Tags

, , , ,

Kebanyakan suami memiliki “siklus diam”. Ada saat dimana suami memerlukan privasi untuk menyendiri di dalam “goa”nya tanpa diganggu orang lain. Hal seperti ini bisa terjadi berulang-ulang, walaupun isteri sudah sering mengingatkan agar ia tidak mengulangi tindakan diamnya itu. Inilah “siklus diam” pada kebanyakan laki-laki.Jika suami dan isteri sudah berada dalam tahap komunikasi yang nyaman, mereka bisa berdamai dengan siklus diam ini. Ketika isteri melihat suami sudah mulai sulit diajak bicara dan komunikasi, ia sudah memahami bahwa suaminya tengah ingin masuk goa.

“Lagi pengin masuk goa ya?”, tanya isteri.“Iya”, jawab suami.“Berapa lama?” tanya isteri.“Sampai besok”, jawab suami.

Inilah contoh kompromi itu. Mereka bisa berdamai dengan siklus diam yang memang menjadi karakter umum kebanyakan laki-laki.

-Ustadz Cahyadi Takariawan-

Sebagai istri, sejatinya sampai saat ini saya belum bisa nyaman dengan konon kebiasaan para lelaki tersebut. Diam. Ada tanya yang tak kunjung terjawab, mengapa harus terbiasa mengalami siklus diam itu? Karena kebiasaan tersebut, bisa jadi mengganggu suasana keluarga pada umumnya. Tetapi jika diam tersebut adalah sunnatullah dan tabiat fitrahnya para lelaki, apa bisa kita sebagai para perempuan pendamping?😀

Di awal-awal kami menikah, saya sangat merasa kesulitan mendapatkan titik kompromi ini. Entah apa yang habis kami lakukan, tiba-tiba Priyayi Muslim menjadi diam. Kesulitan ini menjadi lebih menyakitkan hari-hari kami dalam jarak yang jauh (mungkin sebetulnya cuma saya yang merasa, hihihi). Hanya ada media sms dan telepon yang biasa kami lakukan untuk menjalin komunikasi. Rasanya makin membuat saya menjadi-jadi dan tidak mengerti karena tentunya susah sekali mengklarifikasi itu semua dalam bahasa singkat sms. Dan telepon, bukanlah media yang baik saat mas Priyayi Muslim memasuki masa diamnya.

Sekonyong-konyong saya merasa kehilangan akal harus berbuat apa, bila kami sudah larut memasuki masa-masa diamnya ini, hihihi. Ternyata perlu beberapa waktu bagi kami untuk menyelesaikan kompromi soal ini. Terkadang, jika ego masing-masing kami sedang memuncak bisa sampai melewati hari kemudiannya. Sungguh kala itu adalah waktu-waktu emas bagi kami untuk saling mengenal pasangan satu sama lain dengan tantangan jarak ribuan kilometer.

Pelan-pelan saya mulai menyadari ada satu hal yang saya lakukan dan hampir pasti membuat Priyayi Muslim menjadi diam. Adalah saat saya mulai mengeluh karena rumitnya birokrasi yang belum membolehkan istri mengikuti suaminya ini, hiruknya ibukota yang menjadi tempat bekerja saya, lebaynya saya menanggapi berbagai seliweran celoteh teman-teman, dan kawan-kawan keluhan lainnya. Intinya adalah saat saya mulai berkeluh kesah. Selain itu, batasan mengeluh saya dan suami juga ternyata berbeda. Seringnya saya hanya berniat untuk curhat, tapi ternyata bagi Priyayi Muslim itu sudah mengeluh. Maka disinilah saya belajar.

Belajar untuk menyudahi keluh dan kesah, serta kalau mau bicara sesuatu semacam curhat harus baik penyampaiannya. Hihihi, alhamdulillah its meaningfull. Karena ternyata bisa sebagai terapi saya untuk lebih bijak lagi. Belajar juga untuk memahami salah satu penyebab munculnya siklus diam Mas Priyayi Muslim. Seiring waktu, maka semakin intens dan kompleks bahasan yang terjadi pada suami dan istri, maka kompromi ini pun menjadi semakin urgen. Berdamailah dengan waktu yang semestinya mendewasakan kita.

Sekarang? Yah meskipun belum sukses mencapai kompromi ideal dengan diamnya para lelaki tersebut, setidaknya kita menjadi tahu jawabnya dan tidak perlu menjadi hilang akal. Tetap mawas diri dan sibukkan juga dengan hal lain yang bermanfaat. Meski saya mengakui, its hard for me karena seringnya justru malah ikut terbawa emosi yang keliru dan meledak-ledak khas perempuan ala kadarnya. Padahal yah, seharusnya kita belajar lebih giat lagi untuk sholihah dan menjadi pendamping yang baik bagi lelaki kita masing-masing. Aamiin.