Tags

, , , , , , , , ,

wanita gurun

Sesuai dengan nama yang dipakai blog ini, dua september 2011, yang bertepatan dengan tanggal akad pernikahan kami, maka semenjak hari itu smp detik ini, tanggal 18 Februari 2013 adalah umur pernikahan kami. Maka sesuai itu pulalah kami sudah menjalani Long Distance Marriage. Maka bagaimana kah perasaan saya sehari-hari menjalaninya?

🙂

sungguh saya kurang cakap membahasakan dengan detil seperti apakah suasana hati saya menelan rindu yang tertunda pada mas Priyayi muslim setiap harinya. Oleh karena itu, saya nukilkan dari buku Episode-episode Kemenangan Sejati, yang berjudul asli Qishosun min Al Tarikh, karya Syaikh Ali Ath-Thonthowi. Di dalamnya terdapat beberapa untaian kisah klasik yang dibahasakan sangat indah oleh Syaikh Ali. Mungkin jika kita baca dalam teks asli bahasa arabnya, akan lebih menawan lagi.😉

Berikut ini, salah satu kisahnya yang sedikit banyak menggambarkan bagaimana seorang perempuan yang ditinggal suaminya untuk menunaikan tugas mulia ke negeri seberang. Kisah ini berjudul Tiga Puluh Ribu Dinar, yang menceritakan antara Suhailah dan suaminya Farukh.

…adalah Aminah teman akrab Suhailah di masa kecil dan yang paling dicintainya dan satu-satunya yang dititipi rahasianya. “Suatu hari aku lewat di mukanya, sungguh kasihan nasib Suhailah, ia sekarang sudah mengurung diri di sudut rumahnya sambil merenung, seakan di dadanya ada api yang sedang berkobar membakar hatinya, lalu kucoba menyapanya, ia pun memandangiku dan dengan sorot matanya yang aneh, kosong, seakan tidak melihat apa-apa. ….lalu aku bercerita tentang Farukh, tiba-tiba tubuhnya gemetar, wajahnya memucat, aku paham ia suka cerita Farukh, karena bisa mengingatkannya pada kenangan indahnya dan gema pikirannya, tapi kemudia ia tersentak dari ceriat Farukh karena mengingatkannya pada derita hatinya,…”

Suhailah telah jatuh cinta begitu dalam kepada suaminya dan ia sendiri tak mengerti. Beberapa bulan kemudian ia merasakan kehamilan yang menambah pedih hatinya, maka ia bertekad untuk lari dari manusia dan menjauh dari teman-temannya, tapi sikapnya ini justru makin kian menambah kepedihannya.

Suhailah menoleh ke arah timur nan jauh, menunggu berita suaminya tercinta sambil menghibur hatinya. Setiap ada orang lewat pagi dan sore, Suhailah selalu menanyakan tentang Farukh suaminya itu tapi tak juga memperoleh berita yang jelas. Maka bertanyalah ia kepada bulan kalau sekiranya melihat suaminya, juga kepada matahari di kala terbit barangkali tahu beritanya, bahkan ia kirim salam lewat angin.

Suhailah tidak bisa tidur nyenyak, makanpun tak enak leh rindunya kepada suaminya itu. Pikirannya semakin panik dan hampir saja ia stres. Tidak ada lagi teman yang memperhatikannya, hanya da satu jalan baginya agar selamat hidupnya, yaitu memohon petunjuk dan nasihat kepada tokoh sahabat Rasul  dan para ulama tabi’in yang bisa memberikan petunjuk dan bimbingan guna mengobati luka hatinya.

Tidak ada yang dapat menundukkan cinta kecuali agama, dan tidak ada yang bisa menenangkan jiwa pecinta dan menghiburnya kecuali kepasrahan kepada Allah dengan niat yang jujur dan iman yang mantap. Dengan pasrah kepada Allah Suhailah mendapat ketenangan hidup.

Maka, saya pun bertanya pada rembulan di kala malamnya Manado, semoga malam yang hangat menjadi teman terbaik kekasihku.

Pun bertanya kepada matahari bumi nyiur melambai itu, semoga kesejukannya adalah ruang yang nyaman bagi mas Priyayi

Dan mengabarkan pada angin, semoga cintaku ini terbang bersamanya hingga ujung utara pulau Celebes,

Allahumma aamiin.