Terlepas dari semua lika-liku proses untuk mewujudkan pernikahan, baik itu mudah dan lancar, atau meski melewati jalanan yang panjang dan terjal,🙂, ada satu ikhtiar yang tidak sebaiknya kita tinggalkan, beristikharah. Karena doa adalah senjata kaum beriman. Kita sepenuhnya menyadari bahwa segala sesuatu terjadi pasti atas izin dan kehendak Allah. Alla Azza wa Jalla yang Maha Melihat akan senantiasa melihat segala proses tersebut. Doa itulah sarana bagi kita untuk terus mengetuk pintu langit dan berupaya menjalin komunikasi dengan sang Khalik.

Istikharah, bukanlah shalat yang dikerjakan bila kita sedang dalam kesulitan memilih dalam dua, tiga, atau beberapa pilihan saja. Melainkan sarana saat kita berada dalam kesulitan untuk melangkah karena banyak sekali keraguan yang menggelayuti dan masih gelap tabir-tabir yang belum tersingkap. Bahkan saat kita hanya mempunyai satu bayangan pilihan namun kita belum kuat untuk memberi putusan. Istikharah ini juga bukan sarana untuk memilih jodoh saja tapi insya Allah dapat kita lakukan untuk semua permasalahan dalam hidup.

Salah satunya, ya menikah ini, maka sebaiknya jangan sampai kita melewati istikharah supaya bisa meraih sedekat mungkin ridho Allah. Bahkan kalau kita sudah meniatkan akan menikah dengan pacar (misalnya) yang sudah nyata kita cintai sebelumnya, bertanyalah pada Allah, apakah Dia sudah ridho atas pilihan dan keputusan kita. Dengan yakin bahwa Allah meridhoi segala langkah dan keputusan, insya Allah, berkah dan karunia akan Allah limpahkan pada kehidupan kita nantinya.

Mas Priyayi Muslim pernah mencoretkan beberapa kelumit soal istikharah dalam sebuah memoarnya saat awal proses ta’aruf kami sekitar tiga tahun yang lalu.😀. Priyayi Muslim sampai bertanya pada banyak orang tentang bagaimana hukumnya menjalankan ‘buah’ istikharahnya. Mimpi yang ia dapat terasa sangat hambar karena tidak menyangka sama sekali sebelumnya. Well, berbekal hasil pencarian tentang hukum beristikharah akhirnya ia bertekad untuk memperistri saya yang alhamdulillah sekarang sudah terlaksana, hehe

Ustadz Ahmad Fariz, Pengajar Mahad Tarbiyah MBM STAN, yang dekat dengan Mas Priyayi Muslim saat dulu menjadi murid dan ustadz di Mahad tersebut, menuturkan bahwa “Wajib melaksanakan hasil istikharah. Apalagi jika hasilnya telah terang. Melakukan istikharah lagi berarti memprotes apa yang telah Allah tunjukkan. Hukum asal shalat istikharah juga hanya dilaksanakan satu kali, bukan dilaksanakan berkalikali.” Kurang lebih begitu penjelasan beliau.”

Kemudian dia bertanya pada salah seorang sahabatnya di Kampus dulu dan sahabatnya itu menukilkan pendapat dari Mazhab Syafi’i, Az Zamlakani mengatakan: ”Jika seseorang mengerjakan shalat istikharah dua rakaat untuk suatu hal, maka hendaklah setelah itu dia melakukan apa yang tampak olehnya, baik hatinya merasa senang maupun tidak, karena padanya kebaikan itu berada sekalipun jiwanya tidak menyukainya”. Lebih lanjut, dia mengatakan, “Di dalam hadits tersebut tidak ada syarat adanya kesenangan diri.” (Thabaqaat Asy-Syafi’iyyah, At-Taaj Ibnus Subki, jilid IX halaman 206).

Sementara itu, dalam Fikih Sunnah karangan Sayyid Sabiq, dijelaskan: Imam Nawawi mengatakan, “Setelah istikharah, seseorang harus mengerjakan apa yang dirasa lebih baik untuk dirinya. Di samping itu, hendaknya ia benar-benar bebas dari kehendak pribadi. Jadi, jangan sampai ada perasaan pilihan terbaik sebelum mengerjakan shalat istikharah karena bila begitu, maka sama halnya tidak beristikharah kepada Allah atau kurang pasrah terhadap pengetahuan dan kekuasaan Allah.”

Jadilah, kami sejak akad nikah itu hingga sekarang dan insya Allah di hari-hari ke depan adalah menunaikan kerja-kerja dari hasil istikharah yang kami anggap paling baik dalam menggapai keberkahan dalam perjalanan kehidupan. Menikah, adalah salah satu ibadah dan kehidupan yang kami ikhtiarkan untuk memperoleh keberkahan lebih banyak dari Allah. Dan kami percaya tuntunan Rasulullah bahwa dengan istikharah dalam menetapkan sebuah atau beberapa putusan adalah yang paling baik, insya Allah.😉

Sujud (Sajdah) Wallpapers (3) gambar