Mendengar derum mesin sepeda motornya yang mendekat ke arah rumah, sontak membuatku tersenyum. Padahal, rasa kesal nyaris berwujud, menunggunya pulang yang serasa lama. Mas memang begitu, aku menyindir dalam chat yang ia kirim karena telah mengisi kultum terlalu panjang.
Tidak seperti biasa, tadi malam Mas membuka sendiri pintu gerbang rumah dan kubiarkan saja ia membuka pintu rumah kontrakan kami. Aku terlupa bahwa sudah mengunci pintu dari dalam rumah dan meninggalkan gagang kuncinya di lubang pintu. Mas akhirnya memanggil-manggil dan bersalam sambil terus berusaha menggoyangkan pintu tersebut. Astaghfirullah…barulah aku ingat dan dengan tergopoh aku bangun dari tempat tidur.

Melihat mas di muka pintu sambil tersenyum lebar membuat air mataku seketika meleleh. Alhamdulillah, jujur aku terharu. Bukan karena ia telah membawakan parasetamol pesananku. Bukan karena ia membawa sebungkus batagor kesukaanku. Tapi rasa syukur karena Mas sudah pulang.

Mas langsung meraba dahiku dan merasa bahwa ini sudah demam yang paling panas antara aku dan Mas selama kami menikah. Ia langsung merasa bersalah karena terlalu lama pergi sesorean tadi.

Tidak Mas, aku menangis bukan karena panas yang mengurungku ini. Tapi aku terharu.

Aku langsung meminta makan sup berneborn (kacang merah) yang sudah kubuat paginya. Padahal mas menawariku dengan iming iming batagor, favoritku di sini. Aku makan lahap sekali, sepertinya hanya aku, orang demam yang sangat kelaparan. Sup berneborn buatan sendiri yang dipanasi Mas terasa sangat enak. Atau memang aku yang sudah sangat kelaparan dan meniatkan makan jika sudah bersama Mas. Alhasil harus menunggu mas pulang dari mengaji sore hingga malam itu.

Dengan telaten Mas menyuapi sambil sesekali masih menggodaku. Aku yang kelaparan terus saja memburu arah sendok di tangannya. Kupaksa ia untuk ikut makan dari mangkuk itu karena aku tahu Mas juga sudah lapar.

Mas bilang, sup bernebornnya memang enak. Bahkan lebih enak dari sup berneborn yang ia makan di hotel swisbell saat ada acara kantor dua pekan sebelumnya. Mas ini jujur, kalau makanan yang kumasak memang enak ia bilang enak. Tapi kalau tidak masuk standar enaknya maka ia diam.

Hehe, masih sambil lemas aku terus mengunyah makanan, menyelingi dengan ucapan terimakasih, dan terus mengucapkan I Love you kepadanya.

Terutama, rasa syukur ini pada Allah yang Maha Penyembuh dan Maha Memiliki obat untuk segala penyakit, atas karunia-Nya dijadikan Mas sebagai pendampingku.
Alhamdulillah, setelah tandas semangkuk sup dan nasi hangat,ย  parasetamol dan vermint masing-masing sebutir, juga satu potong batagor, suhu tubuhku langsung turun menjadi 38 derajat.

*Semalam, Ahad 15 Desember 2013