Tags

,

Memang di sanalah singgasananya sang ratu perempuan. Sebuah rumah sederhana, tempat suami dan anak-anaknya berteduh. Kilau kemilau mahkotanya akan semakin terpancar dan menggelora dari relung-relung sudutnya. Ufuk pesonanya bertahta pendar dalam geliat pendidikan rumah tangga dan keluarganya. Maka siapa lagi yang tak ingin menjadi wanita seutuhnya saat sesaat demi sesaat Allah menyentuhkan benang-benang lembut takdir-Nya. Karena Allah sendiri yang telah mendekatkan setiap laki-laki pilihan pada sang wanita.

Tidak banyak yang bisa kita harapkan dalam mengarungi kehidupan ini selain waktu yang barokah dan akhir yang indah. Menatap kebesaran dan keindahan sang Mahakuasa selayaknya kita memandang rembulan yang terang benderang di malam hari. Tanpa batas dan tanpa penghalang. Subhanallah! Maka menuju jalan panjang yang terpatri pasti itu, maka sang wanita itu berharap usianya yang bermanfaat. Saat dirinya telah mulai tumbuh menjadi gadis perawan, lalu menjadi istri, beranjak menjadi ibu, hingga waktu dan nafas benar-benar habis berkesudahan.

Baginda Rasulullah Saw. Bersabda, “Semua hal yang di dalamnya tidak menyebut nama Allah Swt. adalah suatu kesia-siaan, kecuali dalam empat hal : seorang laki-laki yang sedang bermain dengan istrinya, melatih kuda, membidik di antara dua sasaran, serta mengajarkan berenang.”

Begitu indah dan mulia apa yang Allah titahkan dalam setiap seluk beluk penciptaan-Nya. Begitu pula interaksi antara laki-laki dan perempuan yang ditetapkannya dalam sebuah mahligai pernikahan. Sebuah hubungan yang paling tulus di antara keduanya. Bahkan Allah Swt. berkenan melanggengkan dan menjodohkan pasangan laki-laki dan perempuan ini di dalam istana syurga-Nya yang sangat indah menawan.

“Istri-istri kalian akan menjadi penghuni surga yang sangat mencintai, yang jika dia disakiti dan menyakiti maka dia segera datang kepada suaminya, dia letakkan tangannya di atas telapak tangan suaminya, seraya berucap, “Saya tidak dapat tidur sampai engkau meridhaiku.” (HR. Thabrani).

Saya, bukanlah siapa-siapa. Hanya seorang perempuan seperti kebanyakan lain yang memimpikan kebahagiaan dunia dan akhirat. Maka, disinilah saya berpijak, menjemput pernikahan abadi dan jalan lapang untuk mendulang ridho ilahi. Dengan lelaki pilihan-Nya, yang mungkin tak seutuhnya sempurna di mata dunia. Namun bagi Allah, dialah lelaki pilihan bagi wanita pilihan.

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji , dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik . Mereka  itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka . Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia  .

(QS An Nuur: 26)

Semoga risalah ini walaupun ringkas dapat bermanfaat bagi yang membacanya, sehingga mengalir pula kebaikan bagi siapapun yang terlibat di dalamnya. Pernikahan dalam Islam, adalah sederhana namun sangat mulia. Allah dan Rasul-Nya tidak sampai kurang dalam menetapkan segala yang terbaik pada segala pelaksanaannya. Maka kebahagiaan besarlah bagi kita yang senantiasa berupaya merapat pada hukum Allah dan sunnah Rasul-Nya.

Demikian, mohon maaf yang setulus-tulusnya bila ada hal yang kurang berkenan. Kami, Dian Suci Lestari dan Priyo Kuncoro Jati, senantiasa mengharapkan doa-doa kebaikan dari saudara dan saudari shalih sekalian. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat, karunia, ridho, dan barakah-Nya bagi keluarga yang hendak kami bangun. Juga melimpahkannya bagi saudara dan saudari yang telah dengan tulus mendoakan kami. Allahumma aamiin.

Wallahu a’lam bis shawab.

Hormat kami,

Dian – Priyo

pkj-shoot

Akhwat kacamata