maklum. Mungkin soal gaji, mas dan mbak teman saya ini bisa memberikan gaji yang lebih besar daripada rate di Jawa. Tetapi bagaimana kalau masih ada keluarga atau tanggungan yang mesti harus diurus, berikut permintaan lainnya yang sulit sekali untuk dibawa ke Manado sini.

Akhirnya, mas dan mbak ini mendapatkan ART part time di kota ini. Ibu itu asli Manado. Saya yang pernah bersilaturahmi ke rumah mereka juga merasakan ibu itu sebenarnya sayang dan baik terhadap anak. Bagi pasangan rumah tangga, terkadang asal ART nya bisa sayang dan diterima dengan baik oleh anaknya itu sudah lebih dari cukup persyaratan lainnya.

Tapi, setelah kurang lebih tujuh bulan berjalan. Si ibu ini ternyata mempunyai beberapa masalah di rumahnya. Alhasil, beliau sering datang terlambat ke rumah teman saya. Kalau sudah begitu, biasanya mereka akan kerepotan pada pagi harinya karena mereka juga harus menghindari terlambat absensi yang bisa menyebabkan potongan gaji.

Sekitar usia 9 bulanan anak mereka, si mbak mendapat rezeki kehamilan lagi yang katanya tidak direncanakan. Hehe…sampai suatu pagi, saat kami berpapasan setelah menghamburkan jari masing-masing di mesin absen. Kami sempat bercerita kalau sabtu besoknya, mbak dan mas akan memulangkan Hasna ke Jawa untuk diasuh orang tua di Temanggung.

Pada akhirnya, saya hanya jadi hampa. Mbak dan mas ini mengambil jalan seperti teman kantor saya sebelumnya. Dua anak-anak si mbak dititipkan ke orang tua di Bantul. Di Manado ini, mbaknya hanya bersama anak ketiga dan ART yang dibawa dari Jawa. Suaminya dimana? Setelah menyelesaikan tugas belajar beliau di tempatkan di Jogja juga.

Tercenung saya memikirkan keputusan yang akhirnya diambil oleh teman saya ini. Ada yang bilang, bagi pasangan LDR yang lebih sulit untuk dibendung kangennya adalah kepada anak. Jika untuk pasangan kita masih bisa memanajenya, lain halnya dengan berpisah dengan anak.

Hampa karena akhirnya si kecil, Mbak Hasna, harus belajar hidup mandiri sedini mungkin jauh dari Bapak dan Ibunya. Saya tidak bisa memikirkan hal demikian karena saat ini kondisi kami masih belum sampai ke taraf tersebut.

Semoga mbak Hasna baik dan makin shalihah di sana ya :peluk :*