Tags

, , ,

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Lembayung senja menjemput rembulan yang merekah pada malam sunyi itu. Menemani sebuah kesederhanaan seorang lelaki asing mengetuk pintu rumah ku.  Dia yang datang dengan kesederhanaannya, tanpa membawa cinta, juga tanpa membawa benci. Hanya ada harap dan takut yang menggantung kokoh di langit-langit hatinya. Membawa sebuah keyakinan atas bunga tidurnya empat bulan silam. Kini, dia beradu pandang dengan Bapak dan masih saja terpaku dan menunduk sedalam-dalamnya. “Bapak, dia lelaki asing itu!” jeritku di kedalaman hati.

siluet-orang-nunduk-250x205

Dan aku pun mencari keinsyafan di tengah ruang galau yang mencekat selama ini. Belum genap rasanya sang jiwa ini setelah malam itu berlalu.

Kelahiran dan kematian seseorang manusia yang hakiki, pasti datangnya walaupun tidak kita pinta. Kita terlahir dari rahim seorang ibu, adalah rahmat Allah Azza wa Jalla jua, begitu pula dengan kematian. Dialah sesuatu yang kita benci, namun hakikatnya adalah suatu yang haq. Jalan kerinduan kita kembali pada-Nya. Namun menikah, adalah sebuah fase atau proses yang dilalui manusia dengan penuh sadar jaga dalam kehidupannya.

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya , dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata “

(QS Al An’am 59)

Semestinya Allah Swt. pun mengetahui segala sesuatu yang terjadi dan kelak akan terjadi pada sepanjang kehidupan kita. Namun, dengan kemahaadilan-Nya, Dia menitipkan selaksa pilihan, kehendak, dan kemampuan pada tiap-tiap hamba-Nya. Maka inilah titik ujian kita, “Dialah yang menciptakan kehidupan dan kematian,” firman Allah Swt dalam Surat Al Mulk ayat 2, “Untuk menguji siapakah yang beramal terbaik.” Maka kita tahu, bahwa Allah telah menggariskan takdir yang terbaik bagi kita. Namun, kita pun harus memilih, menghendaki, dan bergegas mampu dalam sebaik-baiknya amalan.

Dia, yang datang malam itu, benarkah yang akan menjadi imam dalam rumah tanggaku?

Dia kah, seorang laki-laki yang akan menebarkan benihnya dalam rahimku, untuk bersama membina sebuah keluarga?

Dia kah pendamping hidupku yang akan menemani dalam penantian sang ajal?

Dia kah, seorang suami untukku yang keridhoannya terletak kunci-kunci pintu syurgaku?

Duhai Allah, pada-Mu jua kuadukan segala kelemahan dan kerendahanku. Hanya kebulatan hati ini untuk ridho atas segala yang Engkau putuskan adalah yang paling kusukai. Maka sejak itulah diri ini mulai merapikan kembali serpih dan kepingan insyaf yang terserak. Membangun kembali kesadaran yang sejenak terbungkam.

“Kamu menyukainya?” tanya Bapak padaku setelah itu. Aku pun diam saja, bukan sebagai tanda persetujuan apalagi tanda pembangkangan. “Terserah padamu nak, suka atau tidak suka, Kamu yang akan menikah. Namun Bapak bersedia menikahkankannya denganmu. Bapak ridho atas agamanya.” Aku pun tersentak, mendengar untaian nasihat Bapak kala itu.

Bapak dan saudara laki-laki, hanya kepada merekalah selama ini tersibak segala yang kusembunyikan. Perlukah ada lelaki lain yang memandangnya? Padahal selama ini dia teramat asing bagiku.

Begitulah, sekiranya apa yang bergulat dalam hati seorang wanita menjelang keputusan besarnya dinikahi oleh seorang laki-laki. Selama ini dia dibesarkan dan dirawat sebaik-baiknya dalam penjagaan terbaik kebun keluarga. Bermanja-manja di pangkuan sang ayah maupun menangis sekerasnya dalam pelukan sang ibu. Akan tetapi, masa-masa kecil itu segera berlalu menahbiskannya menjadi seorang gadis yang mukallaf. Ada amanah, peran, dan tanggung jawab yang besar terpikul di balik segala sesuatu tentang keelokkannya.

Pelan-pelan dia menyadari, bahwa dirinya juga bagian dari madrasah peradaban ini. Cita-citanya yang mulia mengharap wajah pencipta-Nya, tidak mungkin kan dia dapat hanya dengan berpangku tangan. Maka dia pun harus bangkit, ikut ambil bagian dalam perlombaan amal-amal kebaikan. Hingga di ujung kesadarannya, maka setiap wanita akan insyaf, tak perlu ragu lagi untuk ikut berkancah dalam ladang kebaikan yang melimpah ini.