Tags

, , , , ,

Pelajaran Pertama:

(Jadi) Wanita itu harus mandiri

Pelajaran Kedua:

Konsekuensinya, wanita itu mau tidak mau, suka tidak suka, dan bisa tidak bisa kudu bertanggung jawab atas apa yang menjadi amanahnya.

Pelajaran Ketiga:

Termasuk, kendaraan yang menjadi sarananya setiap hari untuk pergi dari satu tempat ke berbagai arah dan penjuru, hehehe. Termasuk saya, yang setiap hari juga mesti beraktivitas ke kantor. Pergi dan pulang kantor sendiri karena Mas Priyayi juga mesti bertolak ke negeri Bitung (berlawanan arah), mencari sebongkah berlian. Sebab jarak yang lumayan jauh antara Bitung dan Manado, maka Mas tidak serta merta dapat memantau aktivitas saya sehari-hari selama di Manado. Sangat kecil kemungkinan untuk mudah bolak-balik Manado-Bitung-Manado-Bitung dalam satu hari.

Mau tidak mau, suka tidak suka, dan bisa tidak bisa, wanita itu harus mandiri dan bertanggung jawab atas amanahnya. Termasuk saya. Sepeda motor Honda Supra Fit, si Kuning, sudah menjadi anak asuh saya selama enam bulanan ini. Dan terhitung sampai tadi malam (17/12) kira-kira si Kuning ini sudah tiga kali masuk tukang tambal ban. Dua kali ganti ban dalam dan ketiganya semalam adalah bocor di ban dalam belakang pada tiga tempat karena ketubles paku kecil.

Menjelang maghrib, sekitar satu kilo menuju ke rumah, saya menemukan tukang tambal ban berniat untuk mengisi angin. “Angin, Pak!”. seru saya. Bapak tukang tambal melakoni pekerjaannya seperti biasa yaitu memberi angin untuk ban belakang motor saya. Setelah agak lama diraba-raba, si Bapak bilang sudah bocor. Pffffhhh! Apa yang saya takutkan ternyata benar. Akhirnya, karena di tukang tersebut tidak menyediakan ban dalam baru, ban motor saya hanya ditambal.

Senut senut saya menunggu si Bapak menyelesaikan pekerjaannya. Hari itu adalah hari pertama pada pekan ini saya ke kantor karena senin kemarin izin tidak masuk alasan sakit. Masih agak lemes-lemes rasanya. “Ibu, so batelpon ke rumah, biar nanti bapak jemput Ibu dulu,”  saran si Bapak karena ternyata ban dalam saya malah bocor di tiga tempat, Saudara-Saudara. Saya hanya tersenyum mendapati si Bapak yang cukup perhatian. Fiyuuuh, mas juga belum pulang dan kalau sudah pulang, saya ragu juga Mas akan menjemput seperti saran si Bapak. Yang ada, mungkin saya akan “dihina dina” dengan gaya ala suami saya memberi ‘pelajaran’ pada istrinya ini.

Benar saja, sudah banyak lewat waktu maghrib dan Mas sudah pulang mendapati saya tidak di rumah. Pada chatting wasap saya cerita lagi di tambal ban dekat kompleks dan bla bla bla.

“Bocornya dari mana?”

“kayanya dari kantor, tapi aku ga kerasa, bla bla bla” (innocent)

“Bocornya dari kantor baru ditambal di situ?”

“Apa ga kerasa sudah jalan jauh banget”

” T.T Itu jelas ngerusak ban dalam, ban luar, velg, mungkin juga ruji-ruji”

Membayangkan mas ngomel-ngomel di rumah yang sudah kesekian kalinya menasihati saya untuk segera ke tukang angin ban kalau sudah kerasa goyang-goyang. Tetapi saya selalu berkilah, enggak kok, masih stabil. Atau mungkin itu sugesti diri sendiri karena tidak mau bannya bocor😦

Mengingat Mas yang pada kejadian pertama ban motor saya harus diganti di bengkel tapi saya bingung mau dibawa ke bengkel mana, maka ternyata mas rela kembali ke rumah untuk sekadar mengganti ban dalam motor waktu itu, lalu selesai dan kembali lagi ke Bitung.😥

Harus rajin-rajin pegang ban motornya dan kalau sudah goyang-goyang segera tambah angin, pesan Mas setelah itu. Tapi dasar tangan saya yang kecil malah sama sekali nggak ngerasa kalau bannya sudah mau kempes. Hufh, baiklah, setelah ini, insya Allah saya mau belajar lebih sensitif lagi untuk mengenali kalau ban motor sudah g0yang-goyang. Hehe, sekian pelajaran yang bisa dibagi hari ini, terutama untuk diri saya sendiri. Semangat mengenali motor!😀