Tags

, , , ,

Rabu pagi (15/1/14), saya memutuskan untuk tidak ke kantor mengingat kondisi badan masih kurang enak. Dan pagi itu, giliran Priyayi Muslim yang jatuh sakit setelah kemarinnya beliau yang menyiapkan bubur dan bobor bayam untuk saya. Akhirnya kami saling substitusi lagi, saya yang sudah reda panasnya memasakkan bubur dan sup untuk beliau. Kelar masak dan sarapan, badan saya ternyata tidak kuat bertahan yang akhirnya demam lagi. Hingga kami akhirnya benar-benar sudah sama-sama tergolek lemas. Listrik dalam keadaan mati dan di luar hujan turun sangat keras disertai angin yang kencang (yang belum berhenti sejak selasanya).

Setelah siang, kami mulai mendapati kabar-kabar yang mengisyaratkan terjadi sesuatu yang benar-benar besar di kota Manado ini. Beberapa status teman kantor mulai menunjukkan tanda-tanda yang kurang menyenangkan. Mulai dari yang sedang memantau air apakah akan masuk rumah sampai status sedang bertahan di atap rumahnya. Innalillahi.

Beberapa teman lain pun mengabarkan keadaan serupa. Rupanya air bah telah membanjiri jantung kota Nyiur Melambai ini. Kami semakin terperangah ketika searching di media sosial bahwa Manado benar-benar tenggelam banjir bandang siang itu. Hari beranjak senja ketika kami juga memantau lewat radio bahwa banjir hampir serempak menyeruak di lima kecamatan serta melumpuhkan beberapa akses jalan dari Manado ke sejumlah kawasan sekitar akibat longsor atau jembatan putus.

Suram sekali rasanya. Alhamdulillah daerah rumah kami aman karena berada di daerah ketinggian. Praktis, kami sama sekali tidak merasakan air yang meluap dari sepanjang sungai di dalam kota Manado. Di rumah, kami hanya sama-sama menikmati tubuh yang demam, batuk-batuk, dan flu. Sebenarnya, kami pun masih setengah tidak percaya kalau Manado benar-benar tenggelam hari itu. Melihat banyak foto yang menceritakan dahsyatnya bencana ini di jalan-jalan atau daerah yang biasa kami lewati sehari-hari untuk ke kantor atau aktivitas lainnya. Innalillahi,  banjir bandang ini memang nyata.

Di sisi lain, kami ingin mengucapkan banyak-banyak terima kasih. Baarakallahu fii kum wa jazakumullah khairan katsir bi ahsanil jaza atas segala pertolongan dan bantuan teman-teman semuanya. Atas doa yang disampaikan dan doa yang tersembunyi untuk mendoakan kesehatan bagi kami. Alhamdulillah, hingga kamis malam kami masih sama-sama merasakan sakit. Namun, Jumat paginya seperti ada kekuatan yang membuat kami mulai pulih dan alhamdulillah sehat kembali. Semoga Allah Swt. melimpahkan kebaikan yang lebih banyak untuk teman-teman semua, Allahumma aamiin.

Sabtu, kami merasa sudah fit dan akhirnya keluar kandang. Ada tante (saudara ipar Bapak saya) yang tinggal di kampung Banjer, salah satu daerah yang ‘habis’ karena diterjang banjir kemarin. Siang itulah yang benar-benar telah menampar saya secara pribadi. Sebelum ini, saya benar-benar belum tahu sampai bagaimanakah dampak banjir yang melanda rumah-rumah. Sebelum-sebelumnya, saya hanya bisa lihat di TV atau berita online. Dari gambar-gambar tersebut ternyata belum sepenuhnya sampai ke hati nurani ini.

Tapi, siang itu berbeda. Kami berboncengan motor untuk sampai kesana. Melewati jalanan yang masih banyak ditutup karena banyak barang-barang yang hanyut atau sedang dibersihkan warga sekitar. Jalan sangat padat saat itu. Lumpur, sampah, barang-barang berbagai perkakas rumah tangga, kendaraan, semua berserakan.  Membayangkan kalau mesin cuci, kulkas, TV, kipas angin, kompor, lemari, baju-baju, sofa, meja, kursi, mobil, motor, kasur, dll yang penuh lumpur, rusak, kotor, itu adalah milik saya. Saya harus ngapain ya? Apakah saya bersihkan, saya perbaiki, atau saya biarkan saja barang-barang tersebut hanyut bersama banjir bandang? Tapi nanti saya jadi gak punya barang-barang itu. Terus nanti makan apa, masaknya bagaimana?

Allahu Akbar!

Cukup kiranya bagi kami. Semoga tidak perlu kami merasakan sendiri bencana itu, tetapi tamparan ini semoga sudah mampu menyadarkan kami atas ketiadaan empati, hati, simpati, dan introspeksi yang sebelumnya biasa-biasa saja. Hufh.