Tags

, , , , , , , , , , ,

Kamis malam (10/10) saat saya membuka satu situs jejaring sosial tampak sudah banyak sharing link dari teman-teman mengabarkan tentang pengumuman pendaftaran Program D IV dan D III STAN. Program ini diselenggarakan di kampus Ali Wardhana, STAN Jurang Mangu, Bintaro, Tangerang Selatan. Lama pendidikan sekitar 2 tahun untuk program Akuntansi dan 2,5 tahun untuk program kurikulum khusus. Sebelumnya, kami bersekolah di sekolah tinggi tersebut untuk jenjang pendidikan Diploma III dan Diploma I. Ada enam spesialisasi tempat kita lebih fokus belajarnya sehari-hari. Saya lulusan spesialisasi Akuntansi Pemerintah dan mas Priyayi Muslim berasal dari Spesialisasi Penilai. Ada juga yang berasal dari spesialisasi Administrasi Perpajakan, Kebendaharaan Negara, Piutang Lelang Negara, dan Bea Cukai.

Masa pendidikan diploma III adalah tiga tahun dan diploma I adalah satu tahun. Setelah kami lulus dan ditempatkan pada unit instansi vertikal di bawah Kementerian Keuangan yang meliputi wilayah seluruh RI, maka kami bekerja sebagai PNS di masing-masing instansi. Kemudian pendidikan diploma IV dan Diploma III Khusus ini adalah sarana beasiswa bagi kami untuk meningkatkan intelektualitas dalam bidang keilmuan akuntansi. Karena semua penyelenggaraannya terpusat di Kampus STAN Jurang Mangu maka status mahasiswanya adalah pegawai tugas belajar dan sementara meninggalkan status sebagai pegawai biasa di kantor.

Masa-masa D IV ini memang bagi sebagian besar kami adalah sebagai kesempatan ‘mengubah nasib’. Terutama bagi yang penempatannya berada di luar homebase dan luar pulau Jawa. Segenap usaha dilakoni demi harapan yang lebih besar kembali ke homebase, bahkan tidak sedikit yang memanfaatkannya untuk momen berkumpulnya keluarga karena sebelumnya rumah tangga tersebut menjalani Long Distant Marriage (LDM). Terlebih, masa depan Ujian Dinas persamaan kenaikan pangkat bagi pegawai yang memilih berkuliah strata satu di luar kedinasan makin buram atau tidak jelas. Sudah sejak tahun 2011 belum terlaksana kembali ujian UPKP bagi yang ingin menyamakan pangkat karena sudah rampung pendidikannya di luar kedinasan.

Untuk itulah, D IV dan D III Khusus laiknya menjadi pilihan favorit pegawai Kemenkeu Lulusan STAN ini. Oia, tidak kalah juga, teman-teman saya yang sudah berada di kota besar bahkan di homebase menjajal nasibnya untuk ikut tes pendaftaran D IV dan D III Khusus ini. Memang enak sekali kuliahnya karena sehari-hari terlepas dari beban rutinitas kantor. Otomotis mempunyai ‘waktu luang’ lebih banyak selain waktu-waktu kuliah, pun bisa menikmati liburan panjang sampai sebulan dua bulan yang sudah pasti tidak akan bisa dinikmati oleh pegawai kantoran dengan alasan cuti reguler.

Malam itu, saya dan Mas Priyayi Muslim hanya saling bertukar informasi tentang pendftaran tersebut. Sebenarnya saya sudah tahu jawaban akan pertanyaan yang mau saya lontarkan pada beliau. “Mas mau ikut daftar ndak?”. Mas Priyayi Muslim sejak sekitar bulan Juli sudah resmi menjadi mahasiswa Universitas Terbuka jurusan ilmu komunikasi. Sebenarnya, bukan halangan saklek bagi beliau untuk ikut mendaftar D IV kembali. Tapi saya sudah tahu jawabannya, Priyayi Muslim adalah orang yang merdeka. Sepintas dia terlihat aneh karena sama sekali tidak berminat kembali belajar di kampus penuh kenangan itu sebagai mahasiswa D IV. Bahkan saya sering meledek, “Kalau mas lolos jadi mahasiswanya, mungkin mas bisa jadi Presma loh atau Ketua MBM.” Dan kami pun tertawa terbahak bersama-sama.

