Tags

, ,

Pernah membayangkan nggak, si dia yang kamu kenal di kampus sebagai sosok yang galak akhirnya menjadi teman seumur hidupmu? Atau, justru sama sekali tidak terpikir akan dinikahi oleh lelaki yang saat itu kamu masih ingusan di taman kanak-kanak, tetapi dia sudah menjadi bintang kelas di sekolah menengah atau pesantrennya? Bahkan, hanya lelaki aneh yang membawa tas besar di bus dan tidak sengaja menyenggol kepalamu saat perjalanan mudik musim liburan akhirnya dia lah yang menjadi pangeranmu, bukan hanya akan membawa tas besar, melainkan dia yang membawakan seluruh beban hidupmu?๐Ÿ™‚

Rahasia misteri jodoh, kata orang-orang.

Tetapi, yang namanya riski itu tidak akan pernah tertukar menemui yang diberi titipan riski. Meskipun akan melewati jalan yang berliku-liku. Betul kan? ^^ Mari kita simak pesan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah disisipkan secara sangat apik dalam Al Quran untuk dipahami hakikatnya berikut ini, “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” Al An’am: 59

Sekalipun jodoh itu misteri, tetapi bukan misteri horor seperti judul sinetron yang banyak tayang di televisi. Misteri ini adalah perkara ikhtiar yang melibatkan wilayah kerja manusia. Banyak yang mengusahakan ikhtiar pernikahan itu dengan berpacaran yang diawali rasa suka sama suka. Nah, lalu bagaimana sebaiknya ikhtiar tersebut bagi kita? Ikut pacaran juga?

Tentu saja no no no!

Kita bisa mengusahakan ikhtiar pencarian jodoh ini dengan mendekat ke jalan yang lebih banyak berkah-Nya. Banyak jalannya kok dan terbentang luas. Asalkan, kita mau berpikiran terbuka dan meniatkan diri sungguh-sungguh untuk menikah dengan pasangan yang baik dunia-akhirat juga dengan cara yang baik dunia-akhirat.

Pertama, azzamkan betul tekad kita untuk menikah dengan cara yang baik dan pasangan terbaik. Allah Azza wa Jalla berfirman dalam Al Quran Surat An Nur ayat 26, bahwa laki-laki yang baik akan bersama wanita yang baik. Mohon petunjuk dan bimbingan-Nya selalu sepanjang perjalanan ini karena hanya Allah yang Mahatahu terbaik untuk makhluk-Nya. Ikhlaskan segala jalan-Nya yang akan kita tempuh walaupun seringkali tidak sesuai dengan jalan hawa nafsu kita. Menjadi sering bersimpuh kepada-Nya itu sama sekali tidak mengapa, bahkan Allah suka, mohonkan untuk semua yang akan kita lewati agar dimudahkan proses demi prosesnya.

Langkah selanjutnya, mari kita berlemah lembut terhadap orang tua. Bukan saja supaya kita bisa dinikahkan oleh mereka, tetapi, sejak pertama kali kita lahir ke dunia, Allah telah menitipkan diri yang lemah ini pada kedua orang tua. Mereka yang menjadikan kita beragama dan mengenal ilmu. Pun, mereka yang menjadikan kita kuat berdiri hingga dewasa kini. Itulah sebab ridhonya Allah terletak pada ridho orang tua. Apalagi anak-anak perempuan, hak wali adalah kepada ayahanda mereka, Ayahlah yang telah menghabiskan segala upaya untuk kebaikan hidup kita. Ayah kita jua lah, di depan Allah yang akan bertanggung jawab terhadap hidup kita sebelum bersuami di akhirat kelak.

Maka, sudah pasti tidak pantas ada anak gadis yang kelewatan di hadapan ibu bapaknya. Tentu, itikad berlemah lembut ini bukan kata kerja pasif. Kita lantas berpangku tangan saja terhadap semua keputusan mereka. Berlemah lembut ini adalah upaya pendekatan untuk menselaraskan hati dan pikiran kita dengan keinginan luhur mereka. Orang tua, bagaimana pun mereka, sudah pasti akan menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Ibarat pepatah, selama ini mereka lah yang mengembangkan layar perahu kita, maka pada saatnya nanti, sangat wajar mereka ingin pengganti yang lebih baik untuk menegakkan bahtera anaknya. Bahkan yang terbaik menurut pandangan mereka.

Nah, sering kali kita jumpai justru orang tua mempunyai pandangan tentang jodoh tidak serta merta sepandangan dengan sang anak. Maklumilah hal tersebut karena mereka telah melampaui lebih banyak masa. Namun, terkadang, nilai-nilai yang telah kita pahami itulah yang belum dipahami kedua orang tua. Jangan marah kepada mereka!

Hanya belum lunaklah saja hingga mereka terkesan menyulitkan.

