Tags

, , ,

 

Plisssss, Jangan Sekarang!!!

Nov 29, ’11 2:27 AM
untuk semuanya

Bismillahirrahmaanirrahiim,

Plisss, Jangan Sekarang!!!

Segala sesuatu yang ada kaitannya dengan laki-laki dan perempuan, selalu saja menarik perhatian. Karena sesungguhnya, dunia ini memang dipentaskan oleh makhluk Allah, laki-laki dan perempuan yang saling mengisi. Kita lahir dari sepasang orang tua, Ibu dan Bapak. Kita pun dilahirkan sebagai perempuan atau laki-laki. Maka dalam perjalanannya pun kita akan bertemu dengan para perempuan maupun laki-laki. Baik dalam kapasitas teman, saudara, dan saatnya nanti kita pun (insya Allah) bertemu dengan pasangan hidup. Tentu saja, pasangan hidup kita adalah yang berlainan jenis. Ini pun telah menjadi fitrah dalam penciptaan manusia,

“Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada apa-apa yg diingini yaitu: wanita-wanita, anak-anak harta yg banyak dari jenis emas perak kuda pilihan binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yg baik.” (QS Ali ‘Imran:14)

Pertemuan, pertemanan, dan hingga menginjak pada suatu “permainan” yang lebih serius antara perempuan dan laki-laki senantiasa mengisahkan suka duka dalam perjalanan hidup manusia. Hadist tentang niat yang termahsyur sebagai hadist pertama dalam kumpulan empat puluh hadist Imam Nawawi. Juga termahsyur dan hangat seantero dunia karena kisah dibalik hadist tersebut. Adalah seorang laki-laki Makkah yang mencintai seorang perempuan muslimah bernama Ummu Qais. Ketika berada di Makkah, ia tidak berkesempatan untuk menikahi Ummu Qais. Saat itu, Ummu Qais termasuk salah satu shahabiyah yang melakukan hijrah ke kota Yatsrib atas perintah Allah melalui Rasulullah Muhammad. Kecintaan laki-laki ini kepada Ummu Qais demikian besar hingga ia pun turut melakukan hijrah ke Yatsrib. Ia berharap agar di Yatrib nanti ia dapat menikahi Ummu Qais. Lalu, terjadilah peristiwa hijrah yang sangat penting di dalam sejarah ini.

Di Yatsrib, yang kala itu berubah nama menjadi Madinah, berita tentang hijrahnya laki-laki tersebut karena ingin menikahi Ummu Qais menyebar dari mulut ke mulut bersama dengan wabah demam yang kala itu menyerang para pendatang. Beginilah tabiat manusia, sangat suka membicarakan hal-hal yang terkait dengan hubungan antara laki-laki dan perempuan. Namun hal itu juga karena semangat pembelajaran yang kala itu sangat kuat dari kaum muslimin. Maka, sampailah berita itu kepada Rasulullah. Mendengar itu, dari atas mimbarnya beliau berkhutbah tentang hal ini. Inilah asbabul wurud hadits tersebut. (pkj: azalea, 192-193)

Kemudian, beranjak kepada episode pertemuan sepasang laki-laki dan perempuan pada sebuah komitmen untuk memperjuangkan pernikahan kian membuat indah dan haru dalam kisah-kisahnya. Tentu di dalamnya pun tetap terbalut seberkas kesedihan, sekejap kekecewaan, sekilas kemarahan, dan setitik kebencian. Tergantung bagaimana para perempuan dan laki-laki itu berkonsepsi dalam menjalin hubungan satu sama lain.

Yang semestinya kita pahami pada hubungan antara laki-laki dan perempuan adalah berhukum halal ketika berada dalam ikatan pernikahan. Perempuan dan laki-laki yang pada asalnya bukan mahram, hanya boleh saling menyentuh dan mendekat bila telah dihalalkan ijab dan qabul. Dalam koridor pernikahan itulah pasangan suami istri dapat saling menikmati dan merayakan cinta yang merayap di sekujur aliran darah mereka satu sama lain. Cinta itu hadir dan bangkit atas kuasa Allah Swt yang menciptakan perasaan dan hati manusia.

