Jauh sebelum masa ini, saya merasa mempunyai banyak energi dan letupan semangat yang besar untuk mencapai sesuatu. Bukan mentargetkan sesuatu yang tertinggi dan menonjol. Mungkin lebih tepatnya, saya inginnya usaha maksimal. Alhamdulillah alaa kulli hal, Allah mudahkan jalannya untuk menggenggam berbagai capaian yang sejujurnya tidak pernah saya bayangkan setelah berbagai usaha yang bisa saya lakoni.

Hingga terbentuk suatu mindset dalam alam pikir saya bahwa insya Allah, saya bisa karena usaha yang maksimal juga. Qadarullah, Allah menyetujui capaian-capaian tersebut. Sampai pada suatu waktu, diri ini pun terbentur kenyataan bahwa jalan yang Dia pilihkan tidaklah sesuai dengan apa yang saya rencanakan. Saya merasa cukup lama untuk kembali sadar jaga. Mulai saat itu, saya merasa apa yang ingin diraih tidaklah semudah ketika dulu satu demi satu terpetik capaian-capaian.

Beberapa pelajaran dan ilmu yang pernah saya lalui pun terasa kandas saja. Seolah tidak bisa dengan mudah saya aplikasikan saat itu. Pernah ada suatu kebingungan akan hakikat diri sebagai makhluk Allah yang papa dan lemah. Tetapi justru tidak segera menerima apa yang sudah menjadi jalan pilihan Allah Swt. Sampai suatu saat, saya menemukan kata-kata sarat hikmah kurang lebih seperti ini,

Jika Allah sudah berkehendak, maka walaupun seluruh makhluk yang ada di langit dan bumi ini bersatu untuk menghalangi, tetap akan terjadi sesuai kehendak Allah. Namun, jika Allah tidak berkehendak, maka walaupun seluruh makhluk yang ada di langit dan bumi ini bersatu untuk mewujudkannya, tetap tidak akan terjadi apa yang tidak dikehendaki Allah.

Allahu Akbar!

Memang manusia itu bukanlah apa-apa dan siapa-siapa bila dibandingkan dengan kehendak-Nya. Dan setelah menikah, proses belajar pada kehidupan pun lebih harus disiagakan. Karena, tidak semua yang kita bayangkan itu akan mewujud pada kenyataan. Pada masa-masa awal pernikahan pun, saya yang masih gagap mempelajari ilmu baru ini makin merasa kesulitan memahami arti kehidupan ini. Tsaaah…

Kepada sang suami lah, semua akhirnya tertumpah ruah, rasa janggal, takjub, aneh, tidak sabar, keluh, marah-marah, ngomel-ngomel, dan seterusnya. Maka, di awal-awal pernikahan itulah pada masa-masa bertemu fisik yang teramat singkat, pernah ada suatu masa, Priyayi Muslim mempertanyakan arti tauhid pada saya. Glek! Pernah pula, kami berdebat soal manhaj di bus kota dengan memberi jarak antara yang ahlul bid’ah dan ahlussunnah, padahal kami duduk berdekatan. Pernah terjadi juga ketegangan di atas motor karena yang satu merasa pesimis dengan keadaan yang satu selalu optimis memandang hidup.

Begitulah hidup. Selalu berkembang. Maka semestinya semakin bertambah usia kita, semakin bertambah kompleks kehidupan, maka semakin arif pula kita menjalani hidup. Kini, saya mungkin tidak mendapati adanya energi yang begitu besar atau semangat yang meluap-luap untuk mendapatkan sesuatu. Entah mengapa, kini berganti suatu perasaan yang inginnya cukup atas apa saja yang Allah berikan kepada kami. Tidak lagi mengejar-ngejar sesuatu yang hanya terlihat tinggi dan menonjol.

Berada di samping suami saya, bersama keluarga yang Allah berkahi, dan bisa beribadah dengan baik dan diridhoi dengan orang-orang serta keluarga yang dicintai adalah suatu pencapaian-pencapaian yang mungkin tidak berwujud. Tetapi sungguh, terasa sekali kebahagiaannya di hati ini.

People changes, again. Dan saya mau belajar untuk menjalani hidup yang dinamis ini dengan baik. Kalau dulu prinsipnya adalah usaha maksimal dan insya Allah pasti bisa, mungkin sekarang perlu ditambah dengan, tawakalkan pada Allah hasilnya. Serta selalu yakin dan percaya atas apa kehendak Allah Azza wa Jalla yang memberikan jalannya untuk kita.

allahu a’lam.