Tags

, , , , , , , ,

“Iman itu boleh bertambah dan boleh berkurang, maka perbaharuilah imanmu dengan Laa Ilaaha illallah” (HR. Ibnu Hibban)

Hati manusia itu labil, setidaknya itulah yang saya pribadi rasakan. Mudah sekali berbolak-balik antara syukur atau kufur. Mudah sekali berubah-ubah antara puas atau gelisah. Mudah sekali terombang-ambing antara cukup atau keluh. Mudah sekali bergoyang antara lapang dan sempit.

Pada dasarnya, manusia hidup itu memang diliputi sebagian problema. Kadang, problema itu menjadi sekam dalam kehidupan manusia itu sendiri. Sebetulnya, problema yang ada, bisa menjadi jalan bagi kita untuk banyak-banyak mendulang hikmah. Namun, jika kita tidak pandai-pandai memanajenya yang kemudian justru dapat menjerumuskan resah. Sebab hati yang ada pun juga senantiasa up dan down, maka penyikapannya pun suka berubah-ubah.

Suatu kali, dalam menghadapi suatu problem, hambatan, atau tantangan yang ada, jiwa kita berada dalam suasana yang lembut. Mudah sekali untuk menampung segala kesulitannya. Kita pun dapat menjalaninya dengan hati yang tenang dan lapang. Tetapi, tidak jarang, suatu waktu, problema, hambatan, atau tantangan yang serupa akan membuat diri kita menjadi kerdil. Jiwa kita menjadi rapuh dan sulit untuk menerima dengan cukup segala kekurangan. Seolah, kitalah menjadi manusia yang paling malang.

Dan begitulah adanya pekerjaan hati. Pasang dan surut berdasarkan stok iman yang tersimpan di dalam dada. Jadi, kuncinya adalah iman. Iman yang naik dan turun itulah yang memainkan perannya. Memang sangat sulit mempertahankan kondisi hati dalam suasana yang berbalut kemantapan iman. Banyak sekali godaan dan tantangannya. Seringkali, karena diri kita sendirilah yang membuat surutnya iman tersebut. Diri yang lemah dan mudah tercuri perhatiannya atas nikmat dunia di sekeliling kita. Serta mudah terlupa, bahwa pasti Allah yang akan mencukupkan segalanya bagi kita. Itulah kelalaian dan alpa kita.

Dan ternyata, menjadi manusia yang bijak itu sendiri jugalah sulit. Kala kita lah yang sedang berada dalam kondisi merasakan nikmat tersebut, kita juga mudah lalai dan terlupa untuk menjaga syukur hanya pada Allah Azza wa Jalla. Sering kali, kita justru menaburkan kebaikan yang diperoleh itu tanpa perhatian atas suasana sekitar.

Bisa jadi apa yang kita persaksikan atas kebaikan itu, ditangkap orang lain bukan seperti apa yang kita niatkan dalam membagi kebahagiaan itu. Sungguh, kita tidak tahu, dalamnya hati manusia, yang mungkin sedang pasang atau surut sang iman dalam dadanya. Tanpa maksud kita untuk menyakiti orang lain, tapi tanpa sadar kita justru melukai perasaan dan suasana hatinya yang paling kalut.

Bahkan sekedar celotehan atau  keluhan kita yang tak sengaja terlintas dalam merasai nikmat yang ada bisa membuat orang lain yang menyaksikannya justru perih. Pedih akan halnya yang lain pun justru belum bisa merasai nikmat yang ada pada kita.

Bermain dengan hati selaiknya menuntun kita pada sikap yang wajar dan bijak. Sebab, sungguh kita tidak tahu langit yang sedang menaungi jiwa-jiwa kita. Apakah dia sedang cerah ceria atau sedang mendung muram? Serta, kondisinya pun akan sangat mudah berbolak-balik antara lapang dan sempit. Mari senantiasa menjaga hati-hati kita dan tentu saja hati-hati mereka yang pula sedang berupaya menjaga hati.