Terkadang, cinta sebagai fitrah itu dapat menipu dan memperdaya kita. Cinta datang saat kita beranjak dewasa. Ditandai dengan mulai menyukai dan tertarik pada lawan jenis. Kemudian bersemilah segala rupa-rupi tentang ketertarikan dan hubungan. Perasaan tertarik dan menyukai, bahkan mengharapkan sosoknya, saya kira bukan suatu kesalahan yang musti dihukum. Yang keliru sejatinya adalah saat kita tidak dapat mengelola datangnya fitrah cinta tersebut. Saat cinta yang telah tumbuh dan berbenih dalam lelangit hati kita, kemudian kita mekarkan dengan seseorang atau sesuatu yang tidak berhak.

Tanpa disadari, ternyata kepada seseorang lawan jenis yang sejatinya dia bukanlah siapa-siapa, kita lebih banyak menghabiskan waktu bersamanya. Padanya kita lebih sering mencurahkan segala sesuatu. Padanya pula kita lebih sering membagi perhatian daripada kepada keluarga kita sendiri. Padahal sejatinyalah mereka yang sedarah dengan kita jauh mempunyai hak. Namun, sekali lagi, pada laki-laki atau perempuan yang semestinya belum kita perhatikan justru telah menguras sebagian besar energi kasih sayang kita.

Begitulah, saat cinta telah berlabuh terlalu fajar. Saat masih sangat dini sebenarnya untuk memekarkan kuncup-kuncup  gelora itu. Dan kehangatan cinta itu dicucurkan bukan pada sesuatu yang berhak adanya.  Cinta yang semestinya sejuk dan terasa nikmat pada relung hati, akan ternoda. Bagaimanapun, meski cinta itu menghadirkan sensasi, tetaplah cinta yang seperti itu bukan sarana menjemput kebahagiaan yang hakiki.

Cinta yang menyentuh hati-hati manusia, berasal dari Ar Rahman, Allah Azza wa Jalla, yang berkenan membagi kasih sayangnya pada kita. Cinta itu alangkah indahnya bila senantiasa tetap terjaga sebagaimana Allah memberinya pada kita dengan penuh kesucian. Namun, cinta itu rusak, bilamana kita yang terlalu tergesa-gesa untuk menumpahkannya, pada lawan jenis yang memang belum berhak. Cinta yang tak sampai getaran dan gelombangnya hingga petala langit. Cinta yang tak membuat Allah Swt. bertambah sayang pada kita, melainkan murka-Nya yang mungkin kita peroleh.Na’udzubillah.

“Sesungguhnya ketika seorang suami memperhatikan istrinya dan begitu pula dengan istrinya, maka Allah memperhatikan mereka dengan penuh rahmat, manakala suaminya merengkuh telapak tangan istrinya dengan mesra, berguguranlah dosa-dosa suami istri itu dari sela jemarinya”

 (Diriwayatkan Maisarah bin Ali dari Ar- Rafi’ dari Abu Sa’id Alkhudzri r.a)

Mmmmm, karena saya perempuan, mungkin akan lebih merasai apa yang ada di hati perempuan. Jadi, mari saudariku, kita sama-sama membangun mahkota kemuliaan kita, yakni rasa malu yang dilandasi dengan iman. Bangun rasa malu, bila suara kita mesti terdengar oleh laki-laki asing, apalagi saat itu kita baru saja terjaga dari tidur. Rasa malu, saat suara kita masih sangat parau dan terkesan lebih manja.

Bukankah seharusnya kita yang perlu belajar dan berjuang lebih keras untuk bangun lebih pagi. Bukan justru kita menggantungkan pada laki-laki yang semestinya tidak atau belum bertanggung jawab akan diri kita.

Selain itu, kita telah menghabiskan sisa-sisa malam dengan berduaan sia-sia. Baik itu bertemu secara fisik, maupun hanya bertemu suara di pesawat telepon. Sungguh, tidak ada satu pun manfaat yang bisa kita peroleh dengan hubungan komunikasi secara berlebihan terhadap lawan jenis. Terutama untuk kesehatan hati dan keinsyafan jiwa kita. Bahkan dengan itu, setan semakin menjadi-jadi memperdaya kita. Dijadikan sangat indah terasa dalam benak, bila kita disentuh dan dibelainya. Dijadikan melayang pikiran kita bila disanjung dan diperhatikannya. Semua terasa indah, namun sesungguhnya palsu. Rasa nikmat yang diperoleh dengan berduaannya itu hanyalah manis di dunia. Melainkan akan menuai balasan buruk di akhirat nanti.

anak kecil pacaran gambar