Tags

, , , ,

Belajar Mencintai Semulia Fathimah

Feb 14, ’11 2:52 AM
untuk semuanya

Bismillaahirahmaanirrahiim,

Belajar Mencintai Semulia Fathimah

loves

Mungkin memang bernilai kebenaran, bahwa “Cinta sejati adalah jauh dari nafsu,” lanjut akhuna Salim A Fillah dalam bukunya Jalan Cinta Para Pejuang, “Sehingga ianya mengajarkan keikhlasan, pengorbanan, dan keberanian.“

Dalam bahasan “Mencintai Sejantan Ali” yang terangkum dalam bukunya tersebut, dikisahkan bahwa cinta yang tumbuh secara rahasia di hati Sayidina Ali, hingga memenuhi langit-langit hatinya tersebut pada Dewi Fatimah, telah diejawantahkan dalam tiga sikap membumi di atas. Yaitu keikhlasan, pengorbanan, dan keberanian. Kita saksikan bahwa saat cinta Ali bin Abi Thalib diuji oleh kedatangan Abu Bakar dan Umar meminang Fathimah, Ali pun meridhoi. Ali lebih mengutamakan Abu Bakar dan Umar atas dirinya dan jauh mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintanya yang terpendam.

“Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian atau pengorbanan.”

Sebagai seorang perempuan, dalam hati ini saya juga terhanyut saat menyelami lebih dalam jalan “cinta” Fatimah. Salah satu dari empat wanita yang dimuliakan Allah dan menempati tempat mulia dalam surga, yaitu Khadijah Al Kubra, Asiyah ra, Siti Maryam, dan Fatimah, telah mengajarkan pada kita, bagaimana ia menjaga kesucian perasaannya, bagaimana ia mempertahankan kekokohan cintanya, dan bagaimana ia mewujudkan rasa cintanya itu pada Ali, karib kecilnya.

Hingga diriwayatkan bahwa syetan pun tak sampai tahu gelombang cintanya yang terlampau ghaib tersebut. Justru Fathimah menyandarkan rasa cintanya yang timbul secara alami itu dan menetapi sunnatullah dengan ikhtiar dan tawakal pada ketentuan Allah jua, yang turun melalui keputusan ayahandanya sendiri, baginda Rasulullah Saw.

Apabila Allah Swt. menghendaki meluluskan keperluan hamba-Nya atau menurunkan rahmat pemberian bagi hamba-Nya, maka pasti akan diterima hamba tersebut dan tak seorang makhluk pun dapat menahannya. Demikian pula apabila Allah bermaksud menahan pemberian-Nya kepada seorang hamba, maka pastilah itu terjadi, siapapun tidak akan mampun meniadakan kehendak Allah itu.

Siapa yang kuasa menolak pinangan kekasih Nabi, Abu Bakar Ash Shidieq, yang kisahnya dengan Rasul terabadikan dalam Alquran, lalu siapa pula yang kuasa menolak pinangan Umar Al Faruq, yang jika saja ada Nabi setelah Rasul, maka dianya adalah Umar. Fathimah telah menyiapkan dirinya memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya. Dewi Fathimah menuntaskan dan menyempurnakan rasa cintanya pada Ali dengan berserah pada keputusan Rasulullah. Semestinya boleh saja, ia menyampaikan rasa cintanya tersebut pada sang ayahanda. Bukankah ibundanya sendiri, Khadijah Al Kubra, telah memberikan teladan seorang perempuan yang berani menawarkan diri pada seorang laki-laki shalih?

Fathimah, pemimpin kaum wanita di hari akhirat nanti telah mengambil sikap cintanya dengan mengembalikan rasa cinta tersebut pada Allah. Andai saja, salah satu pinangan Abu Bakar dan Umar diterima, maka Fathimah pun telah bersiap untuk taat dan ridho atas ketentuan Allah.

