Tags

, , ,

mawar

Suami adalah manusia. Isteri adalah manusia. Keduanya merupakan sosok dengan kemanusiaan masing-masing yang tidak (belum) sempurna karena kemanusiaannya itu. Ketika salah satu menikahi yang lainnya, sangat mungkin ia mengharapkan pasangannya itu sempurna sifat-sifatnya. Namun, ini jarang sekali. Karena itu, dalam rumah tangga yang penuh cinta, harus ada penumbuhan dari keduanya untuk berkomitmen bersama menjadi diri dan pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

Ustadz Anis Matta berkata, “Pada mulanya, seorang wanita adalah kuncup yang tertutup. Ketika ia memasuki rumah Anda, memasuki wilayah kekuasaan Anda, menjadi isteri Anda, menjadi ibu anak-anak Anda, Anda-lah yang bertugas membuka kelopak kuncup itu, meniupnya perlahan, agar ia mekar menjadi bunga. Andalah yang harus menyirami bunga itu dengan air kebaikan, membuka semua pintu hati Anda baginya, agar ia dapat menikmati cahaya matahari yang akan memberinya gelora kehidupan. Hanya dengan kebaikanlah bunga-bunga bersemi, dan ungkapan ‘Aku cinta kamu’ boleh jadi akan kehilangan makna ketika ia dikelilingi perlakuan yang tidak simpatik dan mengembangkan. Apa yang harus Anda berikan kepada isteri Anda adalah peluang untuk berkembang, keberanian menyaksikan perkembangannya tanpa harus merasa superioritas Anda terganggu. Ini tidak berarti Anda harus memberi semua yang ia senangi, tetapi berikanlah apa yang ia butuhkan.

Tetapi, setiap perkembangan harus tetap berjalan dalam keseimbangan. Dan inilah fungsi perawatan dari rasa cinta. Tidak boleh ada perkembangan yang menggangu posisi dan komunikasi. Itulah sebabnya terkadang Anda perlu memotong sejumlah yang sudah kepanjangan agar tetap terlihat serasi dan harmoni.”[1]


[1] Biar Kuncupnya Mekar Jadi Bunga