Tags

, , , , , , , , , ,

Assalamualaykum, menyapa kembali ^^,

alhamdulillah kini sudah berada di bulan Maret Merindu

Saya mau cerita-cerita tentang pertemuan kami pada bulan ini. Alhamdulillah, di awal bulan ini, saya dan rekan-rekan di kantor sedang merencanakan acara Forum Komunikasi Penagihan 2013. Tak disangka, ternyata salah satu pilihan tempat acara jatuh di kota Manado Merindu😉. padahal pekan sebelumnya masih menjadwal di kota Makassar untuk mengantarkan teman saya Wahyu, hehe

Oke, mari kita Fokus ke Manado, \^0^/, allahumma aamiin, #saya sangat berharap semoga tidak ada rintangan sehingga pelaksanaan di bulan April nanti memang jadi di Manado. Maka, pekan berikutnya sudah bersiap untuk melakukan survey ke Manado. Alhamdulillah!!! Yeayyy!! Kami jadi bisa menghemat anggaran pribadi. Rencananya Mas Priyayi Muslim yang akan ke Jakarta karena bulan Februari saya sudah ke Manado.

Hari Selasa (5/3) mas masih menanyakan apakah jadi beliau ke Jakarta, terus terang saya yang sedikit galau kalau mas yang akan ke Jakarta akhir pekan itu. Saya jawab, kita tunggu besok ya mas insya Allah. Maka Rabu pun menyapa dan sudah ada perbincangan bahwa pekan depan saya dan salah satu teman kantor akan survey. :-)  Saya pun menawarkan untuk mulai survey hari Rabu tanggal 13 Maret 2013 yang setelah ada tanggal merah. Jadi bisa berangkat senin malam karena selasa sudah libur tanggal merah. Baik, beginilah rencana manusia.

Mulai Kamis malam, mas Priyayi menanyakan kapan saya jadinya ke Manado, Senin malam, insya Allah! Hari Jumat ternyata kembali menanyakan hal yang sama, Tumben! batin saya. Tidak sama sekali biasa mas menanyakan kapan saya datang ke Manado sampai tiga kali. Ternyata mas sudah demam tinggi mulai Kamis bahkan sampai tidak aktif di kantor selama Kamis dan Jumat. Subhanallah >,<, maka secepat kilat saya kontak agen tiket untuk mereschedule jadwal penerbangan saya. Alhamdulillah masih bisa reschedule akan tetapi tidak untuk Sabtu besoknya. Ada untuk penerbangan ekonomi Garuda hari Ahad pagi.

Oke siap!

Sabtu pagi saya berada di bus Trans Jakarta saat itu, memonitor selalu keadaan suami tersayang. Subhanallah, ternyata Mas Priyayi sudah lemah sekali untuk bangun dari tempat tidur. Jadi sampai menjelang siang pun belum bisa sarapan😥

Saya menyarankan mas untuk mengkontak teman-temannya. Alhamdulillah sudah ada yang bersedia. Namn ternyata yang sangat ditunggu kedatangannya tak kunjung segera. Baru menjelang pukul 11.30 an teman mas datang. T.T …setelah itu ternyata tidak menemani mas sampai sore gitu. Hufh, baiklah kami maklum, laki-laki bujangan, hehe

Saya benar-benar ingin segera terbang ke Manado, untuk sekuat tenaga merawat suami tercinta. Maka saya adem-ademin mas Priyayi via wasap,😉

Akhirnya, hari penerbangan yang dinanti tiba, ahad pagi pagi sekali saya sudah dijemput taxiku kuning di depan Wisma Jasmine. Saya berusaha menikmati penerbangan ini agar tidak stres dan mumpung naik pesawat Garuda yang mendapat fasilitas lebih. Maka ada hiburan deh, alhamdulillah. Apalagi penerbangan ini melalui Makassar yang mana waktu tempuh jadi jauh lebih lama.

Dan inilah pertama kalinya saya turun dari pesawat tanpa ada senyum yang telah menanti. Oh, suamiku sayang, I miss youuu…Jadilah saya naik taksi Kokapura menuju kost suami di Jalan Betheda Manado. Akhirnyaaa, sampai membuka pintu kamarnya, saya langsung tersenyum lebar. Kutatap juga wajahnya yang merindu. Tapi saya peluk dulu lemari es baru yang dibeli mas pekan sebelumnya sebagai kejutan untuk saya, alhamdulillah😉

Perawatan pun dimulai…jujur saya bingung harus mengapainkan suami saya yang lemah, panas terbakar, tetapi merasa sangat kedinginan, dan dengan batuk yang berat. Kudekap hangat wajah dan badannya sambil terus kubaca Al Fatihah dalam hati sambil shalawat dan merapal, “Allah, sembuhkan suamiku!” hingga malamnya pun saya yang berada di sampingnya tak kuasa menahan keperihan karena batuknya yang teramat berat. Mas bilang terbakar terbakar panasnya. Maka tiap batuk pun saya bangkit dari tidur untuk memberikannya minum. Alhamdulillah, meski saya rasa tidak nyenyak tidur tapi saya merasakan cukup tidur sambil sering bangun. Mungkin karena kondisi capek badan di pesawat dari pukul 08.25 sd 14.30 .

