Tags

, , , ,

danbo naksir

gambar

Alhamdulillah, rasanya lega sekali ya saat kita telah bisa melewati masa-masa ‘krisis’ dalam proses ta’aruf hingga khitbah baru saja diselenggarakan.😀

Memang banyak sekali nikmat yang tidak dapat kita dustakan sama sekali. Satu persatu nikmat itu menyeruak hingga penuh hati kita dengan binar-binar kebahagiaan. Setelah khitbah, berati sudah tuntas satu tahap yang mengandung sebuah arti besar. Yaitu komitmen dan niat yang tulus untuk segera melangsungkan akad nikah. Dr. Wahbah Az-Zuhaily mengatakan, yang dimaksud Khithbah adalah menampakan keinginan menikah terhadap seorang perempuan tertentu dengan memberitahu perempuan yang dimaksud atau keluarganya (walinya). Sementara menurut Sayid Sabiq (Ibid) juga menyatakan bahwa yang dikatakan seseorang sedang mengkhitbah seorang perempuan berarti ia memintanya untuk berkeluarga yaitu untuk dinikahi dengan cara-cara (wasilah) yang ma’ruf.

Maka pantaslah kita bisa berlega hati dan senang atas setiap rangkaian proses yang sudah kita jalani sejauh ini. Dan atas semua ini adalah wajib hukumnya untuk senantiasa kita iringi dengan bersyukur. Bersyukur atas kesempatan yang masih Allah Azza wa Jalla sampaikan kepada kita bisa merasakan indahnya melalui proses-proses menuju pernikahan. Bersyukur atas segala kemudahan yang Allah berikan dari banyak jalan bahkan yang tak kita sangka. Bersyukur bisa menikmati rasa gugup untuk menyongsong hari yang bahagia itu. Bersyukur pula, Allah sudah menyudahi berbagai kegalauan dan keraguan kita atas abu-abunya jalan takdir perihal jodoh yang semakin dekat.😀

Namun, baiknya kita harus tetap bermawas diri dan tidak berlebihan apalagi sampai sombong terhadap diri sendiri bahwa kita akan segera menikah. Pasrah dan tawakalkan semua masa depan itu hanya pada yang Maha Pemilik waktu sambil tetap menunaikan berbagai persiapan sebagai syariat bagi diri kita. Karena, segala yang kita lakukan semata hanya rencana dan Allah yang akan mengabulkannya sebagai peristiwa yang akan datang pada kita.

Ada satu rasa yang persis masih saya ingat rasanya hingga saat ini, yaitu rasa lapang setelah khitbah. Rasanya seperti kejelasan yang terang benderang saat kita benar-benar melihat sang matahari terbit dari ufuknya menguning jingga. Begitu damai dan terasa luas sekali cakrawala di depan mata. Matahari yang terbit berarti menandakan datangnya pagi yang hangat dan menyelesaikan malam-malam yang dingin berkemul resah.😀 Begitulah rasanya bahkan insya Allah lebih indah lagi rasanya terlukis di hati ini.

Saat kita yakin dan membulatkan niat yang baik untuk segera menikah dalam rangka menunaikan sunnah Rasulullah sebagai satu ibadah yang mulia. Saat kita memasrahkan segalanya kepada Allah dalam meniti proses pra pernikahan yang ingin sekali semua berbalut syariah dan ridho-Nya. Saat, kedua orang tua pun bersemangat akan menikahkan putra-putrinya, dan saat kita menjadi seolah tak sabar menanti hari H pernikahan itu. Rasanya begitu lapang dan menyenangkan. ^^

Kita tidak lagi peduli dengan bisikan yang menyurutkan langkah untuk menikah dengan si calon. Biar pun si calon tidaklah sempurna kondisinya saat itu. Fikiran yang ada justru ingin bersamanya untuk meraih kebaikan lebih banyak. Kita tidak lagi meragu akan halnya nanti diboyong ke tempat yang jauh dari orang tua dan sanak saudara, tetapi justru yang terbersit, menjadi sisinya adalah kekuatan setelah menikah. Kita pun menjadi tak acuh saat rasa masih saja hambar padahal sehari-hari akan bersamanya. Justru, kita yakin Allah yang akan mencucuri kemewahan rasa cinta antara suami dan istri setelah akad nikah.

Semua bayangan buruk akibat banyak berandai-andai insya Allah pun sirna selama kita yakin akan kebersamaan Allah atas niat, proses, dan tujuan yang kita cita cintakan melalui lembaga pernikahan. Itulah nikmat atas Islam, iman, dan ihsan yang perlahan kita retaskan seiring dengan satu tahap kehidupan agar kita dapat mentas menikah dengan paripurna dan penuh barokah. Aamiin.

Khitbah dalam masyarakat Indonesia lebih dikenal dengan kata ‘tunangan’. Tunangan ini yang sering disalahkaprahkan hukumnya oleh masyarakat awam. Kalau pasangan mau menikah terus didahului dengan tunangan, masyarakat jadi semakin permisif terhadap mereka. Pasangan seolah dibebaskan untuk kesana kemari, berdua-berdua, jalan bersama sampai bersentuhan kulit, dan berpegangan tangan karena dianggap sebentar lagi akan menikah ini.

Untuk itu, yang perlu diperhatikan dan kita camkan baik-baik, bahwa si calon yang akan menikahi itu sejatinya status tetap sang calon. Namanya calon berarti bisa jadi atau tidak jadi. Laku kita pun seharusnya masih biasa seperti memperlakukan laki-laki umumnya yang bukan mahram. Tidak boleh ada yang dilebih-lebihkan karena notabene dia yang akan menjadi pendamping hidup kelak. Si calon itu hanyalah lelaki biasa dan asing bagi kehidupan kita sebelum akad nikah itu sah. Jadi, tetap jaga diri dan kehormatan kita sebagai muslimah selaiknya biasa meski suatu kali harus banayk berkoordinasi dengan si calon tersebut untuk menyongsong akad nikah.

Sebaiknya pula, jika tahapan-tahapan sudah melewati khitbah ini, maka untuk menyempurnakan ikhtiar kita berikutnya adalah bersegera untuk mewujudkan akad nikah yang mensahkan segalanya. Sambil terus berdiplomasi dan berkoordinasi dengan berbagai pihak yang berkepentingan dalam hal ini termasuk orang tua, calon mempelai, keluarga, panitia, rekanan, dkk. Hingga proses yang paling bijak adalah dengan selalu menghormati orang tua kedua belah pihak dan sambil mempenetrasi segala yang syar’i untuk mengungguli segala yang sekadar budaya atau adat. Selamat berjuang untuk menyongsong akad nikah yang barokah dan syariah!😀