Tags

, , , ,

Membaca banyak buku, pergi mengaji, dan mencermati banyak kisah akan memberi banyak pembelajaran dan ilmu sebelum beramal. Bukan hanya untuk menikah, semua aktivitas manusia membutuhkan ilmu. Agar kita tidak sampai salah meletakkan niat dan tujuan dalam beraktivitas. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Umar ra, bahwa segala perbuatan tergantung pada niatnya. Tentunya, kita sebagai manusia jangan sampai merugi di dalam menjalani kehidupan yang sempit ini. Waktu yang singkat mesti kita isi dengan amal-amal yang bernilai besar, insya Allah.

Kurang lebih, begitulah urgensinya berilmu sebelum beramal. Apalagi menikah, suatu aktivitas yang sejatinya bernilai ibadah. Menikah akan membukakan kita pada suatu nikmat surga yang Allah perkenankan untuk kita nikmati di dunia. Pun, sebagian besar kehidupan manusia mayoritas akan dilewati dalam bingkai pernikahan. Alangkah meruginya bila aktivitas manusiawi tersebut yang mana manusia pada fitrahnya adalah menikah justru menjadikan kita merugi besar di dunia dan akhirat.

Bukankah dengan ilmu, kita akan mengetahui bila sunnah umat Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah menikah. Yang mengingkari justru bukan bagian umatnya, naudzubillah. Ilmu akan mengajarkan kita bahwa kunci surga seorang istri pada ridho suaminya, sedangkan surganya para lelaki adalah tetap pada ibunya. Begitupun, ilmu yang akan menempa sebuah keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah,  hingga mendatangkan banyak barokah Allah dalam keluarga tersebut. Ilmu juga yang akan mencegah seorang wanita berkeluh kesah pada diri yang lemah karena mengandung, menyusui, dan membesarkan anak-anak suaminya. Ilmu yang akan menahan lisan perempuan yang mengumpat karena lelah fisik dan emosi jiwa yang meluap akibat banyaknya pekerjaan rumah tangga. Sampai ilmu pulalah, laki-laki akan mendapatkan surga karena menjadi bapak terhadap anak-anak wanita yang mensucikan dirinya sampai bertemu dengan para suami mereka.

Ilmu yang akan memimpin semua amal kita di dunia ini dan akan menumbuhkan harapan  besar atas balasan yang lebih baik di akhirat nanti. Insya Allah. Namun, jalan hidup manusia juga pasti berbeda-beda. Ilmu yang digenggam justru bisa menjadi sandungan diri bila tidak disertai dua keutamaan ini, syukur dan sabar. Maka, mari kita memaknai pelangi yang indah meski berbeda-beda warnanya.

pelangi gambar

Misalkan lingkungan pendidikan saya berasal dari sekolah tinggi kedinasan. Telah lumrah mahasiswa yang memasuki tingkat akhir mulai membicarakan rencana pernikahan. Setelah lulus kuliah kami akan ditempatkan pada instansi yang tersebar di seluruh indonesia dengan status CPNS. Setahun kemudian biasanya akan diangkat menjadi PNS. Satu modal telah terkantungi yakni adanya kejelasan pekerjaan. Pada sisi ini, kami  diuntungkan dengan jalan hidup seperti ini karena seperti mendapat tiket terusan untuk cepat-cepat menikah. Biasanya setelah wisuda akan banyak bertebaran undangan pernikahan teman-teman sejawat, baik itu sesama angkatan atau dengan para kakak kelas. Tidak sediikit juga teman-teman yang menikahi pasangan di luar instansi kementerian ini.

Seakan menjadi sindrom, anak STAN akan cepat menikah🙂 Oleh karena itu, mari kita menikmati pelangi, sekali lagi karena jalan hidup manusia pasti akan berbeda. Tidak akan pernah ada yang persis sama. Untuk itu, bagi teman-teman yang belum kunjung menemukan muara penantian jodoh di saat karib-karibnya hampir semua telah mentas bahkan adik-adik kelas pun telah banyak yang menyusul, perlu adanya maklum juga. Pandangan kita seperlunya diperluas, usia rata-rata mahasiswa yang lulus diploma sekolah kedinasan masih cukup belia bila dibandingkan dengan rekan-rekan di luaran sana. Mungkin saja, malah kita akan diminta lebih bersabar karena banyak rekan yang lebih urgent untuk menikah mengingat usia tak lagi muda.

Soal riski pun akan mempengaruhi karena biasanya laki-laki akan berani menikahi gadisnya jika telah merasa siap soal biaya. Jika bukan dari sekolah kedinasan, mayoritas dari usia kelulusan kami justru baru mulai merintis karirnya.