Sebenarnya, kemarin-kemarin saya sangat sedih dan merasa sangat cemburu pada euforia semangat teman-teman yang berminat akan mendaftar kembali. Terkenang pada masa mahasiswa dulu saat saya banyak ‘njagong’ di sebuah rumah ummahat senior yang menjadi ketua Akhawat di kampus saat itu sekaligus menjalani sebagai mahasiswa D IV terlihat nyaman sekali. Saat itu beliau mempunyai dua gadis cilik yang berusia dua dan empat tahunan. *Bener ga mba Di? ^^, Sepintas azzam saya membulat akan meneruskan pendidikan strata satu seperti beliau. Dan membayangkan saya sudah mempunyai baby kecil usia satu atau dua tahun, Hahaha….;-D

Rasanya senang sekali setiap pagi beliau bisa mengantar mbak Salma dan Mbak Faza ke sekolah taman kanak-kanaknya. Saya juga sempat ikut nganter mereka pas itu karena mau ngobrol sama mbak Di lebih panjang. Sejak saat itu saya bertekad untuk belajar sungguh-sungguh untuk lolos menjadi mahasiswa D IV tersebut.

Sekarang, saya sudah menjadi istri dari suami yang paling baik bagi saya, my beloved Priyayi Muslim. Kami baru berkumpul dan belajar menjalani rumah tangga satu atap baru sekitar empat bulan ini. Pada masa saya magang hingga kini ada banyak sekali pembelajaran-pembelajaran yang bisa saya ambil. Mas Priyayi bilang, “People Change!”. Yah! Dalam waktu kurang lebih dua sampai tiga tahun ini tekad dan azzam saya yang sudah terlanjur bulat itu lama-lama terkikis. Memang masih bulat asa tersebut tetapi tiba-tiba saja terlanjur terbakar karena pijar matahari kehidupan sehari-hari.

Tersengat saya menyaksikan semangat teman-teman yang akan berjuang kembali untuk lolos menjadi mahasiswa D IV dan D III Khusus. Terbayang bila saya dan mas Priyayi Muslim bisa sama-sama lolos yang mana kami bisa kembali ke Pulau Jawa dan harapan untuk segera berkantor di Kota Jogja setelah lulus semakin gamblang. Pun, kami bisa mempunyai banyak waktu luang dan ketidaklelahan sehingga kami mungkin bisa lebih fokus mempersiapkan kehamilan yang sudah sangat kami nanti ini. Tidak dibebani dengan beban penerimaan sebagai Account Representative yang meski mengais tiap potensi demi terkumpulnya pundi-pundi bangsa.

Allahu Akbar!

Allahu Rabbi, kami adalah makhluk-Mu yang lemah, kami hanya bisa mereka-reka jalan hidup kami. Kami hanya bisa berikhtiar segenap yang kami mampu. Hingga kini kami harus menjalani sehari-hari di kota yang mayoritas kristiani ini sudah kami anggap yang paling baik. Sungguh, sebenarnya kami sangat ingin berdekatan dengan kedua orang tua dan saudara-saudara kami di Pulau Jawa. Namun, pulang kampung hanya satu sampai dua kali adalah telah menjadi kebahagiaan bagi kami. Mas Priyayi yang harus melintasi Gunung Klabat setiap hari demi mencapai kantornya yang berjarak kurang lebih lima puluh kilometer dan saya yang harus mandiri pergi ke kantor sendiri sejauh tiga puluh sampai puluh menit perjalanan motor itu pun sudah kami maklumi. Kami bersyukur karena sudah bisa bertemu dan merangkul peluk setiap hari. Alhamdulillah…

Maka, selama setiap keputusan suami adalah tidak bertentangan dengan hukum syara’, maka bagi saya adalah kemestian untuk menaatinya. Meskipun sebetulnya mas Priyayi sudah berbesar hati untuk menyilakan saya mendaftar tes D IV tersebut. Biarpun telah hangat mata ini menahan tangis yang terisak menyaksikan semangat dan doa teman-teman yang sangat ingin lolos. Insya Allah kami dari jauh ikut mendoakan yang terbaik buat teman-teman semua. ^^,