Malam yang terbakar bagi mas Priyayi alhamdulillah sudah terlewati, datanglah hari senin. Kami sudah merencanakan untuk melakukan cek darah dan berbagai alternatif rumah sakit daerah. Setelah absen pagi di kantor, mas Priyayi memohon izin untuk periksa dan tidak stand by di kantor. Kami ke puskesmas di Kecamatan Sario, akhirnya dari sana kami mendapatkan saran untuk melakukan cek darah di Prodia.

Cek darah cepat selesai, hanya ngantrinya yang lama. Dan baru bisa mengambil hasilnya minimal dua jam setelahnya. Akhirnya kami pulang dulu dan istirahat. Sekitar pukul 14.00 WITA, saya sendiri yang mengambil hasil. Membaca sekilas dan kemudian mengamati satu persatu maksud dari hasil cek darah tersebut, dahi saya berkerut, maksudnya apaa iniii?

Akhirnya ada petugas yang menjelaskan. Alhamdulillah, jadi posisi senin (11/3) yang jadi perhatian adalah trombosit mas Priyayi di angka 151, padahal untuk dikatakan vonis DB dan masuk rawat inap adalah 150. J artinya masih belum positif, karena trombosit turun bisa dari tifus atau yang lainnya. Mungkin mengarah ke tifus yang kambuh karena serangan berbagai infeksi, terlihat dari leukosit yang banyak tanda perhatiannya (*), juga ada pada keterangan LED (laju Endap Darah) yang sangat tinggi, 62, padahal normalnya 15 (kalau enggak salah ingat).

Saya pulang ke kost, saya kabarkan pada suami. Dan kami bersiap untuk ke dokter yang banyak disarankan petugas puskesmas di sana. Kami sampai sana sudah mendekati ashar dan terpampang di pengumuman bahwa praktik dokter pukul 16.00-18.00 WITA. Mas memutuskan untuk menunggu sambil shalat ashar dulu di seberang jalan kebetulan ada masjid Korem.

Lama dinanti bahkan sampai kami sering terganggu dengan kehadiran anjing-anjing.😦 sampai suami tiduran di kursi panjang dengan sandaran saya. Praktik tak kunjung buka. Kegalauan kami sedikit hilang ketika ada pasien lain yang datang dan menunggu. Tetapi, sampai beberapa belas menit kemudian sampai tidak terlihat tanda-tanda mau buka klinik. Kami bertanya pada pasien lain dimanakah kira-kira ada praktik dokter di sekitarnya. Dijawab ada di praktek dokter bersama Kimia Farma.

Sampailah kami ke dokter tersebut, sekilas ketika dijelaskan keluhankeluhan suami dan membaca hasil cek darah, dokter tersebut sekilas bingung. Jadi menyarankan lagi untuk cek malaria, *astaghfirullah, rintihku T.T, benar benar terdengar menyeramkan nama penyakit itu. Dokter dan asisten juga mennyarankan rawat inap saja di RS. Tetapi mas Priyayi yang keberatan karena kasihan pada saya yang akan kerepotan nantinya.

Baiklah, kami sudah mempunyai banyak rencana untuk besok yang kebetulan hari libur. Opsi terakhir adalah hubungi UGD apabila demam mas tidak kunjung turun. Sore ini dihabiskan dengan cek malaria saja. Malamnya saya datang lagi sendiri ke Prodia mengambil hasil. Alhamdulillah, segera saja ingin pulang dan memeluk mas Priyayi, hasilnya negatif malaria. Dan senin malam itu kami lewati dengan lebih dramatis, mas minta dikompres di dahi, mata, sampai ke leher, tangan, dan kaki.

Syafakallah, suamiku sayang <3<3<3

priyayi blangkon

Alhamdulillah, setelah senin malam itu berangsur-angsur demamnya mulai turun. Kami lega karena tidak perlu ke UGD apalagi sampai rawat inap.

Kami bersyukur pada-Mu, Allah, telah memberikan kami kesempatan untuk sama-sama berjuang mendulang banyak sekali hikmah selama sepekan di Manado kemarin dengan posisi suami sakit, Semoga menjadi penggugur dosa-dosa Mas Priyayi Muslim dan kami sekeluarga dimudahkan urusan setelahnya dan disampaikan ke hal yang jauh lebih baik. Aamiin

#Mohon kumpulkan kami, ya Allah🙂
allahumma aamiin

*Oh yaa, sebagai info, Sabtu (15/3) kami cek darah lagi, alhamdulillah ^^ luar biasa, trombosit mas Priyayi naik dua kali lipat, ada di angka 327, LED nya juga sudah berkurang di kisaran 20-30, saya lupa tepatnya, hehe, baarakallahu fiikum ya habibiy🙂