Tags

, , , , , , , ,

Sebuah Rasa yang Menghilang (Antara Aku dan Diriku)

Apr 27, ’11 11:56 PM
untuk semuanya

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Sebuah Rasa yang Menghilang (Antara Aku dan Diriku)

Pada suatu hari, sejenak aku duduk, mengistirahatkan loncatan-loncatan syaraf ini yang telah lama menegang. Kemudian, pelan-pelan terbisik sesuatu di dalam jenak dan bertanya pada diri ini sendiri…

Mengapa akhir-akhir ini, aku merasakan suasana yang selalu mendung?

Padahal di balik awan itu, matahari masih benderang dengan kemilaunya….

Mengapa akhir-akhir ini, aku merasakan dada yang begitu sempit dan menyesak?

Padahal bumi ini luas, hamparannya sampai merapat cakrawala…

Mengapa akhir-akhir ini, aku merasakan ruang yang begitu kelam?

Padahal embun telah menetes dari dedaunan, fajar telah menyingsing….

 cermin diri

Baru hari ini aku merasakan itu, pada usiaku yang telah menginjak kepala dua.

Apakah diri ini yang sudah menjadi begitu pintar? Sehingga bisa menunjuk ini salah dan itu salah. Apakah diri ini yang terlewat sombong? Sehingga dapat mengecap ini tidak tepat dan itu kurang pas. Bahkan hari ini, sang diri pun telah mulai berani menggugat keadilan Tuhannya….

Sesungguhnya, tidak!  (jerit lubuk hati ini)

Melambatkan tarikan nafas yang mendesah di hidung ini, mencoba jujur dan mengakui bahwa…

Hanya saja, baru hari ini, sang diri merasa teramat rapuh

Baru merasakan, amat kufurnya diri ini akan limpahan ruah nikmat Tuhannya.

Maka aku, jadi bertanya pada sang diri ini, Kemana saja engkau selama dua puluh tahun ini?

Berani benar engkau merasa Tuhan tak adil padamu. Bukankah selama dua puluh tahun ini, Dia telah mencukupi segala kehidupanmu? Bahkan pada banyak hal yang selama dua puluh tahun ini, pun tak pernah kau minta.

Ingatlah, apakah pernah sekalipun kau meminta dilahirkan dari seorang ibu, wanita mulia yang amat penyayang itu padamu?

Ingatlah, apakah pernah sekalipun kau meminta dilindungi oleh seorang lelaki kokoh dan baik hati laiknya Bapakmu kini?

Ingatlah, apakah pernah sekalipun kau meminta diciptakan dengan bentuk yang paling sempurna seperti saat ini?

Bukankah engkau tak pernah bermunajat hal ini pada Tuhanmu? Sekalipun!

Maka, renungkanlah! Bahwa Dia telah mencukupi segalanya hingga usiamu yang berkepala dua ini. Oleh karena itu, wahai diri, mengapa engkau sampai hati menuntut kebijaksanaan Tuhanmu sekarang?

Apa sekadar karena baru kali ini kau tak mendapatkan apa yang tercumbu oleh hawa nafsumu? Hina dan nista sekali, engkau, wahai diri yang bodoh!

Berpikirlah dengan jernih, wahai diri…

Bukankah dengan ujian yang menghempas pantai hatimu kini, Tuhanmu sedang berkenan

Mendekatkan hubungan-Nya dengan mu yang masih jauh?

Memperpendek jarak-Nya dengan hatimu yang masih panjang?

Mensucikan jiwa mu yang penuh kalut dan kotor?

Atau menyentuh batinmu yang masih gersang dalam mengingat-Nya?

Wahai diri yang baik hati, berdamailah dengan aku sekarang. Mari rukuk dan sujudkan hati kita pada-Nya semata. Ingatlah akan nikmat Tuhanmu yang maha sempurna menciptakan dirimu. Bukankah dulu, engkau hanya setetes mani yang ditumpahkan ke dalam rahim?

Allah Swt. Tuhanmu lah yang telah berkehendak meniupkan ruh pada jasadmu. Saat itu, engkau masih berupa segumpal darah berusia 120 hari. Kemudian Allah menciptakan, menyempurnakan, dan memperbagus keadaanmu.

Mohon ampunlah pada-Nya karena sempat terlintas tuntutanmu kepada-Nya

Berbaiksangkalah pada-Nya karena sempat terpetik gugatanmu kepada-Nya

….dan tiba-tiba, aku terbangun dari lamunanku

[tulisan ini untuk menyapa pada multiply yang telah sekian lama (karena terlalu lambat diakses proxy 77)]

Kata kunci: tafakur

14 komentar