tunjukilah kami jalan yang lurus (2)

Dec 18, ’10 10:50 PM
untuk semuanya

Bismillaahirrahmaanirrahiim,Arwah -sebuah kata yang merupakan bentuk jamak dari kata ruh- manusia ternyata telah diciptakan Allah jauh sebelum sang manusia itu lahir ke muka bumi ini. Bahkan sebelum dunia dan seisinya ini diciptakan, telah tercipta ruh-ruh manusia pada zaman azali. Dalam bahasan ilmiah yang kita ketahui, bermula setelah pertemuan sel sperma dan ovum kemudian terjadilah fertilisasi yang akhirnya berkembang menjadi janin dalam rahim seorang wanita sebagai sebuah tempat yang kokoh. firman Allah Swt yang turun ke langit bumi empat belas silam pun sejatinya telah mengurai kejadian yang menakjubkan tersebut, dalam ayat “Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk  yang  lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.

Di usianya pada bulan keempat, jasad kecil itu kemudian bernyawa, “Maka  apabila telah Kusempurnakan kejadiannya  dan Kutiupkan kepadanya roh Ku,  maka hendaklah  kamu tersungkur dengan  bersujud kepadanya,” seruan sang Khalik pada firman-Nya QS Shaad: 72. Sejak saat itu, ruh akan bersemayam dalam jasad, menemani sang jasad tumbuh dan berkembang. Melewati sepenggal masa kehidupannya di dunia untuk menjalani serangkaian takdir yang tengah menantinya seraya berarak pasti menjemput takdir kematiannya.

Dalam sebuah riwayat, disebutkan bahwa bapak para manusia, Nabi Adam as, pernah diajak berkeliling untuk melihat arwah keturunannya kelak. Beliau tersenyum saat melihat barisan sebelah kanan karena terdapat kumpulan ruh para mukmin yang hatinya diselimuti tauhid dan keimanan yang mendalam. Namun, tatkala pandangannya menengok ke sebelah  kiri, raut muka Nabi Adam seketika berubah karena beliau melihat arwah keturunannya yang kafir dan mendustakan Tuhannya. Digambarkan pula bahwasanya antara arwah para mukminun dan kafirun sejatinya tidak akan pernah bertemu. Mereka berada dalam tempat asalnya masing-masing dalam batas yang terang. Mereka betah bergumul satu sama lain. Bahkan ruh dari orang-orang yang kelak menetapi jalan lurus semestinya telah mengenal dan saling berkerumun sesamanya.

”Ruh-ruh itu ibarat tentara yang saling berpasangan, yang saling mengenal sebelumnya akan bersatu dan yang saling mengingkari akan berselisih.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan…“Ruh-ruh itu adalah tentara-tentara yang selalu siap siaga, yang telah saling mengenal maka ia (bertemu dan) menyatu, sedang yang tidak maka akan saling berselisih (dan saling mengingkari)”. (HR. Muslim)

Ruh tersebut adalah milik para anbiya, shiddiqin, syuhada, dan hamba-hamba yang salih. Maka sekali lagi, selayaknya kita harus senantiasa berdoa, “Tunjukilah kami jalan yang lurus.” Agar pada kesudahan hidup kita nanti, ruh yang tercerabut dari jasad bisa kembali ke hadirat Allah dan kembali kepada lingkaran-lingkaran cintanya terdahulu. Lingkaran yang terbentuk atas ruh-ruh perindu pertemuan dengan Allah Swt.  Maka tidak heran, jikalau baru saja kita mengenal seseorang yang salih, tetapi seumpama kita telah mengenalnya jauh sebelum ini. Bagai menjabat saudara dengannya yang penuh rasa saling percaya, obrolan yang nyambung, menghangat pembicaraannya, dan amat mudah mengakrabinya. Mungkin, ruh yang bersemayam dalam jasad masing-masing dahulunya telah berkumpul dan akrabsatu sama lain. Dan Allah memberi kesempatan raga pemilik ruh ini, bisa bersua di alam dunia yang fana.

Ruh itu akan bersifat kekal. Ia datang dari kawanannya, baik kumpulan baik, maupun kumpulan buruk, maka akan kembali ke tempatnya semula. Dia yang akan menghuni hamparan surga maupun sesaknya neraka. Saat manusia melewati masa kehidupan yang sebentar ini, ruh yang di dalamnya pun diberi kesempatan menghabiskan waktunya di bumi. Ia merasuk dalam jasad-jasad sebagai kendaraan ruh. Maka ,di dunia ini sang jasadlah yang beramanah menjadi nahkoda ruh. secara ilmiah, ruh diidentikan dalam bahasa kesehatan sebagai jantung. Jantunglah yang senantiasa berdenyut selama masih ada nafas dan jantunglah yang terus menerus memompakan sirkulasi darah dan oksigen sebagai bahan baku proses metabolisme. Kemudian, bahasa kita yang salah kaprah lebih sering menyebutnya dengan “hati”. Sebuah wujud metafisik yang justru sangat berpengaruh pada kehidupan manusia. Dengan hatilah, manusia bisa merasakan kehidupannya. Padahal kita mungkin kesulitan saat menunjukkan manakah wujud dan letak hati itu dalam tubuh. Namun, bahasa kehidupan telah berbicara bahwa manusia-manusia merasakan namanya jatuh hati, patah hati, bahkan sang biduan berani menyebut lebih baik merasakan sakit gigi daripada sakit hati.

Semestinya, ruh itu bersifat laiknya malaikat, berkecenderungan ingin damai dan selalunya ingin bergantung pada Allah. Jika ruh bersih dan putih yang senantiasa meraja dalam singgasana hati maka akan menjadi sebuah periuk yang nyaman bagi datangnya nur atau cahaya Allah. Ibnu Qayyim Al Jauziyah pun berkata bahwa hati kita adalah istana tempat bertemunya ruh kita dengan Allah dalam masa di dunia ini, tentu sebelum bertatap muka langsung dengan Allah di surga-Nya nanti.

Marilah banyak-banyak memohon kepada Allah Swt. agar ruh ini kelak berpulang pada tempatnya yang mulia, bersama para hamba-hamba-Nya yang telah diberi nikmat. Bukan kembali pada tempat gelap bermukimnya ruh orang-orang yang telah Allah murkai maupun mereka yang tersesat. Allahumma amin. Sarananya adalah dengan banyak-banyak kita berkumpul pada jamaah-jamaah kebaikan dan tak sekalipun meninggalkannya. Sebagai bentuk penunaian hak ruh yang selalu ingin berada dalam fitrahnya, seraya makin menunduknya diri ini di hadapan Allah Swt.. Yakni jamaah yang di dalamnya berbaris rapi pasukan-pasukan mengibarkan bendera Laa ilaaha ilallaah dan Muhammadurrasulullah, dengan sang Komandan mulia Muhammad Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam syurga berombong-rombongan . Sehingga  apabila  mereka sampai ke syurga itu sedang  pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya:  “Kesejahteraan atasmu. Berbahagialah kamu! maka masukilah syurga ini, sedang kamu kekal di dalamnya”.

(QS Az Zumar: 73)

-baru kali ini mengangkat bahasan tauhid, tampak jelas bahasa yang kacau balau, afwan katsir, semoga dapat dipahami dan bermanfaat-