Tags

, , , , ,

Ada beberapa menit yang ingin saya ulang-ulangi lagi sepanjang hari dan bahkan setiap hari. Sebab saat itu, ada merasa sangat beruntung yang menghujani saya. Sekejap lupa atas semua hal yang belum saya punya atau yang masih membelenggu kemerdekaan jiwa selama ini. Menit-menit singkat itu mengajarkan sarat makna akan arti beruntung pada setiap yang kami rasakan hingga sekarang.

Sesaat tidak perlu lagi ada rasa dengki, iri, dan kesal karena semuanya saat ini sudah cukup bagi kami. Asal, di ‘Arsy yang tinggi, Allah selalu ridho atas kami. Teringat baru separuh tahun ini kami diberi kesempatan mencicipi kebersamaan yang sangat indah. Maka hadiah langit berupa guyuran hujan deras yang mengepung tubuh dan kendaraan kami sejauh puluhan kilometer mendekati seratus dan berhari-hari kemarin, menjadi tidak pantas untuk disesali.

Merasa lebih beruntung daripada limbungnya saat-saat kami di hari terakhir perjumpaan bulanan. Walaupun air mata makin lama menyurut tapi rasa sangat berat selalu menggagas terpisah kembali. Mengisahkan kami mesti berlomba lagi atas ego dalam jarak jauh yang menggigit. Jalinan komunikasi setiap malam yang dijalani tidak melulu mudah malah lebih banyak saling berdiam diri karena kantuk, lelah, atau ingin lalu saja.

Pun, masih sering menggelayut sebal bila ada beberapa ghiroh yang tak kunjung berbuah. Merasa tidak selamanya yang dijalani bisa mudah disyukuri dengan lapang dan senang. Lebih banyak tidak bijak atas beberapa persepsi yang melintas. Kemudian terkenang  akan sulitnya memutuskan tanggal penerbangan serta siapa yang kemana. Lebih berat lagi memutuskan tanggal kembali untuk menjeda sebabnya enggan.

Serta beberapa perselisihan yang terpaksa hadir cuma gara-gara sinyal operator dan jaringan. Menguras air mata yang tidak hanya setetes. Membebani hati dengan berbagai prasangka dan cemas. Juga rasa marah yang tidak terkatakan dan hanya diam menjadi tebusan. Akhirnya, ingatan-ingatan akan momen itulah yang membuat leleh saja semua sebal, sempit, dan ketidakpuasan.

Merasa sangat beruntung kini. Tidak lagi rasa lelah badan karena jauhnya perjalanan menghalangi untuk senantiasa menyalakan cinta. Terlebih, karena Allah telah memberikan kami kesempatan di antara seribu satu kesulitan dan jutaan pasangan lain yang mengidamkan kebersamaan. Sangat tidak ingin menyia-nyiakan kebersamaan itu!

Lebih beruntung lagi kurasa sebab Mas Priyayi Muslim, biidznillah, sebagai pendampingku.🙂