Tags

, , , ,

“Tunjukilah kami jalan yang lurus (1)”

Dec 18, ’10 10:44 PM
untuk semuanya

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Tunjukilah kami jalan yang lurus, sebuah ayat yang menunjukkan betapa besar kebutuhan kita terhadap Allah Swt. Terabadikan menjadi salah satu ayat dalam surat yang merupakan induk Al Quran, yang mulia Al Fatihah. Mengapa ya, doa ini masih terus saja kita ucapkan? Bahkan di sepanjang shalat hingga hari ini, bahkan menjadi rukun pada tiap satu rakaat shalat. Luput melafalkan ayat tersebut, berarti tidak sah shalat yang kita tegakkan. Apakah kita, para orang-orang berserah ini belum menapaki jalan yang benar?

Bukankah Allah Swt telah berfirman dalam ayat pamungkas, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…” itulah ayat surat cinta yang kita baca atas firman-Nya.

Selain itu, “Aku telah tinggalkan Islam dengan sempurna,” pesan mulia sang  Rasulullah, “Seperti bulan purnama.” Tetapi mengapa setiap hari ini, justru kita masih terus meminta “petunjuk yang lurus” itu? Orang-orang kafir tentu terkekeh dan mengambil ini sebagai kesempatan untuk mengolok-olok Islam. “Benarkan, orang-orang yang mengaku Islam itu, masih selalu meminta petunjuk yang lurus dari tuhannya. Masih belum yakin mereka dengan Islamnya sendiri.”

Benarkah Islam yang kita imani ini belumlah agama yang lurus? Jika Anda sempat berpikir seperti itu, walaupun datangnya hanya sekejap seumpama angin yang menggelitik anak rambut gadis-gadis kecil, segeralah palingkan pikiran tersebut. Berwudhu dan membasuhkan air bisa menjernihkan sekujur jasad kita. Rasakanlah, betapa tiap kejadian dalam diri kita maupun alam makrokosmos ini adalah hanya gelimang kejadian dan penciptaan para makhluk kecil penuh papa di mata Yang Maha Agung, Allah Swt. Dia pun, saking sayangnya terhadap kita, telah memberikan sarananya pula bagi kita untuk berkasih-kasihan dengan-Nya. Dengan Islam, tentunya!

Islam yang begitu cepat menyebar ke seluruh penjuru bumi bagai anak panah melesat dari busurnya. Hal ini tidak lain karena fitrah manusia memang bersesuaian dengan apa yang terkandung dalam Islam itu sendiri. Nilai tauhid, nilai kasih sayang, serta keadilan Islam berhasil menarik simpati dan kesadaran masyarakat jahiliyah sejak dahulu, bahkan hingga kini untuk merangkul Islam sebagai nilai-nilai yang mengkristal dalam jiwanya dan menggenggamnya sebagai pedoman hidupnya sehari-hari maupun sebagai landasan bernegara.

Seumpama ada kisah begini, saya yang belum sama sekali pernah menginjakkan kaki di tanah Sumatra. Tiba-tiba mendapat sepucuk surat dari sahabat pena yang mengundang ke hari pernikahannya di pelipir daratan bumi Sumatera. Dalam undangan jelas-jelas bertuliskan alamat dan denah yang ada. Menurut penalaran kita yang paling canggih saja, apakah cukup saya bertanya padanya sekali saja untuk mencapai kediamannya dengan selamat. Saya rasa, saya adalah manusia normal yang pasti akan banyak bertanya. Misalkan, dari Purwokerto saya enaknya naik apa? Tentu saja tidak naik pesawat karena Purwokerto belum punya landasan pacu untuk terbangnya burung bermesin itu.

