Tags

, , , ,

Hakikatnya suami dan isteri mempunyai persamaan hak. Jika salah satu pihak diberi beban kewajiban tertentu, maka pihak yang lain akan diberikan kewajiban yang lain pula. Perbedaannya terletak pada kepemimpinan rumah tangga yang dipegang oleh para suami.

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”  (Al Baqarah: 228)

laki pemimpin perempuan

Az Zamakhsyari berkata, “Para suami mempunyai wewenang untuk menyuruh dan melarang para isteri sebagaimana pemerintah kepada rakyatnya. Oleh sebab itulah mereka disebut qawwam. … Hal itu dikarenakan Allah melebihkan sebagian mereka, yaitu pria, atas sebagian yang lain, yaitu wanita. Selain itu, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan diperoleh melalui keutamaan, bukan karena kemenangan, kezhaliman dan pemaksaan. Para ulama telah menyebutkan bahwa kelebihan pria dalam akal, ketegasan, kekuatan kehendak, kekuatan fisik, penulisan (biasanya), kemampuan menunggang kuda, dan keahlian memanah. Di samping itu, sebagian kaum pria ada yang diangkat menjadi nabi, pemimpin besar dan kecil, diperintahkan untuk berjihad, adzan, khutbah, memberikan kesaksian dalam pelaksanaan hukuman had, qishash, penambahan bagian serta ashabah dalam masalah warisan dan begitu seterusnya.”[1]

Asy Syaukani berkata bahwa kaum pria membela dan melindungi kaum wanita sebagaimana penguasa dan pemimpin membela serta melindungi rakyatnya. Kaum pria juga menjamin nafkah, pakaian dan tempat yang dibutuhkan mereka.

Ustadz Mahmud Abbas Al Aqqad berkata, “Saksi-saksi sejarah yang ada dan saksi realita saat ini yang tidak terhingga bukanlah satu-satunya fenomena yang menegaskan perbedaan antara dua jenis (laki-laki dan perempuan), sebab tidak diragukan bahwa tabiat jenis itu sendiri menjadi bukti yang lebih konkret daripada saksi sejarah dan realita data ini atas kepemimpinan yang dikhususkan kaum laki-laki.”

“Perasaan butuhnya isteri pada perlindungan suaminya,” kata Dr. August Forell, “Mempunyai pengaruh amat besar pada kecintaan suami kepadanya. Seorang isteri tidak akan menemukan kebahagiaan, kecuali dengan menghargai, memberi pujian, dan penghormatan kepada suaminya. Akan tetapi isteri juga harus melihat salah satu sifat ideal pada suaminya; kekuatan fisik, keberanian, pengorbanan, tidak egois, kecerdasan akal atau sifat-sifat terpuji lainnya. Bila tidak, maka pria akan terjerumus dalam kendali dan dominasi wanita atau keduanya akan dipisahkan oleh perasaan benci, dingin dan cuek.

Kepemimpinan wanita tidak akan memberikan kebahagiaan pada rumah tangga karena hal itu bertentangan dengan tabiat dasar yang mengharuskan pria memimpin wanita dengan akal, kecerdasan dan kekuatan kehendaknya agar wanita dapat juga mempengaruhi pria dengan hati, emosi, dan perasaaannya.”

Syaikh Asy Syanqithi mengatakan, “Maka hikmah Zat Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui menetapkan, bahwa bagian laki-laki dilebihkan dari bagian perempuan dengan satu sebab, yaitu karena laki-laki merupakan pihak yang selalu pengurangan dengan kewajiban memberi nafkah kepada isterinya, membayar mahar dan memenuhi segala kebutuhan sehari-hari. Sementara perempuan atau isteri merupakan pihak yang mendapat tambahan dengan menerima mahar dan nafkah dari suaminya. Inilah hikmah yang tampak jelas dari ketentuan syari’at itu, dimana pihak yang selalu mengalami pengurangan, lebih diutamakan bagiannya daripada pihak yang mendapatkan tambahan. Hikmah yang luhur ini tidak akan diingkari, kecuali oleh orang yang telah dibutakan mata hatinya oleh Allah dengan kekafiran dan kedurhakaan.”

Kemudian beliau berkata, “Berdasarkan hikmah-hikmah yang telah kami jelaskan inilah, Allah mengutamakan jenis kelamin laki-laki atas jenis kelamin perempuan dalam asal penciptaan dan tabiat pembawaan. Zat Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui telah menciptakan laki-laki sebagai pihak yang bertanggungjawab atas perempuan dalam segala kondisinya dan mengkhususkan baginya ar risalah (pengutusan), kenabian dan jabatan khilafah yang tidak dipunyai kaum perempuan. Dia juga memberikan kewenangan kepada laki-laki untuk menjatuhkan thalaq, menjadikannya wali dalam pernikahan, menetapkan hubungan nasab anak-anak pada dirinya dan bukan pada isterinya serta menjadikan persaksian seorang laki-laki dalam hal harta setara dengan persaksian dua orang perempuan.”[2]

Ustadz Ahmad Musa Salim berkata, “Kepemimpinan yang dimiliki laki-laki tidak lebih dari pengaturan kebutuhan pokok, usaha menyejahterakan keluarganya, melindunginya, dan memelihara setiap kemaslahatannya. Setelah musyawarah, dia berhak menentukan keputusan akhir, selagi tidak menyalahi akhirat atau mengingkari kema’rufan dan kebenaran, serta tidak condong pada kecerobohan dan keteledoran. Jika suami menyimpang, maka isteri berhak menyadarkannya dan tidak menerima pendapatnya. Dalam penolakannya itu, hendaklah isteri bersikap dengan benar di hadapan keluarganya dan keluarga suaminya atau lembaga masyarakat yang berwenang untuk melaksanakan hukum-hukum Allah.”[3]


[1] Kenalilah Isterimu

[2] ibid

[3] ibid