Tags

, , , , ,

Kali pertama saya merasakan yang namanya cinta jarak jauh adalah pada tanggal 19 September 2011, dua pekan setelah pernikahan. Saat itu, saya memasuki hari pertama menjalani diklat substantif dasar sebagai awak baru di tempat instansi bekerja. Maka pada senin pagi itu, Mas Priyayi Muslim juga pertama kali bertolak ke Manado dengan beralih status dari bujang menjadi seorang suami. Uhuuy!🙂 Alhamdulillah…

Inilah pertama kalinya sepanjang dua pekan itu salah satu hal-hal terbaik dalam hidup saya. Yakni, merasakan adanya gelombang-gelombang yang indah di hati sekaligus gelembung-gelembung geli di kalbu. Merasakan nikmat dari salah satu kebaikan Ar Rahman yang Ia taburkan ke bumi. “Allah Swt menjadikan rahmat itu seratus bagian, disimpan disisi-Nya sembilan puluh sembilan dan diturunkan-Nya ke bumi ini satu bagian; yang satu bagian inilah yang dibagikan ke seluruh makhluk, (yang tercermin antara lain) pada seekor binatang yang mengangkat kaki dari anaknya, terdorong dari rahmat kasih sayang, khawatir jangan sampai menyakitinya”. (HR. Muslim No. 4942, Kitab At-Taubah). Menemukan cinta dan kasih sayang, sekaligus mencintai laki-laki yang kini bertanggung jawab atas dunia dan akhirat saya.

Pagi itu, kami berboncengan sepeda motor pinjaman dari Akh Fandi Anggara, sahabat seperjuangan Priyayi Muslim di kampus dulu. Antara Akh Fandi dan Akh Harianto, kedua sahabat Mas Priyayi Muslim ini begitu sangat baik hati meminjamkan sepeda motornya bergantian untuk kami selama di  Jakarta, berbulan Madu. Hehehe, sejujurnya bukan, lebih tepatnya untuk transportasi kami (antar jemput saya ke kantor) karena saya harus segera kembali ke Jakarta setelah izin dua hari habis dan  sementara menumpang di kontrakan di Bintaro yang lagi-lagi adalah buah dari kebaikan Akh Harianto Wibowo dan Teh Tegariana. Beliau meminjamkan sementara rumah kontrakannya kepada kami selama kurang lebih satu pekan. Sementara kedua sahabat ini juga baru pertama kalinya menjadi pasangan suami-istri selang satu pekan dari tanggal nikah kami. Keduanya masih menghabiskan liburan sambil berbulan madu secara betulan. Hehe, piss Teteh ^^v…Oya, lagi-lagi kami menjadi pasangan yang pertama menikmati rumah kontrakan itu, bahkan sebelum Akh Hari dan Teh Ana menempati kontrakannya tersebut.

Setelah mendrop di kos yang selama dua bulan itu akan saya tempati bersama sahabat (Fatikanisa), kemudian beres-beres sebentar karena Mas buru-buru untuk mengembalikan motor dulu sebelum merapat ke bandara dan terbang. Inilah pertama kalinya, kami berciuman pipi di pinggir jalan umum, sekedar menandakan bahwa kami akan segera berpisah raga sementara waktu. Ada penolakan dari diri ini untuk melepas Mas yang sambil menstarter Kharisma. Rasanya belum utuh dua pekan kemarin menikmati cinta bersamanya. Ah, insya Allah memang tidak akan pernah utuh sampai kami bersama-sama melangkahkan kaki di Jannah-Nya bersama keluarga dan orang-orang yang kami cintai.

Pertama kalinya, Allah mengajarkan makna kehilangan untuk sementara melalui episode cinta jarak jauh yang akhirnya mesti kami lewati hampir dua tahun.

Tidak ada hati yang lebih merekah dari sepasang pengantin yang baru pertama kali menumbuhkan cinta kasihnya pada hari-hari pertama pernikahan mereka. Pun, tidak ada yang lebih pantas untuk disyukuri selain banyak kesempatan mendulang hikmah atas cinta yang merayap di sekujur tubuh kami. Serta, tidak ada yang lebih baik untuk disabarkan melainkan pertama kali jatuh cinta, pertama kali pula menjalani bercinta jarak jauh.😀

Hingga saya berdiri berbaris rapi mengikuti upacara pembukaan diklat ketika pertama kalinya mulai merasakan debar-debar cemas menanti jawab apatah suamiku tercinta telah mendarat dengan selamat di Pulau Celebes? Semoga, jawaban-jawaban keselamatan terus menyertai perjalanan cinta jarak jauh kita (dulu). Alhamdulillah🙂

angka 1

gambar