Mungkin, di sinilah salah satu ujian yang akan mendatangkan lebih banyak hikmah bagi pernikahan kita, bahkan untuk kebaikan hubungan kita dengan orang tua. Teruslah berlemah lembut dan sampaikan bahwa kita sangat menginginkan yang paling baik agamanya. Beragama yang baik yang akan mendatangkan kehidupan yang lebih baik di masa depan, insya Allah.๐Ÿ™‚. Masa depan kita yang baik, anak-anak mereka, juga akan mencerahkan masa depan kedua orang tua di dunia dan akhirat. Aamiin๐Ÿ™‚

Kemudian, saatnya melebarkan sayap ^^

Tergapainya singgasana pernikahan tiap pasangan pasti menorehkan serumit cerita masing-masing. Eh, tapi mungkin bagi sebagian kawan-kawan cerita proses pernikahan mereka malah tidak sulit. Tetapi, memang ada yang melewatinya sampai beranak sungai air mata dan berdarah-darah.๐Ÿ˜€ Tidak apa-apalah, kuncinya, kata yang sudah berhasil menjalani ternyata cukup satu. Nikmati!

Menikmati setiap prosesnya, sambil terus genggam erat keyakinan diri akan baiknya Allah Azza wa Jalla, insya Allah akan lebih mudah dijalani. Khusnudzon! Begini ya, biasanya soal pernikahan itu diawali dari rasa suka sama suka. Sampai ada yang menimbulkan cinta membara di lubuk hati. Hmmm, wajar karena fitrah manusia. Siapapun pasangan, tentu akan sangat bahagia bila akhirnya berada dalam satu majelis akad pernikahan dengan yang orang yang dicintainya. Tidak peduli dan tidak memandang statusnya,ย ikhwan dan akhwat sekalipun. Lalu bagaimana bila kita harus menikah dengan seseorang yang rasa cinta belum ada di dada?

Ahay!!ย  Rasa cinta itu kan datang karena Allah, maka mintalah rasa cinta itu kepada-Nya. Mudah kan?๐Ÿ™‚ Kalau kita saja bisa mencintai orang yang belum menjadi suami atau istri kita, maka meminta pada Allah untuk menyalakan cinta pada rumah tangga kita adalah hal sepele bagi kuasa-Nya. Insya Allah๐Ÿ™‚

Tapi, apa memang sesepele itukah bagi kita untuk menerbitkan cinta pada pasangan? Apalagi tanpa didahului rasa suka yang fitrah atau semacam apa ya? chemistry antarlawan jenis begitu mungkin ya. Tentu saja, kalau jawabannya dikembalikan pada masing-masing gejolak jiwa akan berbeda-beda jawabannya. Tetapi, yakin dan pintalah selalu pada yang Maha Mencintai makhluk-Nya, Ar Rahman dan Ar Rahim, ^^, pastilah Allah yang akan mudah menyempurnakan ce i en te a tersebut.

Jadi, jalan menemukan jodoh itu bisa dari mana-mana. Namun, yang mesti kita ikhtiarkan adalah pada jalan yang benar. Meminta arahan dan bantuan dari orang-orang baik dan terpercaya itu sangat dianjurkan. Apalagi bila sebelumnya kita belum mempunyai pandangan siapakah calon terbaik menjadi ayah atau ibu anak-anak kita. Khadijah binti Khuwalid, telah menjatuhkan asanya pada pemuda yang bersinar itu, Muhammad Al Amin. Lalu dia meminta bantuan Maisarah, pembantu laki-lakinya, untuk menyelami pribadi Muhammad.

Kita pun boleh saja sekiranya mempunyai pandangan kepada siapakah hati ini cenderung. Cenderung untuk menikah dengan sosoknya karena mengharap ridho dan barokah Allah tentunya. Bukan kecenderungan yang tajam semata karena dorongan nafsu yang sejatinya tumpul. Tapi bila kita sendiri ragu, maka membicarakan dengan orang tua, guru mengaji, teman yang shalih, atau keluarga yang dekat adalah banyak jalan menuju Makkah. Hehe

Jodoh pasti datang atas izin Allah. Sekali lagi, hanya Allah yang paling mengetahui cara dan bagaimana kita bertemunya. Jalan yang Allah kehendaki akan melahirkan sebongkah hikmah dan ketentuan yang sangat indah bagi fase hidup kita, baik sekarang maupun nantinya.ย  Tidak ada satupun manusia yang akan merasa paling berkuasa atas keputusan jodoh ini. Demi apapun, tidak semestinya ada pihak atau orang yang dapat memaksa kita untuk menikah dengan calon yang paling direstui. Kalaupun ada, pastilah pihak atau orang tersebut adalah kedua orang tua. Namun, menikah bukanlah untuk satu sampai dua hari atau satu bulan. Menikah bagi yang menjalani akan dilaksanakan sepanjang hayatnya. Kembalikanlah semua keputusan menikah kepada yang akan menjalani.

Kita yang akan menjalani akad nikah tersebut di hadapan penghulu dan wali serta keluarga besar. Allah dan para malaikat-Nya juga turut menjadi saksi mengikatnya mitsaqan ghaliza itu. Kelak semua pertanggungjawaban atas keputusan kita adalah diri sendiri yang menanggung segala risiko di dunia dan akhirat. Kita pun yang akan menjalani episode-episode indah itu sepaket dengan segala problematikanya.

Jalan akan selalu terbentang dan luas, insya Allah atas karunia-Nya. Maka mari menjadi dewasa untuk menempuh jalan tersebut. Apabila menjadi dewasa itu teramat sulit bagi diri kita sendiri, minimal kita harus belajar menjadi dewasa untuk pernikahan kita,๐Ÿ™‚

Semangat!

gambar npsp

gambar