Jadi naik angkutan darat saja, tetapi persoalan ternyata belum rampung di sini. angkutan daratnya nanti sampai di pelabuhan Merak. Lalu menyeberang Selat Sunda memakai apa dan bayarnya berapa? setelah berhasil menjejak Bakauheni, kemana lagi layar perjalanan ini akan terkembang? Deretan pertanyaan belum habis untuk memastikan saya memang menempuh rute perjalanan yang  lurus. Saya sangat meyakini bahwa alamat dalam undangan teman itu pastilah benar. Terlalu konyol menuliskan alamat yang salah dalam undangan pernikahan. Jadi pasti benar atau dalam bahasa Al Quran itulah yang disebut “petunjuk yang lurus”. Jadi, sangat rasional bahwa untuk menetapi jalan yang lurus tersebut, ternyata kita pun harus banyak meminta pertolongan pada Allah karena sejatinyamuyul atau kecenderungan manusia itu ingin selalu mampir-mampir dahulu.

DIjadikan indah pada  manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak  dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik

(QS Ali Imran: 14)

Sangat mungkin, sesampainya di Pulau Sumatra, saya tidak mau langsung ke tempat yang dituju. Apalagi kalau busur emosi dan kadar hormon manusiawi sedang terpacu kencang. Maunya mampir-mampir dahulu, jalan-jalan, atau sekadar belanja oleh-oleh. Mumpung sudah ada di Pulau Sumatera. Mungkin mampir ke Bukittinggi, Danau Toba, Way Kambas, atau Serambi Mekah. Inilah, untuk mencapai tempat sahabat saja, saya perlu keteguhan hati, ketegaran yang kokoh, dan benteng hati yang menjulang dari segala godaan duniawi. Apalagi jalan yang lurus menuju Allah, jelas kita butuh meminta banyak-banyak pada-Nya. Dzat yang menggenggam hati kita dan tentu mudah bagi-nya memperbolak-balik hati yang dhaif ini.

Setelah meminta petunjuk yang lurus tersebut, bunyi ayat yang menyusul adalah tuntunan Allah bahwa petunjuk yang lurus merupakan jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan mereka yang sesat.Subhanallah, Maha Pemurah Allah, yang telah menerangkan bahwa jalan yang lurus, serta merta langsung dijelaskan pada apa yang ternukil dalam ayat yang mengiringi selanjutnya.

Sebagaimana Allah telah menjelaskan pula, “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin , orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS An Nisa: 69)

Keempat golongan tersebut yang telah menapaki jalan lurus: para anbiya, shiddiqin, syuhada, dan hamba-hamba yang salih. Betapa amat besar nikmat yang telah mereka dapati dari sang Pencipta, Allah Swt. terutama bagi segolongan manusia yang telah berduyun-duyun menjual diri dan hartanya untuk sebuah perniagaan dengan Allah yang tiada kerugian, walau sebesar dzarrah pun di dalamnya. Terasa bahwa nikmat yang mencurahinya amatlah membuncah. Mula-mula karena nikmatnya yang menciptakan kita sebagai manusia. Tak teringkari, bahwa Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang paling mulia. Lalu nikmat kehidupan ini, termasuk kesempatan waktu dan sisa usia sampai saat ini. Serta nikmat agama, sebagai sarana makhluk yang serba kekurangan ini bisa berdekat-dekatan dengan sang Khalik.

Sehingga tak patut sama sekali kita angkuh dan sombong pada Allah. Siapa kita, bisa-bisanya ada secuil ketinggian bertahta di hati ini pada Allah. Padahal hanya Dia yang telah menciptakan jiwa raga, menggenggam waktu dan kehidupan, menentukan kesudahan nafas ini, serta mengggariskan akhir kelananya sang ruh kita. Selafaz doa yang diajarkan Rasulku, semoga senantiasa terpaut dan membasahi lisan ini, memohon kelanggengan iman dan ketinggian cinta pada Allah Swt,

“Ya Allah, perbaikilah untukku agamaku yang merupakan pokok urusanku dan perbaikilah bagiku duniaku yang padanya ada penghidupanku, dan perbaikilah bagiku akhiratku sebagai tempat kembaliku dan jadikanlah hidup sebagai tambahan bagiku di dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian, saat terlepasnya aku dari setiap keburukan.” (HR Muslim)

 Allahumma amin,