Tags

, , , , , ,

Tanggal 3 Agustus 2011, kali pertama saya menginjakan kaki di Jakarta untuk sebuah amanah besar. Bekerja sebagai salah satu staf pelaksana di Gedung yang bertingkat 27 lantai. Tidak dinyana bahwa saya akan pernah berada sehari-hari dalam gedung tersebut. Melewati jejalanan besar Gatot Subroto yang sangat sibuk. Saya yang kecil makin merasa kecil di antara gedung-gedung yang menjulang itu.

Saya saat itu sedang mempersiapkan akad nikah dengan Mas Priyayi Muslim yang saat itu pun baru saja pindah kantor diangkat sebagai Account Representative di KPP Pratama Manado. Sejak saat itu, dengan status saya sebagai pengantin baru memulai sekolah kehidupan yang nyata di Ibu Kota Jayakarta.

Awalnya, saya sangat merasa bersedih karena merasa tidak cocok dengan ibu kota yang cadas ini. Tidak pas untuk jiwa saya yang mellow dan lemah. Nyaris, apa yang saya lihat bisa saja membuat air mata ini menetes. Apalagi Jakarta, dengan segenap ketimpangan jurang sosial yang ada.

Terlebih saat itu adalah bulan Puasa, harapan bahwa akan menunaikan ibadah Ramadhan bersama keluarga di Purwokerto sambil membantu persiapan pernikahan menjadi sebuah kekecewaan sendiri yang terpendam saja. Baiklaah🙂

but This story is Starting…

Sampai suatu kali menjelang dua tahun ini kami LDM, saya berpikir bahwa memang inilah sekolah saya di Universitas Nyata Jakarta. ^^, suasana kantor pusat sebuah instansi vertikal yang berintensitas pekerjaan tinggi, tuntutan sebagai pihak yang berada di kantor pusat harus lebih mengetahui peraturan perpajakan dan siap ditanya oleh unit vertikal yang lain. Selain itu, pulang pergi ke berbagai daerah dalam rangka menunaikan visi misi institusi.

Suasana perjalanan yang berikon macet, panas, keras, sabar, banjir, padat, kendaraan besar-besar hingga kondisi kampung Jakarta di pesisir gedung-gedung bertingkat. Dimana kita akan melihat kampung laiknya di antara kemegahan gedung pencakar langit. Yeah, its my lectures!

Terkadang, masih ada rasa sesal yang kembali hadir karena harus berada dalam fase LDM Jakarta-Manado dengan mas Priyayi Muslim paling tidak hampir dua tahun ini, tetapi, Nikmat Allah mana lagi yang akan kami dustakan? Jakarta justru membuat saya lebih khusus belajar, dari pribadi pipit setidaknya menjadi pribadi merpati meski belum menjadi setegar pribadi Elang.

Oh ya, maka harus terbiasa kemana-mana dan ngapain ya sendiri. Tidak sepenuhnya dapat mengajak atau mengandalkan teman karena saya sendiri merasa tidak enak. Pergi ke kantor seringnya sendiri, pulang sampai malam pun sendiri.  Pulang pergi mudik ke Purwokerto sendiri, hingga pernah duduk menunggu pagi saja di dalam stasiun, sendiri. Bolak-balik ke bandara untuk menerbangkan diri ke Pulau Celebes menjumpai kekasih atau dalam rangka Dinas Luar sambil membawa bagasi yang rempong ya sendiri saja. Pergi mengaji, berobat, berfitness ria😀, terapi, belajar bahasa Arab, ambil kulakan jualan, sampai belanja bulanan sendiri. Yang saya bawa sampai mungkin maksimal 20 kg sambil naik turun tangga busway, keluar masuk metromini, hufh. Yang saya kuat-kuatkan, ini saya masih bawa barang yang diam, kalau saya bawa anak yang rewel, apatah saya mesti lebih kuat dan sekarang saatnya belajar, gumaman saya ^^.

Selain itu, saya pernah kehilangan dompet, kartu identitas, kartu ATM sudah tiga kali. Masuk kantor polisi sampai dikira anak SMP yang kehilangan barang pun pernah,😀, saya imut ya Pak Polisi? Sampai-sampai saat mondar-mandirnya jadwal saya ke warung makan sudah bilang mau ngutang dulu karena tidak cukup uang di dompet. Ah bahagianya ya, bila apapun yang terjadi yang dinomorsatukan tetap syukur dan shabar🙂

Maka rasa kekangenan yang menyala dan membara beradu keras dengan peluh keringat dan air mata rembesan di dasar hati ini. tertatih tatih melahirkan serpihan kesabaran dan lautan syukur. Hingga sekuat mungkin mengurangi keluh dan celaan pada keadaan. Mas Priyayi Muslim yang banyak mengajarkan saya bahkan rela berdiam diri terhadap istrinya ini yang sudah mulai ngeluh-ngeluh, mewek-mewek karena semata-mata ingin saya jadi baik :’)

Jakarta, saya akan selalu mengenangmu, meski tidak naif diri ini untuk sampai mengingkari titah Ilahi jika suatu saat mampir ke sana lagi, tentunya bersama Mas Priyayi. Namun saja, kami cukupkan untuk tidak banyak bergaul denganmu karena sesungguhnya kami mengaku adalah pribadi-pribadi yang tidak cukup kuat untuk berpentas di dalam pelukanmu yang keras, Jakarta.

Setidaknya, saya tidak lagi mudah menangis kini dan mudah bahagia🙂 Alhamdulillah

danbo bahagia