Maka dari manusia-manusia mulia tersebut kita belajar bahwa cinta dan kecenderungan akan lebih bernilai utama saat dibingkai dengan mendahulukan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Ahmad Muhammad Jamal dalam bukunya Sisi-sisi Keagungan Wanita: Episode Kehidupan Para Muslimah Teladan yang dalam judul aslinya adlah Karaa’imun Nisaa’ menjelaskan bahwa sebenarnya pernikahan Dewi Fathimah dengan Ali adalah berdasarkan perintah Allah Swt., sebagaimana diungkapkan dalam sebuah khotbah Rasulullah yang, setelah memuji Allah, mengatakan, “Allah telah memerintahkan kepadaku untuk menikahkan Fatimah dengan Ali. Maka, Aku persaksikan kepada kalian bahwa aku menikahkan Fathimah dan Ali dengan mahar empat ratus gram perak jika ia (Ali), bersedia untuk menjalankan sunnah yang telah ditegakkan dan kewajiban yang telah diwajibkan. Semoga Allah mengumpulkan yang berserakan dari keduanya, memberkahi mereka, memperbaiki keturunannya, dan keturunan mereka dijadikan sebagai pembuka rahmat, hikmah, dan kesejahteraan umat.”

Ali lalu berkata, “Saya rela menerimanya wahai Rasulullah.” Ia lalu bersujud seraya bersyukur kepada Allah. Begitu ia mengangkat kepalanya, Rasulullah Saw. berkata,“Semoga Allah memberkahi kalian berdua, membahagiakan kedua moyang kalian, serta melimpahi keturunan yang banyak lagi baik kepada kalian.”

Jadi, menurut saya, cinta bukanlah satu-satunya hujjah ataupun argumentasi dalam masalah ini. Rasulullah senantiasa berada dalam bimbingan wahyu dan terjaga segala ucapan, perbuatan, dan keputusannya. Allah yang telah menentukan dan menetapkannya bagi kehidupan manusia. Fathimah dan Ali dipertemukan dalam pernikahan yang barokah dan menyempurnakan rasa cinta keduanya yang terpendam dalam sanubari masing-masing. Maka wilayah kerja kita adalah berprasangka baik akan segala takdir-Nya karena posisi manusia berada di antara ikhtiar dengan qada dan qadar Allah.

Kita berlomba mengejar takdir dengan ikhtiar dan doa. Melainkah hanya Allah yang Maha Mengetahui nasib manusia dan menentukan hasilnya. Apa yang diperoleh manusia setelah ikhtiar dan berdoa itulah takdir yang sebenarnya. Sehingga sekali lagi, kita belajar dari manusia-manusia mulia bahwa cinta sejati adalah milik yang Maha Mempunyai Cinta. Didasarkan pada hadits dari Fathimah binti Qais Al Masyhur, bahwa Rasulullah pernah bertanya kepadanya: “Siapa laki-laki yang melamarmu? Ia menjawab Mu’awiyah dam seorang laki-laki lain dari kaum Quraisy. Mu’awiyah adalah salah seorang remaja Quraisy yang tidak mempunyai kelebihan apa-apa. Sedangkan laki-laki yang lain itu pelaku kejahatan yang tidak ada kebaikan padanya. Maka nikahilah Usamah. “Aku tidak menyukainya,” jawab Fathimah. Beliau mengatakan hal itu tiga kali dan ia pun menikahinya.

Ketaatan bunda Zainab binti Jahsy atas perintah Rasulullah hingga bersikeras menumbuhkan cinta di hati yang gersang, menggariskan bahwa cinta dan taat pada Allah dan Rasul-Nya jauh lebih utama. “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sunggulah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS AL Ahzab: 36).

Merinding saya membaca firman Allah di atas, namun Bunda Zainab telah meneguhkan dirinya sebagai potret muslimah teladan yang memuarakan cintanya pada Allah di atas segalanya. Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Nabi Saw. melamar Zainab untuk Zaid (anak angkat beliau) tetapi Zainab mengira bahwa Rasulullah melamar untuk dirinya sendiri. Ketika Zainab tahu bahwa Rasulullah melamar untuk Zaid, ia menolaknya. Sedangkan dalam riwayat lain dikemukakan bahwa Nabi Saw. melamar Zainab Binti Jahsy untuk Zaid bin Haritsah, akan tetapi Zainab menolaknya dan berkata, “Keturunanku lebih mulia daripadanya.” Ayat di atas turun untuk menetapkan larangan bagi kaum mukminin menolak ketetapan Rasulnya. Setelah turun ayat tersebut, Zainab pun menerima lamaran itu.

Kata kunci: kisah

4 komentar