Apalagi, beberapa pekan sebelumnya, ‘dunia’ kami heboh karena banyak pemberitaan tentang DINAMIKA tahun 2013 ini yang berjalan tidak seperti tradisi biasanya. DINAMIKA adalah acara penyelenggaraan orientasi di kampus kami bagi mahasiswa baru. Kesan DINAMIKA yang keren, ‘adem, hijau, islamis tidak terlaksana seperti biasa seperti pakem yang telah diwariskan turun temurun oleh panitianya. Banyak teman melalui status dan komentarnya melalui jejaring sosial menyatakan prihatin dan merasa tidak bisa berbuat lebih banyak untuk kampus. Hingga saat itu, tercetus semangat dan gairah yang luar biasa dari teman-teman untuk kembali menjadi bagian kampus perjuangan untuk menghijaukannya kembali. Pesan dari sahabat Mas Priyayi Muslim yang sekarang berpenempatan di instansi STAN memang mengatakan kampus sedang membutuhkan banyak sekali pejuang.

Keadaan ini diakibatkan sempat terputusnya rantai mahasiswa karena kebijakan dari pusat yang tidak membuka pendaftaran mahasiswa baru jenjang D III dan D I Reguler dan baru dibuka kembali pada tahun 2013 ini. Sehingga mahasiswa angkatan 2013 ini tidak mempunyai kakak tingkat yang biasanya membimbing mereka meneruskan semarak kehidupan kemahasiswaan di kampus. Oleh karena itu, imo, peran aktif mahasiswa D IV dan D III Khusus yang biasanya hanya pada level kebijakan kini sangat dibutuhkan secara teknis untuk ikut membimbing adik-adik mahasiswa baru.

Teman-teman saya memang patut diacungi jempol karena mereka begitu bersemangat kembali ke kampus yang tujuan mereka selain untuk tujuan-tujuan yang sudah saya sebutkan tadi juga mempunyai misi mulia untuk kembali meramaikan dakwah kampus. Masya Allah, kembali saya sangat iri dan cemburu akan gairah ini!

Kini, tiada yang bisa saya rasakan kecuali memutuskan untuk tetap bahagia. Iya, bahagia yang sesungguhnya. ;-D Rasa-rasanya sangat tidak pantas bagi saya untuk meragukan kesempitan jalan ini karena ada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Mahakaya dan Maha Pemurah. Apalagi jika semua keputusan ini dalam rangka mengharap ridho Allah juga dan dilaksanakan karena ingin menaati dan membersamai suami yang saya cintai, bukankah Allah pasti akan memberikan banyak jalan lain yang insya Allah akan lebih baik? ^^

Bismillah, insya Allah masih banyak jalan bagi kami untuk kembali pulang mendekati kedua orang tua kami tercinta dan insya Allah akan lebih banyak kemudahan lain bagi kami untuk mengikhtiarkan adanya keturunan bagi saya dan mas Priyayi Muslim, dan semoga lebih bayak kebaikan lagi bagi kami setelah menjalani keputusan ini. Allahu Rabbi, pada-Mu kami bergantung.

Bagi teman-teman yang akan berjuang, semoga sukses dan kebaikan selalu ada dalam setiap langkah. Saya yang iri dan cemburu pada kalian insya Allah sangat memahami kebutuhan hakiki kita. Meskipun kami belum mempunyai anak tapi sangat wajar bila teman-teman sangat ingin mempunyai banyak waktu bersama anak-anak. Sangat maklum bagi kami untuk teman-teman yang sangat ingin berjuang untuk berkumpul bersama keluarga karena kami pun pernah merasakan romantika LDM, dan memang sangat baik bagi kalian untuk terus berprestasi melalui tugas belajar ini karena insya Allah ada akselerasi pangkat dan jabatan ketika nanti kembali ke kantor.

😀

merenung   gambar

PS: kami sangat menanti doa yang tulus dari Saudara semua ^^, Jazakumullahu khairan katsir wa jazakumullah ahsanul jaza