Sawang sinawang, ungkapan dalam dialek bahasa Jawa yang berati saling memandang. Ungkapan ini bisa diartikan positif bila kita berkenan meluaskan pandangan untuk memperoleh hikmah. Meluaskan pandangan akan menuntun kita pada kelapangan berpikir. Pola pikir yang lapang akan mencukupkan kita pada hati yang tenang dan jika hati sudah tenang, kelak semua urusan bagai terasa semua gampang.😀

Pelangi memang indah ya? Tersulap padu padannya oleh warna yang beraneka rupa. Ada merah, hijau, kuning, biru, nila, dan ungu. Jadi, mari memahami bahwa segala manusia pasti akan berbeda. Hati kita tidak perlu lagi masygul akan segala kebaikan yang Allah karuniakan pada orang lain. Mengingat sebuah riwayat yang pernah disampaikan oleh sahabat Abdullah bin ‘Amr (para ulama berbeda pendapat tentang keshahihan haditsnya). “Sekarang akan muncul ditengah-tengah kalian seorang laki-laki ahli surga”, sabda Nabi tiba-tiba kepada para sahabatnya  saat mereka sedang berkumpul. Tak lama kemudian, muncullah seorang laki-laki dari kaum Anshar yang dari jenggotnya masih menetes air wudlunya sambil menenteng dua sandalnya dengan tangan kirinya. Bahkan Nabi mengulang sabdanya hingga kali tiga pun dengan seseorang yang sama.

Maka, Abdullah bin ‘Amr berinisitif untuk mencari tahu amalan terbaik laki-laki tersebut. Dia bermalam bersama orang tersebut selama tiga malam, menanti rahasia mengapa dia dikatakan sebagai ahli surga.
Ternyata, Abdullah bin ‘Amr tidak melihat lelaki tersebut sholat malam selama tiga hari ia berada di rumahnya. Namun bila ia terbangun dari tidurnya, lelaki ahli surga berbolak-balik pada tempat tidurnya selalu menyebut Allah ‘Azza wa Jalla dan bertakbir, hingga datang waktu shalat Shubuh. Salah satu amalan yang bisa dirasakan oleh Abdullah (bin ‘Amr) adalah bahwa dia tidak pernah mendengar lelaki tersebut kecuali kebaikan.

Karena amalan-amalan yang dilakukan oleh lelaki ahli surga tersebut biasa-biasa saja, maka Abdullah (bin ‘Amr) memutuskan untuk bertanya secara langsung kepadanya. “Wahai hamba Allah, sesungguhnya antara ku dan antara ayahku tidak ada kemarahan dan tidak pula pemutusan hubungan, akan tetapi karena aku mendengar Rasulullah SAW bersabda tertuju kepadamu sampai tiga kali (yaitu), “Sekarang akan muncul ditengah-tengah kalian seorang laki-laki ahli surga”, lalu engkau muncul pula tiga kali. Maka aku ingin singgah dirumahmu supaya aku bisa melihat amalanmu sehingga aku bisa mencontohnya, tetapi aku tidak melihat engkau mengamalkan banyak amalan, lalu apa yang menyebabkan kamu sampai Rasulullah SAW bersabda demikian ?”, kata Abdullah.

Orang laki-laki tersebut menjawab : “Tidak ada itu semua kecuali apa yang engkau telah melihatnya”. Maka Abdullah bin Amr berpaling untuk pulang. Melihat beliau akan pulang, lelaki ahli surga tersebut membuka sebuah rahasia dahsyat amalan hatinya. Beliau berkata “Tidak ada itu semua kecuali apa yang engkau telah melihatnya.” Beliau melanjutkan lagi “Hanya saja tidak ada pada diriku perasaan dendam kepada seorangpun dari kaum Muslimin, dan tidak ada pula perasaan dengki pada diriku kepada seorangpun atas kebaikan yang Allah berikan kepadanya”.

Masya Allah,

Begitulah adanya syukur dan sabar yang membersamai ilmu. Akan tidak ada sejumput pun hasud yang merasuki hati-hati orang beriman. Sepantasnya, kita juga harus maklum, belum menikahnya seseorang adalah bentuk kasih-sayang Allah jua. Bahkan dengan segala serbi perjuangannya, misal sudah bolak-balik berkenalan dengan calon namun harus kembali mundur karena banyak hal tidak mendukung terang benderangnya langkah.

Dan, tidak perlu lagi membanding-bandingkan dengan jalan hidup orang lain karena bersandingnya dua insan dalam singgasana pernikahan pun akan menemukan jalannya masing-masing.🙂

Bismillah, keep calm and keep processing! ^^