Tags

, , ,

danbo menikah

gambar dari sini

Menikah selaiknya bukan suatu aktivitas tabu dalam fase kehidupan manusia. Seseorang yang beranjak dewasa, sedikit demi sedikit akan mulai terpikirkan soal ini. Entah dari lingkungannya yang majemuk mengajarkannya untuk ‘segera menikah’, maupun dorongan pribadi dalam dirinya. Wajar, sebagai makhluk yang normal menjadi penasaran akan soal ini. Rasa penasaran ini sebenarnya tidak bisa dihindari bahkan hadir sangat alami, misalkan seorang anak gadis ketika memasuki usia sekolah di bangku SMP saja sudah mulai mempunyai rasa suka kepada teman laki-laki sebayanya. Bahkan kita sudah sama-sama tahu istilah umumnya, ‘pacaran’ bukan?🙂

Sepertinya, momen pacaran ini diada-adakan karena yang menjalani biasanya belum masuk pada usia pernikahan atau memang belum siap menjalani pernikahan. Maka, menjalani pacaran dulu dengan alih-alih mengenal temannya lebih dekat atau sekadar penyaluran naluri adalah suatu aktualisasi, meski keliru, sifat alamiah manusia tersebut.

Maka, yang selamat dari godaan dunia tersebut, atau berlepas diri setelah pernah merasakannya karena bertaubat dan menginginkan penjagaan diri yang lebih optimal, menikah memang satu-satunya gerbang aktualisasi naluri yang berkah dan selamat dunia dan akhirat, insya Allah🙂 Menikah itu, bagi saya pribadi adalah suatu akselerasi pendewasaan diri seorang manusia yang terwakili dengan kemegahan rasa cinta dan kasih sayang dalam sebuah keluarga. Sehari-hari, banyak keindahan tercipta dari adanya interaksi yang mula-mula adalah sepasang suami dan istri. Menikah memang indah, meski banyak sekali problematika yang datang silih berganti. Hehe…Itulah ujiannya bukan? Tidak ada manusia yang hidup terlepas dari ujian kehidupan itu sendiri. Ujian datang menjumpai kita semata-mata agar diketahui siapakah yang paling baik amalannya atau penyikapannya.

Sebelum menikah, biasanya kita akan semakin penasaran dengan kehidupan pernikahan itu sendiri. Terlebih, karena sebelumnya kita adalah seorang anak yang terbiasa bersama orang tua, kemudian bersekolah yang dilakukan sendiri saja, nanti setelah menikah akan ada individu baru dalam keseharian kita. Atau, bisa jadi pasangan lah yang akan menyita hampir seluruh kehidupan kita esoknya. Ditambah kenyataan teman sepantaran sudah ada yang menjalani pernikahan. Lalu kita membayangkan dia yang seusia dengan kita kini sudah menjalani lebih banyak variabel suka dukanya kehidupan. Semakin lama membayangkan dan mengamati, kadang rasa inginnya pun semakin besar, atau sekadar rasa penasarannya yang makin membuncah.

Jadi, apakah yang meski kita lakukan sebelum menikah? 

Masing-masing tentunya punya persiapannya dan caranya. Persiapan ujian sekolah dan cara belajar pun kita bisa berbeda-beda tergantung tipe kepribadian. Apalagi akan menghadapi pernikahan, selaksa keindahan dalam kehidupan manusia. Kembali kepada tuntunan agama kita, maka berilmu sebelum beramal adalah wajib hukumnya. Menikah itu bukan sekedar aktivitas jasmani, di dalamnya sarat sekali akan ilmu ruhani. Fikih, akidah, muamalah, akhlak, yang semuanya telah kumplit pada Kitabullah dan Hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Mari kita kembali kepada dua yang tak tergantikan sampai akhir zaman tersebut.

Cerita saya, saat menjelang kelulusan kuliah di sekolah tinggi kedinasan, dengan mengingat kembali kepribadian saya yang bergolongan darah AB, hehe, tentunya berbeda dengan teman-teman karib saya seperguruan di kampus yang bergolongan darah A, B, apalagi O.😀

Kala itu kami sedang berkumpul dan saya seperti biasa, sering menjadi TS (Thread starter), niat saya bukan apa-apa, tapi murni tulus ingin sama-sama belajar karena saya termasuk tipe yang sangat suka berdiskusi. Teman-teman mayoritas hanya tersenyum dan sedikit juga mau berbagi ketika saya tanya bagaimana kita mempersiapkan pernikahan. Awalnya, terus terang saya kesal, mengapa teman-teman tak tampak antusias mengobrol soal ini. Bukankah waktu kelulusan semakin dekat dan peluang kita akan segera menikah itu semakin besar?

Bagi saya ketika itu, banyak-banyak mendapatkan input, baik dari buku, mendengarkan pengalaman para Ummahat senior, mengikuti kajian tema munakahat, dan mengobrol ringan bahkan banyak menebak kejadian masa depan di antara teman sebaya adalah sarana persiapan diri. Hingga sampai merasa diri ini sudah diisi banyak masukan dan siap-siap saja suatu waktu datang pinangan. Haha…:-D

Seolah diri terlupa akan kekhilafan yang begitu besar, bahwa teman-teman itu unik. Mereka diam bukan berarti tidak mau atau belum mau serius memikirkan. Hanya saja, mereka tidak perlu menjadi saya yang banyak bicara, dalam diam dan pikiran pun mereka terus belajar akan persiapan menikah itu. Mungkin, tidak mengeluarkan sepatah pendapat saat kami berkumpul itu bukan karena kosong, melainkan enggan membicarakan suatu konsep persiapan yang semestinya tiap-tiap orang punya caranya sendiri.

Like me, not like you, each people is unic, we are special🙂