Tags

, , ,

danbo hati lapang

Yang namanya manusia hidup di alam dunia ini, pasti ketemu berbagai permasalahan. Betul kan ya?๐Ÿ˜› Baik, mari kita sebut bukan sebagai permasalahan, tetapi pembelajaran. Semakin bertambahnya usia seorang anak adam, insya Allah pembelajaran yang dihadapinya pun kian kompleks.

Saya pun sangat merasakannya, mulai saat tingkat akhir sekolah menengah atas yang mana bersiap ke perguruan tinggi. Saat itu saya sebenarnya belum paham benar, apa sih sebenarnya maunya? Masih saja melihat posisi yang dianggap baik adalah yang terkesan prestisius di mata masyarakat umum. Akhirnya, saya pun memasuki kuliah kedokteran di salah satu universitas negeri di Yogyakarta. Baru merasakan suasana baru di sana, jalan kemudian berbelok dengan bimbingan Bapak dan Ibu untuk membawa saya mengenal kampus Jurang Mangu.

Iya, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Saya bangga menjadi alumnus STAN, insya Allah semua rekan saya juga bangga. Kampus tercinta yang cukup hanya tiga tahun menempa kami. Menempa dalam segala hal dan yang paling saya syukuri adalah berkenalannya saya dengan dunia yang jauh lebih indah, Islam yang makin saya sayang. Alhamdulillah!

Setelah lulus kuliah, maka berikutnya adalah memasuki usia siap menikah๐Ÿ˜€

Maka saya pun kembali mendapat pembelajaran yang sungguh membawa akselerasi pendewasaan pada pribadi ini. Saya berusaha betul mengenali jalan takdir yang telah digariskan Allah Swt pada sesosok laki-laki. Bahkan jauh sebelum saya dan dia diciptakan, maka Allah Azza wa Jalla telah menulis dengan kokoh pada lembaran Lauhul Mahfuz bahwa dialah jodoh dunia dan akhirat saya. Allahumma aamiin, cc: Priyayi Muslim ^^

Hingga membawa saya pada perasaan cinta kasih yang teramat tulus didatangkan pada hati oleh Ar Rahman wa Ar Rohim, serta dikuatkannya semakin hari rasa yang penuh menjadi istrinya. Padahal amat jaranglah kami bertemu sehari-hari. Tapi perasaan itu dapatlah semakin tumbuh, alhamdulillah.

Maka kini, di begitu banyak persimpangan pembelajaran rumah tangga kami, tergambar bahwasanya saya ingin mendampingi suami saja di Manado.

Bagaimana dengan pekerjaan saya di Jakarta?? Sejatinya, alangkah teramat baik bila bapak dan ibu pimpinan dapat lebih bijak menyikapi pegawainya ini. Saya yakin, bukanlah penyebab saya mutasi ke Manado mengikuti suami yang belum genap saya dua tahun mengabdi di kantor Jakarta ini atau malah dua tahun sejak diangkatnya saya sebagai PNS. Melainkan, saya meyakini, bahwa keangkuhan kita untuk mengakui bahwa kebijakan Allah lah yang paling tentram.

Bagaimanapun, fitrahnya adalah rumah tangga itu berkumpul. Maka jika ada kekuasaan untuk memudahkan, mengapa harus dipersulit? In My Humble Opinion, so sorry before.๐Ÿ™‚

Kini terbayang bahwa saya yang mundur saja, tak kuat menghadapi ini lama-lama, insya Allah bersiap untuk menempuh jalan keshabaran yang lain, insya Allah.

Sekelumit asa buruk menghantui, bagaimana kalau begini nanti atau malah begitu. Hufh, saya semakin berat, jika terus saja memikirkan banyak hal. Jadi, cukup pikirkan dan putuskan, just FOCUS, insya Allah Dia yang Maha Berkehendak dan Berkuasa, biarlah Allah yang akan terus memimpin kami. Tugas saya adalah kembali menajamkan nurani untuk mengenali apa yang paling Allah mau untuk kami. Cukup itu dan belum perlu memikirkan yang lain. Karena kita pun belum tentu ada jika saat masanya apa yang dibayang-bayangkan.๐Ÿ™‚

Lets Make it be Simple J Focus!, bismillah, biidznillah, Laa Haula wa Laa Quwwata Illaa Billah

ย