Tags

, , , , , , ,

Agaknya, suatu kekeliruan besar bagi saya yang menganggap cukup persiapan dengan sering merapat ke berbagai kajian pernikahan, melahap buku-buku pernikahan,  maupun mendengar banyak kisah kasih rumah tangga Ummahat senior di kampus. Ada hal urgent yang khilaf saya abaikan. Saya telah lupa mengenal diri sendiri. Meskipun saat itu, saya mengira bapak dan ibu sudah aman dikondisikan atas suatu waktu, mendadak pun, untuk saya kenalkan kepada laki-laki yang ada minat terhadap anak perempuannya ini.

Terlupa bahwa saya ini adalah makhluk yang ada dalam jalan takdir-Nya. Jalan takdir terbaik, Rabb semesta alam, Allah Azza wa Jalla. Manusia terlahir hingga mati, ada dalam genggaman Allah, segala proses yang dilalui atas izin-Nya semata setelah ikhtiar dan doa kita.

Bisa jadi, kita merasa siap menikah dengan pasangan yang memang kita bayangkan. Sosok yang begini dan begitu. Sosok ideal terbentuk dalam benak dan bayangan kita seperti apa yang telah dibaca dalam buku-buku nikah itu. Ada sosok yang diharapkan tentu maklum karena kita pun mempunyai fitrah dan kecenderungan yang sama sekali tidak dapat dipaksa tumbuhnya. Akan tetapi, baik di mata kita belum tentu baik di mata Allah bukan?

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al Baqarah: 216)

Di titik inilah naik dan turunnya iman diuji. Mungkin, kita telanjur menginginkan seorang lelaki shalih yang akan datang pada kehidupan pernikahan nantinya. Namun, Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui berbagai cara-Nya justru memanggil lelaki lain. Dia juga shalih, hanya saja tidak pernah ada dalam lintasan pikiran kita. Pun bukan kriteria dan tipe yang kita bayangkan. Karena itulah mengapa biasanya para binaan diwanti-wanti sang guru, baiknya tidak ada cinta yang mekar sebelum akad sah terucap.

Rasa dan kecenderungan  sebetulnya bukan hal bersalah, fitrahnya terbit pada lubuk hati kita tanpa direka. Sebagai manusia, justru sering kali kita tidak bisa menjawab mengapa cinta pada orang itu, atau mengapa tidak dengan yang lebih tampan misalnya. Biarlah rasa tersebut menjadi sebuah  nikmat atau anugerah dari yang Mahacinta. Rasa yang alami sebagaimana fitrahnya manusia sekaligus rasa yang bertanggung jawab. Jadi, senantiasa dikembalikan lagi kepada tuntunan syariat karena akan berbahaya apabila kita justru menjadikannya jatuh kepada perzinaan hati.

Menikah, kapan, siapa, bagaimana, bukankah itu semua adalah ketentuan Allah? Meski dengan sadar kita dapat memilih jalannya, pasangannya, atau waktunya, tetapi Allah jauh lebih memahami semua kejadian. Prosesi menikah sebenarnya tidak berbeda dengan persoalan riski lainnya. Kehamilan, kelahiran, kematian, segala takarannya telah dengan teliti diciptakan-Nya. Bahkan jauh sebelum diri kita sendiri diciptakan.

Mengenali diri sendiri akan membawa kita  mengenal sang Pencipta dan memahami hakikat keberadaan kita sesungguhnya. Kehidupan kita yang fana di dunia adalah ketundukan atas titah Allah Azza wa Jalla. Sehari-hari silih berganti tidak pernah lepas dari kehendak-Nya. Pun begitu proses menikah, meski kita sangat menginginkan menikah dengan sosok lain, tetapi Allah telah memilihkan yang terbaik. Tidak cukup semua bahasan yang ada dalam buku pernikahan bila kita tak segera menyalami takdir-Nya. Berdamai dengan angkuhnya diri, kemudian mengakui kelemahan diri, dan berbicara kepada Allah tentang ikhtiar dan takdir kita.

Perkara menikah memang bukan ajang perlombaan. Siapa yang duluan siapa yang menang. Sama sekali bukan begitu! Menikah adalah proses fastabikhul khairat, soal siapa duluan, bukan menjadi tujuan. Melainkan menikah adalah ibadah, yang mana di dalamnya mulai dari proses ta’aruf hingga akhirnya nanti di syurga adalah kebarokahan dan ridho Allah jua yang dikejar. Tidak ada sama sekali teori dunia bahwa kita lah yang berhak menikah dulu karena telah merasa siap. Sedangkan mereka yang kasat mata masih polos dan lugu tidak berhak menikah dulu. Begitu pula tidak ada kepastian bahwa sosoknya yang menjadi jodoh kita, tetapi pilihan Allah semata yang menjadi terbaik.

Cukupkan tenang dan sempurnakan berpasrahnya kita kepada Allah karena Dia yang menciptakan kita dan kehidupan. Sandarkan segalanya pada yang patut disandari, Allah yang Mahabesar. Kelak, bila kita sudah berusaha menyalami takdir dengan segenap ikhtiar dan doa, Allah pula yang akan melimpahkan kekuatan besar bagi diri untuk menerima dengan lapang. Bahkan, perlahan kita hanya akan menyadari, bahwa kehidupan setelahnya adalah serba indah dan barokah karena-Nya.😀

lumba lumba

gambar dari sini

Mari bersama belajar dan berproses! Karena kata-kata hanya akan menjadi nyata, bila menginspirasi hati dan membuahkan amal. Berdoa pula agar Allah Azza wa Jalla senantiasa menghidupkan hati dan amal kita, Allahumma aamiin. ^^